<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876</id><updated>2011-09-14T08:36:16.935-07:00</updated><title type='text'>Resensi i:boekoe</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-5764083721720043659</id><published>2009-04-18T19:23:00.000-07:00</published><updated>2009-04-18T19:35:44.624-07:00</updated><title type='text'>Wendo Bilang Ngarang Itu Gampang, Kataku TIDAK!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SeqMgYC5FSI/AAAAAAAAAWM/S7H99lnaD0s/s1600-h/Mengarang+Itu+Gampang.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SeqMgYC5FSI/AAAAAAAAAWM/S7H99lnaD0s/s200/Mengarang+Itu+Gampang.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326223997157315874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://bookforgood.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Diana AV Sasa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Mengarang Itu Gampang&lt;br /&gt;Penulis : Arswendo Atmowiloto&lt;br /&gt;Penerbit : PT Gramedia (1981-2001)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan hanya membaca. Kalau saat itu sudah mencoba mengarang, pasti lain halnya. Untuk yang terakhir ini saya percaya penuh. Cobalah mengarang sekarang juga, jangan menunggu dua puluh tahun lagi. Jangan menunggu dua hari lagi. Sekarang juga. Tutup buku ini, mulai.” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tulis Arswendo dalam pengantar edisi kedua buku Mengarang Itu Gampang yang sudah lebih dari 5 kali cetak ulang selama sepuluh tahun sejak 1981 hingga 2001.&lt;br /&gt;Paragraf terakhir Arswendo itu mendorong saya untuk terus memamah isi bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penulis pemula, kata-katanya cukup melecut untuk penasaran mengetahui trik dan resep apa yang dipunya seorang maestro agar menulis (baca: mengarang) bisa lebih mudah dan ciamik. Maka saya pun menekuni setiap bab pada buku itu dengan gairah yang menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu tak terlalu tebal. Hanya 118 halaman. Cukup ringan untuk sebuah buku panduan. Ditulis dengan teknik tanya jawab. Gaya bahasanya juga ringan dan bertutur meski materi bahasannya berat. Wendo tampaknya cukup mahir menjadikan yang berat jadi enteng, yang berkabut menjadi jernih dan terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada “tapinya”. Saya jadi jenuh saat memasuki lembaran tengah. Semangat dan gairah yang sejak awal saya sulut mendadak meredup dan menghentikan alur baca saya hingga hanya membaca sekilas lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal bab, Wendo mengajak pembaca untuk melihat alasan mengapa menurutnya mengarang itu gampang. Ada 4 pondasi yang diletakkannya untuk mengatakan menulis itu gampang. Pertama, harus bisa membaca dan menulis. Syarat ini tentu banyak yang bisa memenuhi, tak terlampau sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pondasi berikutnya adalah minat dan ambisi yang terus-menerus. Membaca dan menulis yang baik perlu latihan, perlu disiplin, perlu minat yang tak kunjung habis. Minat dan ambisi seperti juga rasa cinta, selalu ada, terus mengalir. Ini didasarkan pada kepercayaan diri, bahwa dengan mengarang kita melakukan sesuatu yang dicintai, dan kita percaya, ada Sesutu yang baik yang akan kita lakukan dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wendo benar tentang ini. Rasa cinta memang membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dan ringan dijalani. Jika sudah ada rasa cinta, maka langkah akan mengalir dengan sendirinya. Semangat ini menjadikan menulis terkesan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondasi sudah diletakkan. Wendo kemudian menuntun memahami bagaimana meramu sebuah ilham sehingga menjadi ide. Diperlukan dua hal yang bisa menjadi kompas: Untuk apa kamu menulis? Apa sebenarnya kemauanmu menulis? Di sinilah peran pandangan penulis terhadap sebuah ilham sangat menentukan. Pada bagian ini penulis bisa memilih ingin menggabung realitas dan imajinasi dengan porsi dan cara bagaimana. Sebagian atau keseluruhan, terserah penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide yang sudah ada itu hanya akan menjadi sebatas ide jika tak dituliskan. Maka segera saja mulai menulis. Jika belum siap, bisa diawali dengan membuat coretan tentang ide dasar yang ingin dikembangkan. Untuk itu diperlukan pengetahuan tambahan. Maka penulis harus mencari informasi pendukung idenya itu sehingga bahan yang akan diolah makin banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sepakat dengan Wendo. Di era internet ini, mencari bahan pendukung penulisan sudah bukan hal sulit. Cukup tanyakan Paman Google, dan segudang bahan akan tersedia. Hanya tinggal diperlukan kemahiran menguatak-atik bahan dan menyelipkan gagasan kita dalam rangkaian tulisan. Tugas seorang pengarang sebenarnya adalah menggabung-gabungkan hal yang sepertinya tak ada hubungannya menjadi saling terkait. Ini adalah seni menulis kreatif yang merupakan sikap dasar penulis. Kreatif menggabung-gabungkan, seperti menjahit kain perca hingga menjadi lembaran warna-warni yang cantik dan unik berirama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tahap ini saya masih cukup mengikuti alur buku ini. Memasuki bahasan berikutnya, saya mulai jenuh. Ini seperti mendapat pelajaran mengarang di sekolah. Beberapa macam jenis plot dipaparkan. Plot dengan ledakan, plot lembut, plot lembut meledak, plot terbuka, plot tertutup, sampai bagaimana mengembangkan plot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot yang sudah didapat, tulis Wendo, harus dikembangkan dengan mencari sebab agar mendapat kesimpulan akibat. Kemudian bagaimana plot ini dikunci dengan penutup dan akhir yang tepat. Selanjutnya diulas bagaimana menghadirkan tokoh, memilih tempat/lokasi cerita dan penggambarannya. Diakhir baru dibahas mengenai tema.&lt;br /&gt;Ini agak janggal, karena tema biasanya justru dibahas diawal sebagai sebuah bagian besar dari rentetan teori sebelumnya. Ini barangkali seperti teori paramida terbalik. Yang besar ada di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori yang coba disederhanakan dengan cara dialog ini memang menjadi terkesan ringan, namun tetap saja membuat kepala penuh teori yang mengesankan mengarang jadi berat dan susah karena banyak aturannya. Bagi penulis pemula, hal ini membuat awal menulis jadi terasa berat sekali. Aturan hanya membuat ide penulisan cupet. Belum-belum sudah dihadang aturan yang menggertak bahwa tulisan yang tidak patuh aturan adalah tulisan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips dan trik yang saya harapkan tidak terlampau terpenuhi sampai halaman ke 65 buku ini. Saya hanya seperti mendapat pengulangan dari pelajaran mengarang saya di sekolah. Pada sisa bab yang ada, penulis memberikan bonus pengetikan dan ejaan yang baik. Ini menjadikan beban untuk memulai tambah berat dipundaki. Baru mau mengawali sudah tambah beban ejaan yang rumit diingat. Mau mulai mengetik saja sudah khawatir ejaan dan bahannya tidak tepat. Materi tambahan ini jika tidak suka bisa dilewatkan saja, karena meski menulis dengan ejaan yang benar itu lebih baik dan penting, namun tugas itu bisa menjadi lebih ringan ketika dibagi dengan editor yang lebih menguasai ilmunya. Tugas penulis adalah menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonus lain di bab akhir adalah bagaimana mengirim karangan ke media. Bagaimana antisipasi jika karangan ditolak. Hingga sistem pembayaran honor. Pentingnya membaca karya satra, dan juga beberapa pekerjaan alternatif yang bisa dijadikan sandaran hidup seorang penulis. Walau saya kurang yakin, Wendo tetap keukeuh menyakinkan untuk percaya bahwa mengarang itu gampang. Tinggal menjajal dan membuktikannya. Percaya bahwa mengarang itu pekerjaan terhormat, tidak kalah dan tidak lebih daripada profesi-profsi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah buku yang cukup legendaris pada era 80an. Ketika itu menulis masih belum dianggap pekerjaan menjanjikan. Sehingga kehadiran buku ini cukup membantu sebagai panduan bagi mereka yang ingin mulai menekuni dunia tulis menulis. Nama besar seorang Arswendo mempengaruhi larisnya buku ini di pasaran. Saya pribadi sebagai penulis pemula, melihat buku ini lebih sebagai panduan menulis dengan baik, bukan sebuah buku yang memberikan tips dan trik menulis sehingga menjadi mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kecintaan pada profesi memang bisa membantu beban menjadi ringan, namun untuk menjadikannya mudah butuh panduan dan penjelasan yang mudah dimengerti pula. Buku ini tidak cukup mengakomodir itu. Gaya penulisannya memang ringan, namun topik bahasannya berat. Contoh-contoh buku yang dihadirkan pun cenderung jarang dikenal. Sebut saja The Social Construction of Reality-nya peter l berger dan Thomas Luckman, Little House on the Priere-nya Laura Ingall Wilder, Untung Suropati-nya Abdul Muis, dan sebagainya. Bagi yang tidak pernah membaca buku ini akan sulit sekali menangkap penggambaran yang dimaksudkan penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kekurangan dan kelemahannya, buku ini layak menjadi referensi bacaan dan panduan bagi mereka yang telah rajin menulis, telah menemukan menulis sebagai sebuah aktivitas yang penuh disiplin dan ingin mengembangkan kemampuannya sehingga tulisannya lebih bernas. Pada akhirnya mengarang tidak menjadi lebih gampang setelah membaca buku bertabur teori ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-5764083721720043659?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/5764083721720043659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=5764083721720043659' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/5764083721720043659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/5764083721720043659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2009/04/wendo-bilang-ngarang-itu-gampang-kataku.html' title='Wendo Bilang Ngarang Itu Gampang, Kataku TIDAK!!!'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SeqMgYC5FSI/AAAAAAAAAWM/S7H99lnaD0s/s72-c/Mengarang+Itu+Gampang.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-5653544982218565172</id><published>2009-04-18T12:27:00.000-07:00</published><updated>2009-04-18T12:38:27.422-07:00</updated><title type='text'>Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SeoqM4G1AHI/AAAAAAAAAWE/xlT6LrDdmgc/s1600-h/Buku+Best+Seller.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 275px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SeoqM4G1AHI/AAAAAAAAAWE/xlT6LrDdmgc/s320/Buku+Best+Seller.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326115910026854514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller&lt;br /&gt;Penulis: Edy Zeqeus&lt;br /&gt;Penerbit: Gradien Books (2005: 183 hlm)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku tipis Tawa Show di Pesantren yang dikompilasi Akhmad Fikri AF (LKiS, 1999: 87), terdapat sebiji kisah Kiai Bisri Musthafa, seorang kiai yang sangat produktif mengarang atau menerjemahkan kitab kuning. Hampir semua kitab yang dtulisnya menjadi kitab laris.&lt;span class="fullpost"&gt; Nah, suatu hari seorang kiai dari Tuban, yang juga pengarang dan cukup produktif, datang ke Kiai Bisri. Beliau setengah mengeluh bahwa karya-karyanya tidak selaris kitab Kiai Bisri. “Padahal saya mengarang kitab ini benar-benar ikhlas, hanya karena Allah,” kata kiai itu menjelaskan motivasinya. Kiai Bisri menimpali, “Kalau niatnya ikhlas, yang nggak usah mengeluh kalau kitab sampeyan tidak laku. Niat saya mengarang kitab ini memang untuk mencari uang. Jadi wajar to, kalau laris.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat itu memang penting. Tapi niat saja tak cukup bagi orang kebanyakan. Kalau Kiai Bisri barangkali bisa dimaklumi. Maklum beliau adalah kiai—dan gus pula. Tapi bagi kebanyakan orang kantoran yang sibuk memulung uang setiap hari di gedung-gedung bertingkat dengan seabrek aktivitasnya yang menekan batin, pastilah sukar sekali mendapatkan karomah dari langit yang abstrak-abstrak. Dan “niat” itu masuk dalam ranah yang abstrak. Jadi diperlukan sebuah trik tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah buku yang ditulis Edy Zaques ini mencoba memberi resep yang sepertinya mudah dilakukan.  Edy adalah salah satu penulis fast book yang namanya diperhitungkan, khususnya soal manajemen dan pembelajaran dan sekaligus ia juga pemilik penerbitan. Jadi latar itu bisa menjadi sangu buat Anda percaya bahwa ia tak sedang ngapusi Anda. Karena banyak yang menulis buku-buku “how to” alias “ripun” alias “panduan”, tapi si penulis sendiri selalu gagal melakukan apa yang ada dalam bukunya. Misalnya, ada beberapa yang menulis buku bagaimana menembus tes masuk pegawai negeri, padahal si penulis sudah berkali-kali mencoba ikut tes tapi tak diterima-terima juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edy Zaques tampaknya bukan penulis begituan. Antara fakta pribadinya dan buku yang ditulisnya tak bertabrakan. Ada 17 esai yang dimuat buku ini. Ditulis pendek-pendek. Dibuka dengan esai pendek “Menulis Buku Best Seller Itu Gampang Kok”. Saya kira ini pernyataan kecap. Buktinya, hanya segelintir penulis yang bukunya best seller. Yang lainnya anjlok. Artinya, menulis buku best seller itu susah. Tapi ini juga tips agar buku bisa best seller: jago ngecap sejak dari judul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa judul ngecap dan nendang Edy sebutkan jenisnya: UNIK (Dialog dengan Jin, Orang Miskin Dilarang Sekolah, Kampus Fresh Chicken); SENSASIONAL/BOMBASTIS/ABSURD (Jangan Main-Main dengan Kelaminmu, Kaya tanpa Bekerja, Wajah Sebuah Vagina, Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur); KONTROVERSIAL (Rapor Merah Aa Gym, Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah!, Selingkuh Itu Indah, Ternyata Akhirat Tidak Kekal); RAHASIA (Jakarta Undercover, Sex in the Kost); dan MENJAWAB PERSOALAN (Bagaimana Memikat Gadis dan Berkencan Efektif, Agar Menjual Bisa Gampang) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada hukum besi yang berlaku. Ngecap yang kosong alias omdo (omong doang) akan mendapatkan hukuman besat dari pembaca untuk buku penulis itu selanjutnya. Karena itu, kepercayaan pembaca mesti dijaga dengan kualitas yang setimpal. Tapi kualitas yang dimaksud bukan kemudian harus ilmiah, penuh diksi rumit. Inginnya terlihat seperti cerdas sekali, tahu-tahunya sebetulnya itu trik untuk menutupi bahwa ia juga tak mengerti apa yang ditulisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi untuk bisa membuat buku best seller, tulis Edy, selain judul yang nendang dan ngecap, diperlukan kecakapan standar lain, seperti tahu teknik-teknik yang paling efektif untuk menulis buku, mau menyisihkan waktu dan disiplin menulis, peka atas topik yang dibutuhkan dan diminati masyarakat, dan yang lebih penting lagi adalah memiliki sense of marketing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada penulis yang hanya menulis untuk menulis. Tak peduli masa depan pasar buku itu nantinya. Apa sah? Sah! Tapi biasanya sangat kebetulan saja bila tiba-tiba bukunya meledak tak terkendali. Namun kebanyakan penulis yang bukunya best seller sangat sadar dengan penetrasi pasar. Tapi jangan diartikan ”pasar” di sini sekadar uang dan uang, tapi insting menulis yang mempertimbangkan lapisan pembaca apa yang menerima buku itu. Gagal menemukan rumusan itu, besar kemungkinan buku itu akan menjadi penghuni gudang abadi atau kotak obral saban 17 Agustus atau pesta Book Fair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumayanlah buku ini membantu mempertajam insting pasar itu. Juga memberi banyak contoh bagaimana mendorong motivasi menulis yang tiada terhenti agar nama menjadi brand yang laku untuk dijual. Dan brand biasanya terbangun oleh rutin dan terencananya kita mengeluarkan buku-buku terbaru. Tak perlu terlalu serius, tapi punya kekhasan dan daya tawar untuk dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi buku ini tampaknya dipersembahkan Edy buat orang sibuk dan bekerja di kota-kota besar yang menyita banyak waktu luang. Ulasan yang pendek-pendek, jenis-jenis buku yang dijadikan acuan, bahasa yang ringan, dan jumlah halaman yang tipis, cukup menjadi alasan untuk itu. Makanya, bagi peminat buku serius, buku ini tak lebih semacam snack. Gurih, renyah. Tak mengenyangkan, tapi selalu dicari. Karena hidup tak melulu 4 sehat 5 sempurna, bukan? Snack juga perlu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-5653544982218565172?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/5653544982218565172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=5653544982218565172' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/5653544982218565172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/5653544982218565172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2009/04/resep-cespleng-menulis-buku-best-seller.html' title='Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SeoqM4G1AHI/AAAAAAAAAWE/xlT6LrDdmgc/s72-c/Buku+Best+Seller.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-1492136613891239953</id><published>2008-09-19T06:16:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T06:18:53.412-07:00</updated><title type='text'>G 30 S, Klandestin Setengah Hati</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SNOksi8nsBI/AAAAAAAAAOI/4XsGkFULKH8/s1600-h/RESENSI_Dalih+Pembunuhan+Massal_1_SITUS.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SNOksi8nsBI/AAAAAAAAAOI/4XsGkFULKH8/s320/RESENSI_Dalih+Pembunuhan+Massal_1_SITUS.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247719076019023890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Dalih Pembunuhan Massal&lt;br /&gt;Diterjemahkan dari: Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’Etat in Indonesia&lt;br /&gt;Penulis: John Rossa&lt;br /&gt;Penerjemah: Hersri Setiawan&lt;br /&gt;Penerbit: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra, 2008&lt;br /&gt;Tebal: xxiv+392 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah misteri sejarah yang paling dinamik yang diulik banyak orang sampai kini: Gerakan 30 September (G 30 S). Sebab ia tak semata persoalan “kup” politik, melainkan juga berkait peristiwa sesudahnya: pembunuhan massal dan asasinasi total atas seluruh gerakan kiri di Indonesia. Dalam hal ini PKI dan seluruh aliansinya, termasuk pendukung setia Sukarno.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang disusun John Rossa ini mesti kita beri rak terhormat dalam tumpukan kepustakaan G 30 S. Ia tak saja menumbangkan banyak analisis sebelumnya yang selalu mencari siapa dalang sesungguhnya dari peristiwa G 30 S itu (PKI, Sukarno, Angkatan Darat, Suharto, CIA); tapi ia menjalin kembali cerita baru yang segar dari serakan data yang membuat kita terhenyak. Betapa tidak, buku yang disusun laiknya roman detektif ini berkesimpulan: G 30 S adalah gerakan militer paling ngawur dan iseng, klandestin setengah hati, dan sama sekali tak direncanakan secara matang. Tapi akibat yang ditimbulkannya luar biasa parah. Ia dijadikan kelompok “militer kanan” sebagai dalih pembantaian massal yang sungguh tak terperikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sejarawan University of British Columbia, Vancouver, Kanada, ini, tak ada dalang utama yang mengerjakan proyek mengerikan ini. Yang ada ialah siapa yang paling diuntungkan setelah kejadian ini, ketika pada 1965 konfigurasi kekuatan politik tinggal dua kutub: PKI dan Angkatan Darat di mana bandulnya ada pada Presiden Sukarno.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerak pertama yang coba dilakukan Rossa adalah mempertanyakan seluruh analisis dan kesimpulan dari buku-buku yang sudah ada. Dengan gaya laiknya pakar forensik, ia membedah kembali dokumen Jenderal Pardjo yang disebut Rossa “sumber utama paling kaya serta paling bisa dipercaya”, selain karena ia memang tokoh inti dalam G 30 S. Hasilnya bahwa gerakan &lt;i&gt;putsch&lt;/i&gt; ini dipimpin Sjam. Sekaligus ini menggugurkan pendapat Benedict Anderson dan Harold Crouch yang berpendapat bahwa perwira-perwira militer yang berperan penting (Untung, Latief, Soejono, Soepardjo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan petunjuk itu, Rossa mengejar identitas Kamaruzaman (Sjam) dan menemukan bahwa orang ini bawahan setia Aidit selama 15 tahun—yang sekaligus kesimpulan ini menampik spekulasi Wertheim dalam &lt;i&gt;Indonesia’s Hidden History&lt;/i&gt; bahwa Sjam adalah intel militer yang ditanam di tubuh PKI. Sjam adalah orang Biro Chusus yang dibentuk Aidit di luar ketentuan Konstitusi Partai. Tugasnya untuk mendekati militer dan bertanggung jawab semata kepada Aidit. Jadi wajar kemudian anggota Politbiro dan Comite Central tak mengetahui secara detail kerja-kerja klandestin Biro Chusus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pun PKI ini &lt;i&gt;terlibat&lt;/i&gt;, tulis Rossa, dua orang inilah yang mesti bertanggung jawab. Rossa percaya pada kesimpulan Iskandar Subekti—panitera dan arsiparis Politbiro—bahwa G 30 S bukan buatan PKI, dalam hal ini yang memikirkan, merencanakan, dan memutuskan. Sebab jika ia merupakan gerakan dari PKI, atau gerakan yang “didalangi” PKI, mestinya ia dibicarakan dan diputuskan badan pimpinan partai tertinggi, yaitu Central Comite dengan jumlah anggota 85 orang, dan hal ini tak pernah dilakukan sama sekali. Gerakan ini hanya diketahui beberapa gelintir orang dalam partai yang disebut Sukarno sebagai “oknum-oknum PKI yang keblinger”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Aidit melakukan gerakan “mendahului” atas musuh utamanya (Angkatan Darat) itu, apa alasannya? Aidit sangat insyaf bahwa partainya akan habis jika berhadapan muka-muka dengan Angkatan Darat lantaran nyaris mutlak anggotanya tak bersenjata. Jalan klandestin yang diambilnya dengan bekerja sama dengan perwira-perwira dalam tubuh Angkatan Darat sendiri dimaksudkan untuk menyelamatkan warga partai dari amukan bedil tentara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula Aidit mulai gelisah, bagaimana partai yang kian hari kian membesar ini tak menemukan arena bermain yang demokratis, yakni Pemilu. Sukarno pun tak menunjukan tanda-tanda akan menyelenggarakan pesta demokrasi lagi setelah sebelumnya yang direncanakan dilangsungkan pada 1959 dilucuti Angkatan Darat pimpinan Nasution yang “memaksa” Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hitungan PKI, jika Pemilu dibuka pastilah mereka akan keluar sebagai juara. Sementara pimpinan teras Angkatan Darat dan sekutu Amerikanya ketar-ketir melihat kerumunan besar semut-semut merah itu di jalanan. Tapi mereka tak berani melakukan tindakan mendahului karena berdasarkan pengalaman, semua tindakan mendahului akan kalah, seperti kudeta gagal Nasution pada 17 Oktober 1952.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rencana ini menyelimpang. Operasi G 30 S itu dilakukan dengan tergesa-gesa. Digerakkan secara militer memang, tapi dengan cara ngawur. Sebagai seorang militer berdisiplin, Supardjo, misalnya, 3 hari sebelum operasi, berkali-kali menanyakan bagaimana kesiapan pasukan dari Jawa Barat, tapi selalu dijawab Sjam dengan murka dan mencerca para pembimbang sebagai pengecut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari “H” kesalahan terjadi beruntun. Pasukan yang menculik Nasution salah masuk rumah dan salah tangkap, karena mereka tak mengadakan “gladiresik” sebelumnya. Pasukan yang didatangkan dari Jawa Tengah dan ditugaskan “mengamankan” Istana di Monas akhirnya bergabung kembali dengan Kostrad lantaran perut keroncongan karena perempuan-perempuan yang ditugasi membuka dapur umum tak datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembunuhan seluruh jenderal pun di luar skenario. Mestinya adalah: “Tangkap. Jangan sampai ada yang lolos”. Tapi betapa kagetnya Omar Dani setelah tahu bahwa jenderal dibunuh atas komando langsung dari Sjam. Saat itu Dani langsung berfirasat akan terjadi malapetaka besar. Disusul lagi ketaksetujuan Sukarno atas gerakan ini yang membikin kalap penggeraknya. Sementara janji Sjam bahwa G 30 S disokong jutaan massa PKI yang akan turun ke jalan-jalan tak pernah ada karena memang cuma hayalan Sjam. Karena memang jutaan anggota PKI itu tak mendapatkan informasi yang jelas soal putsch itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah yang ditunggu-tunggu Angkatan Darat yang dibantu oleh CIA Amerika, biarkan lawan mendahului untuk menjadi dalih bumi-hangus. Di titimangsa ini Rossa tetap kukuh membantah spekulasi bahwa bahwa Angkatan Darat dan Amerika yang menjadi pengendali utama peristiwa ini. Termasuk spekulasi naif yang mengatakan Suharto adalah otaknya. &lt;br /&gt;Gerakan ini tetap berasal dari Aidit, Biro Chusus, dan sekelompok perwira dan dirancang untuk berhasil. Ia gagal bukan karena dirancang untuk gagal, tapi karena diorganisasi dengan cara sangat buruk; sementara Angkatan Darat sudah mempersiapkan pukulan balik jauh sebelumnya. Mereka dilatih, dipersenjatai, dan didanai oleh Dewan Keamanan Nasional (NSC, &lt;i&gt;National Security Council&lt;/i&gt;) Amerika Serikat sejak 1957.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa &lt;i&gt;putsch&lt;/i&gt; ini hanya dijadikan dalih Angkatan Darat untuk menghancurkan seluruh gerakan kiri di Indonesia. Karena PKI lah yang jadi batu sandung terkuat menghalangi perwira-perwira seperti Nasution yang—meminjam ungkapan politikus veteran Sjahrir—memendam “cita-cita militeristik dan fasis” untuk pemerintahan Indonesia. Kekuatan kiri ini juga yang jadi batu sandung berkuasanya modal asing Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Rossa menegaskan, bahwa sebetulnya Suharto tak peduli siapa organisator G 30 S ini karena memang tak penting. Mahmilub yang dia dirikan juga bukan untuk mencari kebenaran, tapi manipulasi dan prasyarat formal belaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum ini sudah ditunggu lama untuk menghantam PKI dan memakzulkan Sukarno. Maka langsung saja Suharto menyerang PKI secara menyeluruh setelah 4 hari kejadian, sambil pura-pura melindungi Sukarno yang sampai wafatnya tak sepatah kata pun menyebut PKI sebagai pengkhianat untuk peristiwa dengan skala kecil seperti G 30 S ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkatan Darat melancarkan gaya &lt;i&gt;“black letter&lt;/i&gt; (surat kaleng)” dan “operasi media”. Pelbagai bukti direkayasa untuk memperlihatkan kebencian atas orang-orang PKI, seperti kemaluan para jenderal disilet-silet Gerwani. Dengan agregasi dan modal kampanye hitam itu pasukan elite Angkatan Darat (Kostrad) kemudian terjun ke daerah-daerah dan memompa hasrat warga sipil untuk buas membunuh sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini dengan terang membantu membaca silang-sengkarut interpretasi sekaligus membongkar hayat-sadar kita akan pengeramatan peristiwa yang relatif kecil (G 30 S) di mana justru menghapus ingatan akan peristiwa yang luar biasa jahatnya setelahnya, yakni pembunuhan massal yang tak terperikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Muhidin M Dahlan, penulis buku &lt;i&gt;Lekra Tak Membakar Buku&lt;/i&gt; (2008)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-1492136613891239953?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/1492136613891239953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=1492136613891239953' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/1492136613891239953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/1492136613891239953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2008/09/g-30-s-klandestin-setengah-hati.html' title='G 30 S, Klandestin Setengah Hati'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SNOksi8nsBI/AAAAAAAAAOI/4XsGkFULKH8/s72-c/RESENSI_Dalih+Pembunuhan+Massal_1_SITUS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-4107312537136414195</id><published>2008-03-23T16:39:00.000-07:00</published><updated>2008-03-23T16:43:04.753-07:00</updated><title type='text'>Penerbit Jogja Membela Diri</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R-bqy14bHdI/AAAAAAAAANg/bbMUzcjXAEs/s1600-h/BUKU_declare.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R-bqy14bHdI/AAAAAAAAANg/bbMUzcjXAEs/s200/BUKU_declare.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181086580514430418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Judul: Declare, Kamar Penerbit Jogja (1998-2007)&lt;br /&gt;Penulis: Adhe&lt;br /&gt;Penerbit: Komunitas Penerbit Jogja&lt;br /&gt;Terbit: 2007&lt;br /&gt;Tebal: xxxvi+341 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resensi di majalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tempo &lt;/span&gt;pada bulan awal 2001 yang ditulis Nirwan Dewanto tentang terjemahan Milan Kundera oleh Penerbit Akubaca itu memang menusuk kalbu. Jika ada yang bilang bahwa resensi itu tak mengguncangkan, itu dusta besar. Sebab resensi yang menuding penerbit Jogja sebagai penerbit yang tak becus menggarap buku cukup bikin gerah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pentolan penerbit Jogja, termasuk Adhe (penulis buku ini), Anas Syahrul Alimi, Buldanul Khuri dan yang lain-lain nggerundel dan berencana membikin forum mengadili karya-karya terjemahan intelek-intelek Jakarta, termasuk terjemahan Nirwan Dewanto, kalau terjemahannya ada. Ada juga rencana menggelar pengadilan buku dengan tema: “Jogja Membela Diri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum itu setahu saya tak pernah ada. Bahkan setelah satu per satu muka berminyak para aktivis perbukuan itu menggesek tanah setelah panggung yang mereka ciptakan dengan gagah dan penuh kenekatan itu rubuh. Barangkali sisa dari gerundelan itu adalah buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan buku yang dibuat oleh seorang ilmiawan dengan ditulis bergaya penelitian yang dingin, objektif, dan berjarak dari sumber serta suasana. Ini juga bukan tulisan seorang etnografis, yang walaupun menyentuh, tapi tetap saja tak ikut serta dalam deru buku Jogja 1998-2004. Ini lebih tepat disebut pleidoi dari aktivis perbukuan di Jogja setelah terus dirundung dakwaan yang bertubi-tubi dari pelbagai penjuru kota, terutama sekali dari Jakarta. Sebab penulisnya sendiri adalah pesakitan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK ada fase yang mengharu biru dari Jogja selepas Presiden Soeharto jatuh ditimpuki demonstrasi mahasiswa selain perayaan penerbitan buku. Adhe menceritakan dengan segamblang-gamblangnya bagaimana sebuah penerbitan lahir dari sebuah warung remang-remang dan beroperasi di gang-gang sempit dan bahkan dalam sebuah kamar pengap sewaan yang tak urung sewanya pun masih dinegosiasi waktu dan ongkosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang di luar Jogja kerap di kepalanya terbangun asumsi bahwa menerbitkan buku harus kondisinya seperti Gramedia, Yayasan Obor Indonesia, dan sederet penerbit-penerbit tua dan mapan dengan gedung-gedung yang mentereng dan asupan modal ratusan juta rupiah. Di Jogja, mereka sungguh kaget dan nyaris tak percaya bahwa buku-buku yang mereka baca selama ini diproduksi oleh penerbit yang terletak di ujung gang dan kerap dihadang plang: “Turun dari Motor Mas, Kalo nggak Benjut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit Jogja yang lahir pada 1998 dan mencapai puncak kegemilangannya antara tahun 2000-2002 adalah riwayat dari gabungan sikap idealis, keras kepala, nekat, dan sekaligus ngawur. Mereka tak terlalu repot dengan pertanggungjawaban modal, pengawasan produk yang berlapis dan berular-ular. Mereka juga tak dipusingkan dengan soal hak cipta yang kerap disoal dan dibesar-besarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya bergerak cepat dan sigap. Naskah dikerjakan secepat-cepatnya dan dikoreksi sesigap-sigapnya. Persoalan terlalu banyak kesalahan, itu soal lain. Ada perlombaan di antara penerbit untuk menerbitkan buku. Kalau misalnya muncul fenomena buku sampai berganda empat (kasus Tan Malaka), bahkan sampai berganda sepuluh (kasus Khalil Gibran), itu adalah bagian dari risiko di sirkuit buku paling ajaib di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, semua hiruk-pikuk itu hanya di Jogja. Dan nyaris semua kepala nengok ke Jogja ketika bermunculan “buku-buku aneh”. Kalau kritik berjubel-jubel kemudian dialamatkan ke kota ini, itu tak terlalu mengagetkan. Penerbit di kota ini dikritik, tapi buku-buku cendekia dari kota semisal Jakarta mengalir terus ke kota ini. Bisa dideret sebabnya. Boleh jadi karena tak perlu menunggu antrian lama sebagaimana prosedur menerbitkan buku di penerbit-penerbit mapan yang minta ampun ribet dan lamanya. Di Jogja, sekali buku disetujui untuk diterbitkan, pekan depan penulisnya sudah bisa menyunggingkan senyum melihat bukunya sudah nangkring di rak toko buku. Soal laku atau tidak, itu soal yang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh kenekatan dan mungkin sikap banal dan keras kepala itu maka boleh dibilang Jogja telah mematahkan mitos bahwa menerbitkan buku itu sulit dan rumit. Manusia-manusia yang ingin menjadi cendekia tapi levelnya di kelas sangat bawah sangat terbantu dengan kondisi sirkus buku seperti yang terjadi di kota ini. Bahwa menulis buku semata milik kelas penulis elite berhasil diruntuhkan seketika oleh ulah grasah-grusuh penerbit di Jogja ini. Naskah apa pun bisa dan layak diterbitkan. Sirkus ini melahirkan juga gaya bikin buku dengan jurus “ATM” (amati, teliti, modifikasi) atau “Spanyol” (separuh nyolong).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada juga ongkos dari semua ini. Karena dikerjakan oleh anak-anak muda yang terjun ke dunia buku dengan separuh nekat, maka jangan tuntut mereka untuk disiplin. Disiplin dalam hal apa saja. Jika royalti penulis terus dikemplang, jangan terlalu cerewet. Jika hak cipta buku terjemahan tak pernah diurus, jangan salah sangka sebab kalau sibuk ngurusi hak cipta itu ntar gimana kalau disalip penerbit lain yang lebih nekat dan cepat. Kalau gaji karyawan dibayar murah, jangan heran. Jika utang menggunung di percetakan atau distributor, jangan sakit kepala. Jika kepala-kepala penerbit yang rata-rata berusia belia ini susah dihubungi, jangan memaki karena mereka tengah dikejar para penagih dari sembilan penjuru mata angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika mereka pada akhirnya jatuh, mari tegakkan keyakinan bahwa itu hanya sesaat saja. Mereka punya sembilan nyawa dan naluri perbukuan untuk bangkit. Penulis buku ini memang jatuh bangkrut bersama penerbitnya, tapi ia tetap tegak dan kembali ke kemampuan asalinya sebagai penulis. Karena memang Adhe terjun ke penerbitan bukan karena ia telah mengantongi ilmu manajemen yang mbegawani dan matang. Hanya ia suka saja menulis dan membaca buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jogja, itu hal biasa. Sebagaimana mesti juga diketahui, bahwa menerbitkan buku adalah separuh dari judi. Pemilik Penerbit Pustaka Pelajar, Cak Ud, pernah mengatakan kepada saya beberapa bulan sebelum para aktivis perbukuan Jogja periode 1998 itu tersungkur, bahwa semua hiruk-pikuk itu tak lama akan berakhir. Sebab mereka (para pekerja buku yang penuh semangat itu) tak sedang menaiki tanjakan 30 derajat. Mereka para pendaki gunung 90 derajat yang bersemangat dan berjudi dengan nasib. Mungkin hari ini mereka bisa menikmati kemewahan seperti menaiki mobil BMW atau berumah mewah, tapi lihatlah sebentar lagi. Mereka semua akan terjatuh karena dakian yang mereka pilih terlalu curam dan berisiko sangat tinggi di mana pakar manajemen yang sudah berpengalaman puluhan tahun mengamati usaha-usaha pemasaran produk yang dilakukan manusia pun bisa geleng-geleng kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya tiada lain gaya hidup yang luar biasa mewah dan sekaligus boros tak seimbang dengan risiko bagaimana manajemen pemasaran buku itu dibuat. Bahkan ada salah satu aktivis perbukuan di Jogja yang turut jatuh bersama berseloroh, sistem pembelian dengan Bilyet Giro (BG) itu nggak ada bedanya dengan membeli buku dengan uang palsu. Uangnya memang langsung dinikmati dan risiko akan datang kemudian hari ketika buku-buku itu dikembalikan ke penerbit lantaran tak laku. Dan jatuh bebas itu terletak di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sudahlah. Semuanya sudah patah dan jatuh. Kendali atau kiblat perbukuan sudah kembali ke Jakarta. Dan buku ini cukup sebagai rangkaian dari memori banding dari dakwaan yang menghujam selama ini. Adhe sudah menulis pleidoi ini dengan baik. Apa pun kata orang, pembelaan ini penting agar orang juga tahu apa yang terjadi di dalam kamar-kamar kos penerbitan Jogja itu. Sebagai sesama aktivis buku yang tidur, makan, dan berak di kamar-kamar penerbit buku Jogja itu, saya ucapkan terima kasih kepada Adhe.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-4107312537136414195?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/4107312537136414195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=4107312537136414195' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/4107312537136414195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/4107312537136414195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2008/03/penerbit-jogja-membela-diri.html' title='Penerbit Jogja Membela Diri'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R-bqy14bHdI/AAAAAAAAANg/bbMUzcjXAEs/s72-c/BUKU_declare.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-3102205756491387158</id><published>2008-03-16T03:06:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T03:13:38.742-07:00</updated><title type='text'>Para Sais Pers yang Terangi Tanah Air</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Djanalis Djanaid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lYKne3gBI/AAAAAAAAAM8/2G2zoSHMjxk/s1600-h/Seratus-Tokoh.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163755387177369618" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 97px; height: 143px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lYKne3gBI/AAAAAAAAAM8/2G2zoSHMjxk/s200/Seratus-Tokoh.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Judul Buku: Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia&lt;br /&gt;Penulis: Taufik Rahzen et.al&lt;br /&gt;Penerbit: I: Boekoe dan The Blora Institute, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: Pertama, 2007&lt;br /&gt;Tebal: xiv + 460 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarang terkemuka Amerika Mark Twain pernah mengemukakan rasa kagumnya atas kekuatan pers. Ia mengatakan, hanya ada dua kekuatan yang dapat memberi penerangan ke semua sudut dunia ini, yakni matahari di langit dan Associated Press (AP) di bumi. AP, seperti diketahui, adalah sebuah kantor berita besar di Amerika Serikat. Dengan wartawannya yang bertugas di berbagai kota negeri itu dan juga negara-negara lain, kantor berita itu dapat mewartakan beragam kejadian di ujung-ujung dunia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, untuk memahami bagaimana peran dan kekuatan pers, tidak perlulah harus bersusah-payah mencari berbagai informasi tentang AP. Ada banyak buku yang membahasnya. Namun, memang, tidak banyak yang memberikan gambaran dan wawasan luas serta mudah dipahami. Buku ini adalah satu di antara sedikit yang dapat memuaskan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh para penulis yang usianya rata-rata masih di bawah 25 tahun, buku ini seolah ingin mengulang sejarah perjuangan banyak tokoh pers negeri ini yang mengawali profesinya di usia muda. Tokoh pers yang paling terkemuka adalah Tirto Adhi Soerjo, yang meninggal secara tragis setelah memberikan kehidupannya untuk dunia pers dan kemerdekaan bangsanya. Pada usia 22 tahun, Tirto Adhi Soerjo sudah menjadi pemimpin redaksi Pembrita Betawi dan di usia 23 tahun menerbitkan koran nasional pertama, Soenda Berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat tulisan-tulisannya Tirto menunjukkan pembelaannya kepada warga pribumi yang tertindas dan menyerang para penguasa sewenang-wenang. Tidak hanya para bupati tetapi juga para pejabat kolonial Belanda. Akibat pandangan dan tindakan-tindakannya itu, perusahaan persnya, NV Medan Prijaji, dipailitkan. Ia pun digugat, disandera, disita semua hartanya, dan bahkan dihukum buang ke Ambon, sebelum akhirnya meninggal di Jakarta. Sederet kata-katanya yang menunjukkan keprihatinan Tirto sebagai jurnalis digunakan penulis sebagai judul tulisan tentang tokoh ini: "…bangsa kita sudah tidak ambil peduli pada bangsanya yang telah jadi setengah atau jadi Belanda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan kutipan sebagai judul untuk melukiskan sebagian besar dari 100 tokoh pers yang terhimpun dalam buku ini memang efektif. Dari judul saja sudah bisa diraba bagaimana kualifikasi, atau setidaknya pandangan tokoh yang ditulis. Untuk melukiskan Dowes Dekker, misalnya, dikutip kata-katanya, "Aku seorang Indo, aku bangsa Indonesia". Penulis juga mengutip pidato Raden Mas Pandji Sosrokartono di Kongres Bahasa Belanda di Ghent, Belgia, pada 1899, untuk menggambarkan tokoh yang pernah menjadi wartawan perang di Eropa pada Perang Dunia I. "…hidupkanlah rasa persaudaraan antara bangsamu dan bangsa yang engkau jajah…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan seratus tokoh pers di buku ini tidak didasarkan pada ranking atau bobot kehebatannya. Ini kiranya langkah yang tepat. Tentu saja para jurnalis yang berjasa pada negeri ini ada ribuan. Namun seratus tokoh di buku ini dapatlah menjadi representasi dari para sais, yang oleh para penulisnya disebut "bekerja sepenuh jiwa di dalamnya dalam mengartikulasikan dan memberi sumbangan kepada bahasa Indonesia dan tanah air dalam membangun citra untuk apa dan dalam posisi apa nasionalisme dibangun dari kurun ke kurun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama yang terhimpun dalam buku ini memang beragam, Mereka mewakili generasi awal abad ke-20, generasi tahun 1940-an, 1960-an hingga sesudahnya. Mereka datang dari berbagai suku dan etnik. Ada Jawa, Sunda, Minang, Batak, Bali, Minahasa, Tionghoa, dan sebagainya. Simak saja nama-nama seperti Ki Hadjar Dewantoro, Soekarno, Mohammad Hatta, Abdurrachman Baswedan, Parada Harahap, Liem Koen Hian, Iwa Koesoemasoemantri, Sutan Takdir Alisjahbana, Ahmad Dahlan, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Adam Malik, SK Trimurti, Sam Ratulangi, Abdul Azis dan Toety Azis, Ketut Nadha Nugraha, dan Mahbub Djuaedi. Dari generasi berikutnya ada nama-nama seperti Nono Anwar Makarim, Atang Ruswita, Jacob Oetama, Ashadi Siregar. Dahlan Iskan. Erros Djarot, Maria Hartiningsih, Boediono, Sindhunada, Saur Hutabarat, Fuad Muhammad Syafruddin, dan lain-lain, Dimasukkan juga Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Jurnal Pantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari para tokoh pers yang terhimpun dalam buku ini kita bisa belajar banyak. Kita bisa belajar tentang keberanian dan idealisme, tentang kearifan, keindahan sastra, kepiawaian menulis, hingga kecerdikan dalam berbisnis. Contoh terakhir ini adalah Dahlan Iskan. Berkat kecerdikan dan kerja kerasnya, jurnalis ini sekarang menjadi "Raja Media" dengan Grup Jawa Pos yang memiliki puluhan koran, tabloid, dan majalah, juga beberapa televisi lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, apa yang tampaknya digarisbawahi dengan tebal adalah jasa para tokoh tersebut dalam mengembangkan bahasa Indonesia. Contoh yang sangat menonjol adalah Agus Salim, yang menggunakan bahasa Melayu saat berpidato di Volsraad pada 1920-an, bahkan sebelum Sumpah Pemuda 1928. Pimpinan sidang Volksraad waktu itu menegur dan memintanya berpidato dalam bahasa Belanda. "Saya memang pandai berpidato dalam bahasa Belanda, tapi menurut peraturan dewan, saya punya hak untuk mengeluarkan pendapat dalam bahasa Indonesia," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah bila dikatakan, para tokoh pers itu adalah mereka yang membangun, memelihara, memberi citra, menaklukkan, sekaligus memberi penghuni pada bahasa Indonesia. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Djanalis Djanaid&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jurnalis, pengajar FIA Universitas Brawijaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi Minggu, 16 Mar 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-3102205756491387158?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/3102205756491387158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=3102205756491387158' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/3102205756491387158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/3102205756491387158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2008/03/para-sais-pers-yang-terangi-tanah-air.html' title='Para Sais Pers yang Terangi Tanah Air'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lYKne3gBI/AAAAAAAAAM8/2G2zoSHMjxk/s72-c/Seratus-Tokoh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-4395924115596521512</id><published>2007-11-16T17:19:00.000-08:00</published><updated>2007-11-16T17:26:40.079-08:00</updated><title type='text'>Goenawan dan Harapan yang Tak Selesai</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Zen Rachmat Soegito&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rz5CnVYyvrI/AAAAAAAAAMo/ca635EjkLYo/s1600-h/goenawan.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rz5CnVYyvrI/AAAAAAAAAMo/ca635EjkLYo/s200/goenawan.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133613868772409010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai&lt;br /&gt;Penulis: Goenawan Mohamad&lt;br /&gt;Diterjemahkan: Katakita (2007)&lt;br /&gt;Tebal: 150-an halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang berharap ia harus siap kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencari, membeli dan lantas mulai membaca buku “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai” karya Goenawan Mohamad dengan sejumlah harapan. Tapi sayangnya saya menangguk kecewa karenanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 23 September 2007, saya membaca sajak-sajak Goen di Kompas; sajak-sajak yang menafsir-ulang roman klasik Cervantes dan menatahnya kembali menjadi rentetan bunyi, kata, baris dan bait yang mengesankan, juga memesona. Seorang teman yang sedang jatuh cinta, amat sering membaca dua baris sajak Goen –dua baris sajak yang kata temanku itu bisa menggambarkan suasana hatinya: “Aku Don Quixote de La Mancha, majenun yang mencarimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di bawah sajak-sajak itu, tercetak beberapa baris atribusi Goen yang salah satunya berbunyi: “Dalam waktu dekat akan terbit buku kumpulan aforismenya, Tentang Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu atribusi itu dibuat Goen sendiri atau dibuat oleh Hasif Amini, editor (tamu) rubrik puisi Kompas yang juga sahabat Goen. Dan, terus terang saja, atribusi itu membuatku menunggu terbitnya buku Goen yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap akan “menemukan Goen yang lain”, bukan Goen yang menulis Catatan Pinggir (Caping), bukan Goen yang menulis dengan serakan kutipan dan nama-nama besar yang frase-frasenya dicuplik dengan pas dan seringkali cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goen yang macam itulah, juga Goen yang penyair, yang saya kenal pertama kali di semester pertama kuliah. Via Caping dan puisi-puisinya tentu saja. Saya membacanya, kadang saya ikut-ikutan gayanya menulis (terutama gaya dia menyusun lead) dan bukan sekali dua saya mengutipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seringkali tergoda untuk mencari dan membaca buku-buku yang dicuplik/diulas Goen di esainya. Ulil Abshar Abdalla, dalam esai obituari Edward Said di Kompas, pernah menyebut Goen sebagai “makelar budaya” yang pintar mengenalkan dan memprovokasi orang untuk juga membaca buku-buku yang dikutipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nirwan Arsuka, dalam salah satu sesi workshop penulisan esai di Yogyakarta beberapa bulan silam, menyebut hampir tak ada penulis esai (berusia muda) di Indonesia yang tak membaca Caping dan banyak di antaranya kepincut dengan Caping. Nirwan, saya kira, tak berlebihan, setidaknya bagi saya pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jujur saja, belakangan saya jarang bisa menikmati Caping seperti beberapa tahun silam. Seringkali saya menangkap kesan Goen mengulang kembali apa yang sudah ditulis sebelumnya; sesuatu yang cukup wajar karena Caping ditulis terus menerus per pekan. Terutama ketika berbicara tentang Tuhan, agama dan sikap keberagamaan, spiritualitas, sekulerisme, Goen –saya kira—selalu berbicara dengan sudut pandang dan pokok pikiran yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi ini sebentuk konsistensi Goen dalam tema-tema itu, tapi –jujur saja—saya tak banyak menemukan hal yang baru di situ. Saya tidak menyebut repetisi, apalagi copy-paste, karena Goen –seperti biasa—tetap menghadirkan kutipan-kutipan segar dan baru, mengenalkan pemikir dan nama-nama baru, dan terkadang diksi-diksi yang tak saya kenal yang membuat saya penasaran dan terpaksa membuka KBBI yang bercover merah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, itu permukaan. Di jantungnya yang terdalam, Goen tetap berbicara dengan sudut pandang dan pokok pikiran yang sama dalam tema-tema itu: merayakan pluralisme, spiritualitas yang melintasi sekat-sekat primordialisme dan agama, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, sekitar dua tahun terakhir, tiap kali Goen menulis tema-tema itu, saya kadang membacanya sepintas lalu saja dan –tentu saja— tanpa greget seperti saya membacanya empat atau lima tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengar akan terbit buku Goen yang baru, saya berharap akan menemukan Goen yang –seperti “dijanjikan” oleh atribusi Goen di bawah sajak-sajaknya di Kompas- menulis aforisma: kalimat-kalimat yang ringkas, padat, tidak bertele-tele dan tidak “menghambur-hamburkan” kutipan. Mungkin seperti Kalender Kearifan-nya Leo Tolstoy atau kalau pun tulisannya agak panjang ya… seperti Sang Nabi-nya Kahlil Gibran atau tulisan-tulisannya Inayat Khan (untuk menyebut yang pernah saya baca).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berharap Goen akan berbicara dengan sudut pandang atau pokok pikiran yang baru dan mengejutkan, karena Goen –saya menebak ketika itu—akan tetap berbicara dari semangat dan pokok pikiran yang sama. Jadi, harapan saya pada buku Goen yang baru ini, adalah harapan yang –katakanlah—harapan yang sifatnya “teknis”: soal cara Goen menulis. Itu saja harapan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, itulah yang terjadi: siapa yang berharap ia mesti bersiap kecewa. Kali ini saya yang berharap dan akhirnya kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai” adalah buku yang tak banyak bedanya dengan Caping. Tak hanya itu, para pembaca setia Caping niscaya dengan mudah menemukan tema-tema yang juga pernah diuraikan Goen di Caping dan dengan sudut pandang yang juga sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bahkan sudah terlihat dalam tulisan I (ada 99 tulisan Goen di sini, dan masing-masing tulisan oleh Goen disebut sebagai “tatal”: serpihan-serpihan kayu yang dipadatkan, tiang-tiang mesjid Demak terbuat dari bahan tatal macam itu). Di situ, Goen menulis tentang tatal yang menopang mesjid Demak. Goen, di situ, membayangkan agama yang tersusun oleh hal-hal yang terbuang, seperti remeh serpih kayu yang disusun jadi tatal, bukan oleh pokok yang lurus dan kukuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan pertama ini bukan hanya berbicara dengan pikiran yang sama dengan esai-esai Goen yang lain jika berbicara tentang Tuhan, agama dan keberagamaan atau spiritualitas, tetapi tema tentang mesjid Demak dan tatal juga sudah diuraikan Goen di Caping berjudul “Jenar” yang tayang di Tempo edisi 12 Januari 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema-tema yang digarap ulang kembali dengan mudah akan ditemukan oleh para pembaca yang akrab mengikuti Caping. Sekadar menyebutkan contoh: tulisan ke-24 tentang film the Passion of Christ, tulisan ke-28 (lead tulisan ini bahkan hampir sama dengan Caping berjudul “Pagoda”), tulisan 32 yang mengutip puisi Chairil, tulisan 35 yang menyinggung soal momen sederhana seperti melihat burung kecil yang mengejutkan, tulisan 60 tentang menara Babel (pernah digarap sewaktu Goen mereview film Inarritu, Babel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah contoh yang saya pilih secara acak. Seandainya saya menulis ini di ruang perpustakaan saya sendiri, dengan koleksi Caping yang lengkap, saya niscaya bisa menemukan lebih banyak. Sebab, banyak sekali bagian yang rasanya saya akrab dan pernah membacanya, tapi saya lupa persisnya di Caping edisi berapa itu pernah muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi soal “hobi” Goen yang lain yaitu mengutip frase-frase atau bait-bait sajak hasil karya orang lain. Ini juga masih sangat sering muncul di buku Goen yang ini. Kutipan-kutipan itu, tidak hanya dikutip lengkap, semisal satu baris, satu frase atau satu bait, tapi sering juga satu kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, jujur saja, saya terganggu dengan cara Goen menyelipkan kutipan satu kata untuk menjelaskan apa yang ingin disampaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya pada tulisan 51: “Di baliknya ada masyarakat, kekuasaan, juga hukum: sebungkah mereka (l’autre, kata Lacan) yang memberi diriku stabilitas sebuah nama, sebuah identitas, melalui bahasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau pada tulisan 52: “Dan di tatapan subyek seperti itulah dunia tersaji bagaikan gambar –sebagai weltbild, untuk memakai kata-kata Heideger, dunia yang diringkas jadi obyek…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya berharap tidak melihat Goen yang menulis Caping, seperti yang sudah saya ceritakan di awal, saya kecewa menemukan hal-hal semacam itu di buku Goen yang ini. Kutipan l’autre dari Lacan atau Weitbeld dari Heideger itu terasa seperti menggambarkan Goen yang kurang yakin bahwa pembaca juga belum mengerti apa yang hendak ia sampaikan. Menurut hemat saya, penulis esai pemula, seandainya Goen tak mencantumkan l’autre dan weitbeld sekali pun, pembaca tetap bisa menangkap apa yang hendak ia utarakan. (Atau mungkin Goen kurang percaya diri? Mudah-mudahan bukan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan dalam “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai”, apa boleh buat, memang tak banyak berbeda dengan Caping. Kita juga masih akan sering menjumpai tulisan-tulisan yang panjang, tulisan-tulisan yang –bagi saya—jauh dari ringkas. Lebih pendek dari Caping, memang, tapi masih bergaya Caping. “Caping banget”, pinjam istilah anak-anak sekarang. Kata-kata masih “berhamburan”, masih muncul beberapa kutipan yang –bagi saya—tidak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karenanya, kalau bolehlah saya menilai: Goen terasa bertele-tele dan seakan tak yakin bahwa pembaca bisa mencerna apa yang ingin ia katakan bisa ditangkap hanya lewat tulisan pendek atau paragraf yang ringkas atau pasase yang padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Goen bisa menyusun tulisan pendek yang ringkas dan padat, dengan paragraf berjumlah satu atau dua biji saja, dan hasilnya bagus juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, saya contohkan beberapa, tulisan 37: “Dilihat dari langit dan keabadian, sejarah tak berbunyi, tak berwarna; tak merisaukan hati: kisah kegagalan yang tak menimbulkan jera, kegairahan dan trauma yang tak dijumlah karena tiap kali terasa berbeda. Ini menjelaskan kenapa dewa-dewa dalam Mahabharata dan Illiad berbuat heboh dan tanpa sesal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, yang seperti itu tak banyak jumlahnya. Kebanyakan, kalau boleh saya bilang, seperti Caping yang (di)pendek(kan). Ada beberapa paragraf yang kuat dan mengesankan, tapi karena Goen tak mampu menahan hasratnya untuk terus berkata-kata, paragraf yang kuat tersebut jadi berkurang kemandiriannya (dan kekuatannya), karena diimbuhi oleh paragraf lain lengkap dengan kutipan dari pemikir lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, karenanya, masih menampakkan Goen yang menulis Caping, sebagai esais yang masih merasa perlu “mendesakkan” banyak kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya editor buku ini, mungkin saya akan mencantumkan sub-judul berbunyi: “Versi Lain Catatan Pinggir” atau mungkin “Catatan Pinggir Volume 7 “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-4395924115596521512?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/4395924115596521512/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=4395924115596521512' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/4395924115596521512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/4395924115596521512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/11/goenawan-dan-harapan-yang-tak-selesai.html' title='Goenawan dan Harapan yang Tak Selesai'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rz5CnVYyvrI/AAAAAAAAAMo/ca635EjkLYo/s72-c/goenawan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-8612035540891929839</id><published>2007-10-28T08:24:00.000-07:00</published><updated>2007-10-28T08:30:58.221-07:00</updated><title type='text'>Menukar Kemapanan dengan Perpustakaan</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Efri Ritonga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RySqXv-EXzI/AAAAAAAAAMY/2Kl9hgSovRc/s1600-h/john+wood.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RySqXv-EXzI/AAAAAAAAAMY/2Kl9hgSovRc/s200/john+wood.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126409600844980018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Judul: Leaving Microsoft to Change the World&lt;br /&gt;Penulis: John Wood&lt;br /&gt;Penerbit: Bentang Pustaka&lt;br /&gt;Penerjemah: Widi Nugroho&lt;br /&gt;Tebal: 367 halaman&lt;br /&gt;Cetakan: I, Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bodoh sekali orang itu! Dia seharusnya bisa tetap jadi dermawan tanpa perlu keluar dari Microsoft." Belum lagi saya selesai menceritakan ringkasan buku ini, seorang teman diskusi di suatu siang sudah meraung dan mengomel gusar. Naif sekali, dalam pandangan dia, mundur dari jabatan sebagai eksekutif perusahaan terkaya di dunia demi mengejar cita-cita baru yang absurd: mendirikan perpustakaan di Nepal.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berpikir begitu pastilah tidak satu di muka bumi ini. Berani bertaruh, ada jutaan orang lainnya yang mengutuki John Wood. Apalagi jika mereka tahu, karena pilihannya itu, calon pengantinnya yang cantik dan seorang eksekutif periklanan mengusir John tidur di sofa sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan laki-laki gagah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di sanalah, di dalam riak-riak kontroversi, terdapat daya pikat buku otobiografi ini. Seperti kata pemenang Nobel Sastra 2007, Doris Lessing, pembaca berhak menilai, penulis dilarang protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualangan John dimulai pada 1998. Dengan maksud rehat sejenak dari akselerasi kerja Microsoft, ia terbang ke Nepal. Di sebuah kedai bir--saat tengah merancang perjalanan 21 harinya menyusuri 200 mil jalan keledai dengan ransel di punggung--ia berkenalan dengan Pasuphati, pegawai Pemerintah Provinsi Lamjung, Nepal. Laki-laki paruh baya ini mengaku bertanggung jawab mencari sumber daya bagi 17 sekolah di provinsi pedalaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penuturan Pasuphati, John mengetahui soal angka buta huruf di Nepal yang mencapai 70 persen, terburuk di dunia. Penyebabnya, kata Pasu, bukan karena orang Nepal malas belajar, melainkan karena negara berpenduduk 27 juta itu terlalu miskin untuk mengupayakan sekolah, buku-buku, dan guru-guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John penasaran dengan cerita itu. Esok paginya, mereka berdua berjalan kaki selama dua jam mengunjungi sebuah sekolah di Desa Bahundanda. Di sekolah itu ia melihat satu ruang perpustakaan yang melayani 450 siswa tanpa sebuah buku pun. "Barangkali, Pak, suatu hari Anda akan kembali dengan buku-buku." Seuntai kalimat dari Pak Kepala Sekolah itu demikian membekas di hati John, dan mengubah lintasan hidupnya selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali dari Nepal ke Sydney, Australia, di sela-sela pekerjaannya sebagai Direktur Pemasaran Microsoft Australia, John bergerak menyurati keluarga, kenalan, dan siapa pun untuk mengumpulkan buku buat dikirim ke Nepal. Jauh di luar prasangka John, bergoni-goni buku baru dan bekas yang datang dari seluruh penjuru Amerika dapat dikumpulkan dan dikirim ke Bahundanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak keberhasilan itu, John seperti dipaksa bekerja di dua tempat sekaligus. Kedua tempat itu kontras. Satu di Australia dan lainnya di Nepal. Kondisi ini membuatnya berpikir bahwa ia harus memilih salah satu. Satu setengah tahun dalam kebimbangan, pada Mei 1999 ia memutuskan keluar dari Microsoft dan mendirikan Books for Nepal. Umurnya ketika itu 35 tahun, dengan posisi terakhir sebagai Direktur Pengembangan Bisnis Microsoft Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses di dunia baru tidak serta-merta mendekati pemegang gelar masters of business administration dari the Kellogg Graduate School of Management, Amerika, ini. Tak kurang rintangan yang ditemui pada masa awal berdirinya Books for Nepal. Seluruh hidup John tersedot habis untuk berjualan program dari satu malam dana ke malam dana lainnya, dari Amerika sampai Eropa. Belum lagi tekanan batin karena pundi-pundi tabungannya terus menyusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlian tetaplah berlian di mana pun ia ditaruh. Walau memilih jalur nirlaba, John berupaya mencangkokkan pelajaran yang didapatnya di Microsoft, terutama dari bos yang dikaguminya, Steve Ballmer. Books for Nepal, yang kemudian pada 2001, seiring dengan ekspansi mereka ke Vietnam, bersalin nama menjadi Room to Read, terus tumbuh dengan kombinasi gairah, kerja sama tim, dan disiplin tinggi ala perusahaan kelas dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis bukan oleh sastrawan, melainkan oleh tenaga pemasaran terlatih, buku ini terbukti enak dibaca. Runtutan peristiwanya detail dan runut. Tidak puitis, tidak pula bertabur metafora, gaya penuturan John yang lugas membuat buku ini mudah dicerna. Penulisnya juga membuat beberapa boks untuk menempatkan kisah-kisah khusus yang cocok sebagai jeda pandangan. Sedikit kekurangan barangkali, John kurang mengeksplorasi saat-saat tersulitnya bersama Room to Read.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh tahun sudah sejak lembaga yang dirintis John ini berkiprah, kini lembaga nirlaba itu tumbuh besar. Mereka telah membangun lebih dari 3.600 perpustakaan di negara-negara berkembang, menyumbang dan mempublikasikan 3 juta buku, membangun 287 sekolah, serta memberikan lebih dari 3.400 beasiswa jangka panjang untuk anak-anak perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelopornya menerima pengakuan sebagai Pemimpin Muda Dunia dari Forum Ekonomi Dunia, dan disebut sebagai Pahlawan Asia oleh majalah Time. Adapun Room to Read memenangi empat kali Social Capitalist Award dari Fast Company Magazine, Skoll Foundation Award for Social Innovation, dan menerima Draper Richards Fellowship for Social Entrepreneurs. Dalam skala lain, John dan timnya bersama-sama telah melampaui idolanya, seorang pengusaha baja yang sangat dermawan asal Amerika, Andrew Carnegie, yang membangun 2.000 perpustakaan di Eropa dan Amerika Serikat di abad ke-19. Sekarang, masihkah Anda menganggap John keliru? EFRI RITONGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Koran Tempo Edisi 28 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-8612035540891929839?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/8612035540891929839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=8612035540891929839' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/8612035540891929839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/8612035540891929839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/10/menukar-kemapanan-dengan-perpustakaan.html' title='Menukar Kemapanan dengan Perpustakaan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RySqXv-EXzI/AAAAAAAAAMY/2Kl9hgSovRc/s72-c/john+wood.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-8533085858507897683</id><published>2007-09-26T03:03:00.002-07:00</published><updated>2007-09-27T02:33:15.454-07:00</updated><title type='text'>Estetika Politik</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Bastian Sambi Borges&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rvt4shT1zCI/AAAAAAAAAMQ/y_Hm8wxBUwE/s1600-h/the+nerves.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rvt4shT1zCI/AAAAAAAAAMQ/y_Hm8wxBUwE/s200/the+nerves.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114814508060494882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Judul: The Nerves of Government: Models of  Political Communication and Control&lt;br /&gt;Penulis: Karl W. Deutsch&lt;br /&gt;Penerbit: The Free Press – New York – 1966&lt;br /&gt;Tebal: vii – 316 + Index&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia di hari-hari ini sedang tidak bergairah dengan omongan tentang politik. Ketidakgairahan itu tampak dalam ungkapan yang kerap kita dengar: “Ah..jangan berbicara tentang politik melulu bila tidak ada keadilan, tidak ada kejujuran, tidak ada kesejahteraan masyarakat, dan tidak ada rasa perikemanusiaan...” De facto memang masyarakat tidak menutup mata dengan prilaku para elite negeri yang lebih suka bermain dengan api retorika politik dalam bentuknya yang banal: dangkal murah, dan kosong ketimbang yang lebih substansial: produk politik yang berdimensi pedagogis dan aplikatif (terjadinya suatu tatanan hidup yang damai, sejahtera dan berperikemanusiaan dalam masyarakat). &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun setiap warga negeri menutup matanya dengan selebaran kain tebal tanpa pori-pori udara, tetap saja terlihat secara jelas lekak-lekuk prilaku retorika politik yang banal itu. Lihat saja penampilan produk politik kepartaian (koalisi, politik pilkada, perebutan posisi-posisi dalam birokrasi), misalnya, lebih mengesankan sebuah hasil transaksi bisnis elite partai ketimbang upaya pendidikan politik bermutu untuk rakyat. Dalam arti itu politik masih dilihat sebagai peralatan kekuasaan demi kegunaan jangka pendek dan bukan sebagai pelembagaan nilai-nilai demokrasi untuk proyek peradaban jangka panjang. Maka tidak heran bila masyarakat awam selalu menganggap aktivitas poltik tak ubahnya sebuah kubangan lumpur yang mengotori siapapun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para musafir politik sejati, fakta seperti ini cukup mengejutkan atau paling tidak megerutkan dahi. Karena antara ranah ortodoksi ajaran dan ranah ortopraksis dari wacana politik tak pernah bertaut hati secara akrab membentuk suatu habitus yang beradab. Perasaan menyesal, kecewa dan menjengkelkan, wajar saja dimunculkan dan memang harus merasakan itu supaya membuka mata, hati  dan budi untuk secara cerdas mencermati dan mengkritisi arus pergerakan politik Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi lebih dari itu kita harus berani mengajukan gugatan atas prilaku politik para elite kita. Mengapa para elite negeri ini doyan dengan permainan politik yang murahan itu? Apakah ini merupakan suatu indikasi kuat bahwa lembaga pendidikan kita terutama lembaga-lembaga yang memformat para calon politikus tidak bisa mencetak politikus atau anak negeri yang diharapkan masyarakat: bermoral, jujur, intelektualis dan mampu menciptakan suasana politik yang berperikemanusiaan. Ataukah mungkin bukan lembaganya yang dipermasalahkan, tetapi para pelakunya yang perlu dipertanyakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga pendidikan pada dirinya tidak mungkin kontraproduktif dengan eksistensinya sendiri: mencerdaskan manusia atau memanusiakan manusia. Singkat kata, dalam hal ini kita ada baiknya mengikuti anjuran sang guru absurd, Nietszche bahwa kita harus menebarkan “hermeneutika kecurigaan” atas sesuatu hal, terutama atas ketidakberesan hidup. Kita harus mencurigai prilaku politik, supaya setiap warga negara sadar dan tahu bahwa realitas politik adalah tidak identik dengan perbuatan curang, penipuan, atau saling sikut-menyikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya aktivitas politik merupakan media publiK yang bisa dimasukkan oleh siapapun yang berkendak baik untuk menciptakan tatanan sosial yang adil, sejahtera, aman, tentram, jujur dan bebas. Kesejatiannya ini mengingatkan setiap warga akan makna asli kata politik itu sendiri yang berasal dari bahasa Yunani polis (kota yang berstatus negara kota (&lt;i&gt;city state&lt;/i&gt;) bahwa segala aktivitas yang dijalankan polis adalah untuk kelestarian dan perkembangan orang-orang yang hidup di suatu kota (&lt;i&gt;politike techne&lt;/i&gt;). Dengan kata lain politik pada hakikatnya merupakan &lt;i&gt;the art and science of government&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl W. Deutsch, lewat bukunya ini tidak lain mau mengartikulasikan nilai keindahan atau estetika dari sebuah politik semesta. Politik menurutnya adalah seni pengambilan keputusan lewat sarana umum. Sarana umum bisa bermacam-macam, tetapi yang dipilihnya dalam mengembangkan diskursus politiknya ini adalah ilmu komunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan pendekatan ilmu komunikasi bukan bermaksud untuk meramaikan bursa ide-ide politik yang bisa dipakai sebagai acuan, tetapi lebih merupakan suatu cara memberikan arah baru dalam berpolitik. Artinya politik harus diberi pijakan ide-ide segar, up to date, relevan dan kontekstual dengan situasi zamannya. Dan menurutnya salah satu hal yang berpengaruh besar terhadap perkembangan politik sekarang ini adalah pengaruh alat telekomunikasi. Sejak gelombang revolusi agraria muncul  di Inggris abad ke-14-15, cara kita berkomunikasi dengan orang lain dan juga cara kita memandang sesuatu hal sangat berbeda dari sebelumnya. Pendek kata, revolusi Inggris telah memaksa manusia untuk meredefenisi dan meredesign segala sesuatu termasuk hidupnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun juga kemajuan dunia ilmu pengetahuan yang tereksplisifikasikan dalam alat-alat teknogi komunikasi kemajuannya di hari-hari ini melampaui kesiapan manusia untuk menerimanya. Karenanya manusia tidak bisa menafikan atau menghindar diri dari gempuran alat teknolgi komunikasi tersebut. Kita harus selalu melihat bahwa ini adalah sebuah kesempatan yang bisa membantu kita untuk hidup lebih manusiawi dan lebih beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan itu sebagai titik berangkat dari pemahaman tentang politik masa kini, DEutsch mengembangkan gagasan teori komunikasi yang pernah dicuatkan oleh seorang pemikir politik, Norbert Wiener, yaitu gagasan “Sibernetik”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cybernetics” adalah sebuah konsep pemerintahan atau organisasi sosial yang responsif /cepat tanggap terhadap gejala sosial yang terjadi di masyarakat dan dapat memperhatikan kebutuhan individu maupun masyarakat luas. Sebagai studi sistematik atas komunikasi dan kontrol dalam seluruh organisasi, “Cybernetics” merupakan skema konseptual yang berjangkauan luas dan bisa merubah sesuatu, seperti perubahan perhatian kepentingan dari kampanye massal menuju pengaturan organisasi yang tertata rapi, dari pengambilan keputusan yang didasarkan atas daya emosional/instink menuju sistem keputusan, regulasi, dan kontrol keputusan yang transparan dan legitim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan fundamental konsep sibernetik dan relevansinya terhadap ilmu sosial dapat dilihat pada komentar Norbert Wiener berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Eksistensi ilmu-ilmu sosial selalu didasarkan atas kemampuan untuk memperlakukan kelompok sosial sebagai sebuah organisasi bukan sebagai onggokan/gundukan benda/barang. Dan komunikasi adalah semen perekat dari semua organisasi,… dst&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, gagasan sibernetik mau mengafirmasikan bahwa semua organisasi pada tingkat karakter fundamental tertentu adalah sama, yakni semuanya berujung pada efektivitas komunikasi. Hanya dengan komunikasilah orang mampu menyampaikan buah pikiran yang tergumpal dalam bentuk pesan dan pesan itu akan membingkai organisasi. Akhirnya sibernetik menekankan bahwa pemerintah dan sistem kemudinya (&lt;i&gt;steering system&lt;/i&gt;) adalah salah satu proses yang paling menarik dan significant dalam membentuk wacana politik mutakhir. Karena tujuan utama dari gagasan “Cybernetic”  tidak lain mau memberikan pengaruh atau asupan baru bagi kekuatan pikiran manusia secara intelektual dan emosional dan juga kekuatan kolaborasi antara pikiran dengan prilaku organisasi baik itu organisasi diri maupun organisasi pemerintahan. Atau dalam bahasa Karl Jasper disebut sebagai “The Encompassing” (pengaruh). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan kekuatan pikiran/intelektual ini terjadi pada tiga level utama. Pertama, pada level rasio manipulatif (&lt;i&gt;verstand&lt;/i&gt;), yaitu penggunaan perangkat intelektual secara efektif mungkin (proses pemikiran pragmatis: kalkulasi untung-rugi). Kedua, pada level yang sering disebut “wisdom” (kebijaksanaan/bijaksana), yaitu bentuk pemikiran yang ketika menghadapi masalah tidak langsung memutuskan keputusan atau langkah yang harus diambil tetapi butuh waktu untuk menentukan keputusan yang cocok dengan masalah yang sedang dihadapi dan selalu diliputi oleh pertanyaan apakah keputusan itu efektif dan memberikan makna tertentu bagi perkembangan hidup orang banyak dan juga kehidupanku sendiri. Terakhir, adalah level yang bisa dianggap sangat penting sekali karena dapat merubah komunikasi kita, yakni level “perceptive reason”/vernunft (rasio yang cerdas/yang lekas mengerti). Artinya kemampuan pikiran yang bisa secara cepat memahami sesuatu hal. Untuk bisa sampai ke tahap itu orang perlu mengasa kemampuan memorinya dengan memasukkan mencerap sebanyak mungkin informasi atau ilmu pengetahuan apapun ke dalam dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi agar gagasan "cybernetic"  berjalan dengan baik dalam sebuah organisasi atau instansi pemerintahan, maka sangat perlu  setiap individu mengerti tentang kesadaran dan kehendak sosial. Yang dimaksud dengan kesadaran sosial dalam arti ini adalah kemampuan individu untuk mengikuti, mengorganisir, dan melakukan berbagai aturan, keputusan atau konsensus bersama dalam suatu kelompok atau negara. Sedangkan kehendak adalah keputusan internal yang sudah teroganisir secara baik oleh pengalaman atau informasi masa lalu sehingga dalam menghadapi berbagai peristiwa baik yang terjadi di dalam diri maupun di luar bisa diantisipasi dan berusaha untuk mengevaluasinya sembari menemukan kemungkinan-kemungkinan baru/pemaknaan baru (Bab VI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal menarik lainnya dari pemikiran Deutsch ini adalah soal kekuatan memory akan masa lalu dalam membentuk otonomi diri. Dia mengamini bila hidup kita itu hampir berapa puluh persennya ditentukan oleh pengalaman masa lalu kita, seperti yang diyakini oleh dunia ilmu psikologi bahwa adanya kita sekarang ini dibentuk oleh pengalaman masa lalu kita. Bagi Deutsch, ketika kita kehilangan kontak dengan memori atau informasi masa lalu kita, maka di saat itulah kita tidak lagi mampu berhubungan dengan penentuan diri individual atau kelompok sosial. Dalam keadaan itu juga, kehendak atau gairah untuk melakukan sesuatu tidak dapat bekerja secara baik. Tetapi kalau ingatan masa lalu bisa bekerja secara baik, maka dengan mudah orang mendapatkan otonomi diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otonomi diri ini tentu akan berpengaruh besar terhadap pengambilan atau penentuan kebijakan politik dalam suatu organisasi atau negara. Dengan otonomi diri orang bisa secara sadar dan kreatif menentukan sebuah keputusan yang sesuai dengan arah gerak organisasi atau lembaga pemerintah.Ia akan mengenal dirinya bahwa keputusan yang diambil itu tidak merugikan orang banyak dan selalu berdasarkan pada pilihan etis, artinya baik untuk kepentingan orang banyak dan juga untuk diri sendiri. Pendek kata pemikiran Deutsch dalam bukunya ini selalu mengajarkan orang untuk mempraktikkan model politik yang bersantun dalam kata, bermoral dalam pilihan dan berwibawa dalam tindakan. Mungkin dengan melakukan itu semua orang akan menemukan keindahan yang terpancar keluar dari realitas politik. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan kalau saja para politikus atau elite negeri ini selalu bersekolah (schole/bahasa latin = menyediakan waktu luang) untuk mengaktualisasikan &lt;i&gt;the art and science of government&lt;/i&gt; dengan membaca buku ini, sembari meng-upgrade pengetahuannya, ia tidak akan dipandang sebagai politikus banal. Ia akan menjadi lebih mengenal dan mengetahui apa artinya menjadi warga negara, ia akan mengenal tata kelola pemerintahan yang baik dalam suatu negara. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-8533085858507897683?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/8533085858507897683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=8533085858507897683' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/8533085858507897683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/8533085858507897683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/09/estetika-politik.html' title='Estetika Politik'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rvt4shT1zCI/AAAAAAAAAMQ/y_Hm8wxBUwE/s72-c/the+nerves.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-7424143720843855962</id><published>2007-09-03T15:50:00.000-07:00</published><updated>2007-09-17T15:18:19.683-07:00</updated><title type='text'>Dari Rimba dengan Empati</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_YVbPSSUsjHg/Ru77Zbs3H0I/AAAAAAAAAH8/9aUQwXt2m6Y/s1600-h/sokola+rimba.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111299041463312194" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 87px; height: 116px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_YVbPSSUsjHg/Ru77Zbs3H0I/AAAAAAAAAH8/9aUQwXt2m6Y/s200/sokola+rimba.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Judul: Sokola Rimba, Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba&lt;br /&gt;Penulis: Butet Manurung&lt;br /&gt;Penerbit: Insist Press, 2007&lt;br /&gt;Tebal: ix + 250 (termasuk indeks) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Belanguunn, ibuk gurua tiba!! Mumpamono kabaron kawana gaek lapay?” (Astagaa... ibu guru datang!! Bagaimana kabarmu, hai gadis lapuk?)&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia datang dari jauh seperti pertapa. Serupa bijak bestari muda. Dari rimba, dia sodorkan sebuntal inspirasi dan juga harapan. Dia datang tanpa muntahan kata-kata dalam perdebatan sebagaimana riuhnya genderang perang tiap tahun antara pemerintah dan orangtua murid yang anak-anaknya tak lulus Ujian Nasional. Atau para aktivis pendidikan yang menggertak pemerintah di jalanan untuk merealisasi anggaran 20 persen dari APBN untuk pendidikan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RtyQnXTzarI/AAAAAAAAALo/ybVEz7I2_2k/s1600-h/butet+rimba.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RtyQnXTzarI/AAAAAAAAALo/ybVEz7I2_2k/s320/butet+rimba.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106115083477674674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dia memang seorang aktivis. Tapi jangan bayangkan dia seperti sosok Chico Mendes yang menyusun basis revolusi di pedalaman. Atau seperti Vandana Shiva yang menyusun tesis yang ribet tentang konservasi alam. Mulanya, ketika memasuki rimba Jambi, dia masih memacak niat untuk memodernkan Orang Rimba lewat sebuah LSM yang memanggilnya. Tapi niat itu tertelikung dan runtuh bahwa Orang Rimba harus dikasihani dengan mental pesimis dan tak melihat mereka dalam posisi yang sederajat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama berinteraksi, dia sadar bahwa orang-orang rimba itu hanya butuh sekelumit pengetahuan tentang baca, tulis, dan hitung untuk berinteraksi kepada orang lain di perkotaan agar mereka terhindar dari mangsa penipuan. Mereka tak perlu diceramahi bagaimana menjaga hutan. Mereka tak perlu diajarkan ilmu konservasi yang njlimet hanya untuk memahami kenapa hutan perlu bestari. Yang barangkali perlu adalah bagaimana memasok keunggulan diri Orang Rimba dan membantu menggali potensi kolektif itu serta hak-hak mereka di hadapan hukum kalau ada sengketa lahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saur Marlina Manurung atau akrab panggil Butet adalah nama pertapa muda yang progresif itu. Mengantongi dua ijazah, Antropologi dan Bahasa, perempuan yang menghabiskan waktu kecilnya di Leuven, Belgia, ini memasuki rimba seorang diri dengan segenap keraguan. Langkah ragu Butet itu mengingatkan saya pada perjalanan yang sama yang dilakukan penyair dan pemenang nobel sastra 1971 asal Chile, Pablo Neruda, ketika memasuki jantung kesunyian Pegunungan Andes.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan puitis, Neruda menggambarkan perjalanannya di antara bianglala rimba itu sembari membisikan sebaris mantera: “dengan kesabaran membara kita akan taklukkan kota agung yang bakal memberi cahya, keadilan, dan martabat bagi segenap umat manusia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lirih dan sederhana, Butet juga menuliskan “penyusupannya” di antara celah dedaunan belantara, akar bahar raksasa, selapisan tanah yang mengendap selama berabad-abad, dan pohon jangkung sialang (madu) yang disucikan. Lalu didapatkannya dirinya menggigil ketakutan di tengah dangau sendirian seperti tercampak di sebuah dunia yang gaib, rahasia, dan sekaligus menjadi ruang sengketa terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan harian Butet yang berjudul &lt;i&gt;Sokola Rimba&lt;/i&gt; ini bukan hanya catatan tentang etnografi rimba dan upaya dia mendirikan &lt;i&gt;Sokola&lt;/i&gt; (baca: sekolah), tapi juga kitab kearifan hidup berdampingan dengan manusia-manusia di dalamnya. Buku ini adalah kunci dan Butet adalah patok dari semua proses itu. Boleh jadi sudah banyak yang melakukan serupa sebelum Butet. Tapi kehadiran Butet adalah momentum untuk melihat bagaimana pemberdayaan itu diukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butet memulai segalanya dengan sangat perlahan. Awalnya Butet digeret oleh sebuah tenaga donor dengan pelbagai target. Laporan-laporan dan foto-foto kegiatannya adalah nyawa bagi mengalirnya dana dari pemberi donor. Dia tersiksa. Nuraninya berontak. Lalu dia memilih jalan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan membayangkan &lt;i&gt;Sokola Rimba&lt;/i&gt; butet adalah sepetak bangunan tembok dan beratap seng bantuan Inpres selazimnya. Sokola itu hanya dangau kecil tak berdinding agar jika tak dibutuhkan lagi bisa segera ditinggalkan. Ini adalah sekolah nomaden di mana sekolah-nya yang mendatangi murid dan bukan sebaliknya. Maka jika ditanya, di manakah alamat Sokola Rimba itu, maka Butet menjawab enteng: pada koordinat 01' 05' LS - 102' 30' BT. Pasalnya sentra Sokola itu tak pasti desa maupun kecamatannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di &lt;i&gt;sokola&lt;/i&gt; itulah Butet membagikan buku tulis bergaris, pensil, dan pena secukup yang dia punyai. Yang tidak kebagian disilahkan mengambil ranting dan menggarisi tanah. Saat tiba waktunya menggambar, seorang murid menangkap seekor kijang kecil. Binatang lucu itu ditidurkan di atas kertas dan mulailah sang murid menggambar ruas-ruas tubuh kijang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas kawasan yang disisir Butet meliputi rimba Bukit Dua Belas dan Bukit Tiga Puluh. Dia sadar bahwa tenaganya tak sanggup merengkuh itu. Dia juga tak mungkin memanggil orang kota yang pasti akan menyulitkannya. Maka dibuatnya sistem melatih anak-anak yang sudah mahir untuk menjadi guru. Butet mengistilahkan tim kecilnya ini sebagai: kader-guru. Dengan 14 orang kader-guru angkatan pertama Sokola Rimba inilah Butet terus merangsek ke jantung rimba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedapat mungkin materi pelajaran yang diajarkannya langsung bisa dirasakan manfaatnya. Bagi Butet, sekolah harus berkontribusi langsung bagi kehidupan dan mampu membuat Orang Rimba menyadari siapa dirinya, posisinya, dan memberitahu akan seperti apa dia kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan besar yang dihadapi Orang Rimba, sebagaimana diinventarisasi Butet dengan lirih dan kerap meledak-ledak, adalah bahwa hutan yang kian sempit, sementara mereka sudah berada dalam kepungan pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah mengklaim bahwa Taman Nasional atau hutan yang dilindungi sudah banyak di Jambi, seperti TN Berbak, TN Kerinci Seblat, TN Bukit Tiga Puluh, dan TN Bukit Dua Belas. Namun tak pernah diberitahu masih berapa sisa tegakkan pohon yang garis tengahnya lebih dari satu meter seusai digebuk habis-habisan ribuan bulduzer perkebunan, sementara debit air menurun dan banyak tanaman obat-obatan tradisional yang raib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada posisi yang memakzulkan Orang Rimba itu, Orang Terang datang menawarkan pilihan yang memaksa: keluar hutan dengan agama baru (Islam atau Kristen) dan hidup dengan hasil kelapa sawit. Padahal untuk memilih, mereka mesti dibebaskan membandingkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kebebasan itu tak pernah mereka dapatkan lantaran stereotip yang menangkar dalam masyarakat, dan bahkan di kepala rekan-rekan Butet yang aktivis. Bahwa Orang Rimba tak maknyus mengenal teknologi termutakhir seperti email, motor, celana jeans, bahkan kalau perlu mereka memakai cawat terus supaya terlihat eksotis, alami, dan sebagainya yang khas pikiran para pelancong. Dengan stereotip itu sebetulnya kita telah menutup pintu kebebasan mereka untuk memilih yang mereka sukai, apakah memakai baju tradisional atau jeans. Bukankah kita tak berhak mengatakan mana yang lebih baik untuk mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menanamkan kebebasan memilih itulah, Butet tetap bertahan. Mulanya dia sendiri habis-habisan menjaga asa agar tak meredup di jantung gelap rimba. Mengajarkan membaca, menulis, berhitung, menggambar, dan memberitahu hak-hak mereka adalah dasar ilmu buat kelak mereka memilih dan menentukan nasibnya sendiri. Beberapa orang memang turut bergabung dari usaha pendidikan Orang Rimba ini dan mendirikan lembaga bernama SOKOLA, namun Butet tetaplah magnet dan patok dari semua jerih kecil tapi dikerjakan dengan penuh sadar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butet adalah nurani pendidikan yang sudah sangsai dan boyak oleh cakar kapitalisme. Yang disodorkannya tiada lain adalah empati. Dengan berempati, orang-orang rimba itu merasa dihargai dan diperhatikan dengan tulus. Sebab pengalaman juga yang membisiki bahwa Orang Rimba sudah terlampau paranoia dengan setiap keasingan yang menyusup di antara dedauanan belantara kekuasaan mereka. Hanya dengan bibit empati yang disebar Butet dan kesabaran membara, sekat itu koyak dan ketulusan itu bersambut. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-7424143720843855962?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/7424143720843855962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=7424143720843855962' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/7424143720843855962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/7424143720843855962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/09/dari-rimba-dengan-empati.html' title='Dari Rimba dengan Empati'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YVbPSSUsjHg/Ru77Zbs3H0I/AAAAAAAAAH8/9aUQwXt2m6Y/s72-c/sokola+rimba.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-6124036749300137072</id><published>2007-08-07T20:54:00.001-07:00</published><updated>2007-08-07T20:58:19.370-07:00</updated><title type='text'>Kedai Pascakolonial Okri</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rrk_I6QBkVI/AAAAAAAAAKk/WhQ4TgZ9jIk/s1600-h/BEN+OKRI_cover+buku+for+BLOG.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rrk_I6QBkVI/AAAAAAAAAKk/WhQ4TgZ9jIk/s320/BEN+OKRI_cover+buku+for+BLOG.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5096173875654398290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Judul: The Famished Road&lt;br /&gt;Penulis: Ben Okri&lt;br /&gt;Penerjemah: Salahuddien Gz&lt;br /&gt;Penerbit: Serambi, Jakarta, Juni 2007&lt;br /&gt;Tebal: 846 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ben Okri membuka hulu novel &lt;i&gt;The Famished Road&lt;/i&gt; dengan metafor sungai. Saya tak tahu apa yang ada di kepala Okri ketika menisbahkan sungai sebagai pembuka dari kisah panjangnya. Yang saya tahu bahwa sungai menjadi kawasan lahirnya peradaban-peradaban besar. Sungai Gangga melahirkan peradaban India (Maha Bharat). Sungai Nil melahirkan imperium Mesir di Afrika. Sungai Eufrat dan Tigris yang melahirkan peradaban Mesopotamia di jazirah Arab. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul bahwa sungai adalah jaminan kehidupan. Tapi sungai juga menyimpan enigma, labirin, larat teka-teki, duka-cita, dan berlapis-lapis misteri yang kadang tak sanggup dilerai oleh ikhtiar manusia. Di kelokan sungai itulah Okri melepas Azaro, seorang bocah ingusan yang coba menyabung takdirnya sebagai seorang &lt;i&gt;abiku&lt;/i&gt; (anak-roh) di dua alam yang saling menarik secara tegas. Suara dan/atau ikhtiar Azaro tentang labirin dari sebuah jalan rupanya menjadi semangat yang ingin disusur novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman-halaman awal, Okri dengan cergas meletakkan beberapa ranjau pertanyaan yang menjadi teka-teki hingga hilir sungai penceritaan yang oleh karena itu ia terkesan sebagai pencerita yang lamban dan tak menggebu-gebu. Okri memang dikenal sebagai pencerita gaya baru Afrika. Rasional sekaligus magis. Visioner sekaligus tunak. Ia mahir menggambarkan seluk-beluk dunia batin Afrika. Kemahiran yang sama juga terasa tatkala ia menerangkan pergolakan politik yang berkecamuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya dalam permainan jumaji, Okri langsung menyeret kita ke alam gaib di rimba rohani Nigeria di mana latar kisah ini berlangsung. Di hutan itu kita akan segera bertemu dengan barisan rapat pohon-pohon iroko, baubalo, obeche serta burung dengan bulu kaki serupa rambut manusia, antelop berwajah biarawati, laki-laki tua di sarang semut, macan bersayap perak bergigi banteng, anjing-anjing berekor ular bercakar perunggu, kucing-kucing berkaki wanita, orang-orang cebol yang kepalanya penuh tonjolan, pohon yang berdiri mirip ekor banteng tak bertanduk, dan naga bertubuh gajah berwajah seekor warthog yang memakan manusia dan jiwa-jiwa yang tersesat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Okri tak mesti terlihat heroik memperlihatkan pertentangan ras yang keras dan pergesekan yang panas antara tradisi dan modernitas di benua Afrika. Okri lebih halus dalam mengurai konfrontasi antara dunia mistis (Afrika/Terjajah) dengan dunia potensial (Eropa/Penjajah) dengan intuisi seorang pencerita yang lihai dan sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan fasih Okri mengisahkan dunia mistis dalam tradisi Yakuba, namun tak jatuh sinis pada dunia potensial (kemodernan) yang disodorkan oleh tradisi Eropa, khususnya Britania Raya. Maka setelah para dukun yang dikoordinatori Mak Koto membebaskan Azaro dari roh-roh yang berdiam di rumah polisi yang mewah yang di dindingnya menggantung salib, Okri memindahkan latar dan konteks penceritaan di sebuah kedai tuak dan rumah Azaro yang reyot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okri yang kuat dan tunak dalam detail tak mesti menceritakan revolusi Biafra yang gigantik yang mengelilingi kehidupan keluarga Azaro yang melarat. Okri cukup menaruh Azaro di kedai tuak Mak Koto. Sebab di kedai kecil inilah panggung pascakolonial sesungguhnya yang kemudian menjadi pusat penceritaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=”center”&gt;***&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat pipa, kedai tuak Mak Koto menjadi penghubung kehidupan rimba yang dihuni roh masa silam Azaro dengan dunia luar yang hiruk-pikuk, nilai-nilai modernitas yang berdesakan masuk, serta politik busuk yang memaksakan pengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedai ini merupakan pembayangan Okri atas Nigeria pascakolonial. Di sini lalar-lalar hijau mendenging-denging, kadal-kadal berkeliaran, dan muntahan tuak mengotori sebuntel kalender Coca Cola yang tergeletak di lantai dan tumpahan sup lada yang membasuh payudara perempuan berkulit putih yang membetot penuh dalam kain terbatas. (hlm. 383)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kotor dan jorok, kedai tuak ini tetaplah alamat yang laris bagi siapa saja yang ingin merayakan hidup. Ia menjanjikan kesenangan dan sekaligus memperlihatkan situasi kekacauan pasca perang sipil yang membabar Nigeria. Pengunjungnya berasal dari pelbagai lapis masyarakat; mulai dari para pengusaha modern, kontraktor, eksportir, politikus berpakaian kaftan cerah, agbada, dan stelan safari, sampai dengan preman-preman, pengemis, dan pengkhianat partai. (hlm. 375)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kedai ini pula Okri leluasa melontar cemoohan pada kondisi politik Nigeria yang nekrofilik, agresif, rasialis di mana masyarakatnya dicabik-cabik kelaparan. Di sinilah Okri dengan muram berkata tentang apa arti lapar dan tuak bagi Afrika. (hlm. 67) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup hanya soal politik nekrofilia, kedai ini juga menjadi tempat roh-roh bermata juling dan bengkak, berbibir besar dan lebam bermabuk-mabukan. Bersama roh albino dan roh berkepala tiga—dan bahkan roh berkepala empat—merancang rapat untuk membekuk Azaro untuk kembali ke asal-mula yang ditinggalkannya begitu saja demi cintanya kepada kemajuan dunia. Dan Azaro selalu menjadikan Mak Koto sebagai pelindung dan kedai sebagai pertahanan terakhir dari kejaran roh-roh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran sosok Mak Koto di sini tampaknya dimaksudkan Okri sebagai pawang tradisi. Dia adalah pagar, batas, dan rasionalisasi, sekaligus jembatan bagi Azaro untuk melihat dengan jernih bagaimana mesti berjalan ke depan dalam posisi menghadap ke rimba roh. Saya kira Mak Koto adalah &lt;i&gt;The Last Mohican&lt;/i&gt; yang dipasang Okri sebagai “nurani” Nigeria yang menjaga tradisi dan masa silam (sebagai dukun), permisif secara sosial (mucikari), mesin politik (juru kampanye partai orang kaya), avant garde kemajuan ekonomi-teknologi (kedainya satu-satunya berlistrik dan orang pertama punya mobil kodok), serta pintu penghubung bagi bangsa-bangsa Eropa (bersekutu dengan para penginjil berkulit-berbaju putih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Mak Koto adalah representasi dari harmoni sosial-kultur dan pusat mesin politik, maka Bapak Azaro dipinjam Okri sebagai penutur secara terbuka bagaimana Nigeria berada dalam tekanan orang-orang dari ras putih. Kaum putih, misalnya, digambarkan tak ubahnya si raksasa jalanan yang kakinya melebihi pohon kelapa, kepalanya jauh lebih besar dari batu karang, perutnya seluas danau yang kalau kencing sumur jorok akan tercipta. Dan Sang Raksasa Jalanan itu susah matinya karena ia diasupi oleh semangat kapitalisme yang digawangi diktator-diktator lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Azaro adalah arketip fisikal dari Afrika yang berwatak keras, pekerja yang gigih, tapi hidupnya tetap melarat. Ia memang menjadi petarung hebat dan mengalahkan dua petarung kampung yang paling digdaya dan sekaligus menumbangkan seorang lelaki tangguh mandraguna berbaju putih. Setelah mendapatkan secuil tenar, ia coba menaikkan mimpi menjadi kepala negara. Dibelinya buku-buku politik dari uang hasil taruhan berkelahi yang dibacakan oleh Azaro. Dengan pengetahuan pas-pasan itu dibikinnya partai tandingan dengan hasil yang sangat menyedihkan: cuma beroleh anggota 7 orang pengemis kudisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar tak punya kuasa melawan politik-modal para tuan tanah, ia pun rebah dan hanya bisa mengais-ngais impian andaikan ia terlahir sebagai manusia kulit putih (hlm 734). Namun ia tetaplah lelaki Afrika yang mungkin saja bisa menjelajahi seluruh planet ini, tapi toh tak mampu bergerak satu inci pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=”center”&gt;***&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti Chinua Achebe dalam &lt;i&gt;Things Fall Apart&lt;/i&gt; atau JM Coetzee dalam &lt;a href=http://resensiresensi.blogspot.com/2007/07/jm-coetzee-politik-ras-dalam-sastra.html&gt;The Waiting for the Barbarians&lt;/a&gt; yang lantang mengutuk kebiadaban ras putih, Okri lebih memilih jalan moderat. Bukan berarti bahwa Okri tak tahu bahwa sudah ratusan tahun lamanya rezim kolonial mendistorsi sejarah Afrika sebagai sejarah yang diisi masyarakat barbar, primitif, dan animis. Dalam bahasa intelektual pascakolonial asal Aljazair, Frantz Fanon, kolonialisme tak puas sekadar mencengkeram buhul kepala penduduk yang dikoloninya dan mengisap tandas sari hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, menampilkan dunia animis sebagai pusat cerita dan sekaligus pembayangan masa depan menjadi strategi literer Okri untuk melumpuhkan cara pandang yang distorsif. Menyodorkan dunia roh Azaro di jantung literasi kolonial (Britania) adalah usaha membalikkan kesadaran kolonial menjadi sebuah studi pascakolonial yang memang kritis terhadap semua stigmatisasi yang meremehkan sejarah dunia ketiga, sebagaimana manusia Indonesia pernah dilabeli Eropa (Belanda) sebagai bangsa monyet dari kumpulannya terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada cara lain yang bisa dilakukan Okri untuk merenggang ketegangan ras yang dijejali stereotip itu kecuali berucap: “Satu-satunya jalan keluar (orang kulit putih) dari Afrika adalah menjadi orang Afrika.” (hlm 813)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka keluarnya novel ini sebagai pemenang Booker Prize pada 1991 bisa dibaca sebagai jalan “orang kulit putih menjadi Afrika” sebagaimana dimaklumatkan Okri. Di luar dari itu, novel ini kiranya bisa ditera sebagai &lt;i&gt;documentary meaning&lt;/i&gt; yang dirumuskan Karl Mannheim. Yakni, dokumen sosial politik (dunia potensial) dan ensiklopedi dunia roh (dunia mistis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma yang agak mengganggu dan menghantui saya adalah gambar Azaro di sampul novel ini. Kok lama-lama saya perhatikan kayak Pak Harto ya....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-6124036749300137072?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/6124036749300137072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=6124036749300137072' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/6124036749300137072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/6124036749300137072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/08/kedai-pascakolonial-okri.html' title='Kedai Pascakolonial Okri'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rrk_I6QBkVI/AAAAAAAAAKk/WhQ4TgZ9jIk/s72-c/BEN+OKRI_cover+buku+for+BLOG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-2985712880811665486</id><published>2007-07-25T05:00:00.001-07:00</published><updated>2007-07-25T05:11:30.550-07:00</updated><title type='text'>Karena Menulis adalah Jalan Hidup</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh &lt;a href="http://hanyaudin.blogspot.com/"&gt;M Sulhanuddin&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rqc90aQBkPI/AAAAAAAAAJ4/datYoM0Jjo0/s1600-h/bukucadwel.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rqc90aQBkPI/AAAAAAAAAJ4/datYoM0Jjo0/s200/bukucadwel.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091105874374660338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Judul: Menulis adalah Jalan Hidupku&lt;br /&gt;Judul Asli: Call it Experience, The Years of Learning How to Write&lt;br /&gt;Penulis: Erskine Cadwell&lt;br /&gt;Penerjemah: Maufur&lt;br /&gt;Penerbit: Bustan, Yogyakarta, 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kalau sampai waktuku&lt;br /&gt;'Ku mau tak seorang kan merayu&lt;br /&gt;Tidak juga kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu sedu sedan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ini binatang jalang&lt;br /&gt;Dari kumpulannya terbuang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;..................................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari puisi "Aku" karya Chairil Anwar .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali sajak Chairil Anwar itulah yang cukup bisa menjelaskan sikap Erskine Cadwell ketika memutuskan meninggalkan karir jurnalistiknya di The Atlanta Journal demi menjadi penulis fiksi profesional. Seperti yang didapatkan setelah membaca sajak "Si Binatang Jalang" itu, kesan yang muncul dari sikap Erskine itu, dia adalah pribadi yang angkuh dan tak kenal kompromi. Baik Chairil maupun Erskine sepertinya tak mau berdamai dengan keadaan, sebaliknya mereka malah hendak menaklukkannya. Jelas saja keputusan Erskine itu membuat cemas beberapa rekan kerjanya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hunter Bell, redaktur di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Atlanta Journal&lt;/span&gt;, tempat Erskine mulai meniti karir jurnalistik profesionalnya, menasehatinya agar mengurungkan niatnya. Hunter memberikan gambaran sebuah masa depan suram bagi mereka yang tidak beruntung dalam hidup yang berharap dapat hidup, makan, dan berjalan di muka bumi tanpa memiliki pekerjaan tetap. Hunter berharap Erskine akan berubah pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Skinny—begitu ia biasa disapa oleh rekan kerjanya-- sudah membulatkan tekad. Keinginnannya untuk melibatkan diri secara total dalam dunia penulisan kreatif tak bisa dicarikan tandingannya. Dan kini hasrat itu harus disalurkan, ia harus segera dituntaskan, entah apapun keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya jika dirunut keputusan nekad Erskine itu terpicu oleh Peggy Mitchel, seorang perempuan dengan personalitas menarik dan memiliki wajah cantik menurut ukuran Erskine, yang rela meninggalkan karir jurnalistiknya setelah bekerja selama sepuluh tahun di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Atlanta Journal&lt;/span&gt;. Bagaimanapun Peggy berhasil menerbitkan bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gone With The Wind&lt;/span&gt;. Erskine mengaguminya karena kepercayaan dirinya untuk melepas pekerjaan demi menulis sebuah buku. Dia bertanya pada dirinya sendiri, mampukah aku suatu saat membuat keputusan serupa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka siang itu, setelah ia menerima jamuan makan dari Fred Houser, manajer &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Atlanta Convention and Tourist Bureau&lt;/span&gt;, atas liputannya yang memuaskan, dia menegaskan keputusannya untuk menjadi penulis fiksi profesional. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dirinya juga bisa hidup dari menulis fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan ia meninggalkan Atlanta menuju Negara Maine, sebuah tempat yang jauh dari peradaban kota. Pedesaan dengan perbukitan yang mengombak oleh beragam pepohonan rindang, padang rumput yang lebat memagari sungai-sungai kecil berliku, menjadi hunian barunya. Ia berpikir tempat ini sangat cocok untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim panas segera berakhir, ia mulai mengumpulkan kayu untuk perapian di musim dingin. Ia mananam kentang di ladang untuk di makan. Siang hari ia habiskan di ladang dan mengumpulkan kayu, malamnya ia menulis, sisanya untuk istirahat. Secara matematis, 24 jam dalam sehari ia habiskan 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk menulis, dan sisanya 8 jam untuk beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belasan, hingga puluhan cerita pendek telah ia tulis dengan mesin ketik butut yang ia beli dari hasil memeras keringatnya menjadi buruh kasar di pabrik minyak biji kapas ketika dirinya masih duduk di bangku setingkat SMU. Ia bekerja di malam hari, berangkat ketika orang di rumah mulai tertidur dan kembali dengan mengendap-endapkan langkah kakinya agar orang di rumah tidak terbangun dan mengira ia tertidur pulas semalaman. Sebentar kemudian dia bergegas berangkat ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya penghasilan ayahnya sebagai pastor di gereja di dekat tempat tinggalnya sudah mencukupi. Namun karena keinginannya untuk bekerja, membuatnya mau bekerja apa saja. Semasa sekolah ia melakukan pekerjaan apa saja, menjual koran, menjadi juru ketik, menulis berita didaerahnya untuk beberapa surat kabar. Rupanya minat menulisnya tanpa disadari mulai tumbuh. Ketika kuliah di Universitas Virginia dia melanjutkan minat menulisnya dengan menjadi kontributor untuk beberapa surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai mengirim cerpen-cerpennya ke beberapa surat kabar. Namun tak satupun dimuat. Ia sudah cukup senang ada satu-dua yang memberikan penjelasan alasan penolakan. Kegiatan ini terus dilakukan, mengirim cerpen, dan mendapati surat penolakan, hingga surat-surat itu menumpuk. Diam-diam memandangi tumpukan surat penolakan dan membacanya menjadi kenikmatan yang tak bisa ia jelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang redaktur menyarankan agar dia meniru cara menulis para penulis yang sedang populer. Seorang redaktur lain menyarankan agar dia menekuni bidang pekerjaan lain mengingat bisnis surat kabar yang tidak menentu akibat krisis yang sedang melanda Amerika, sehingga peluang untuk menulis cerpen semakin sempit. Komentar-komentar itu dibacanya, diambil seperlunya agar ia tak sakit hati dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan persediaan uangnya yang mulai menipis ia masih butuh membeli perangko untuk mengeposkan surat, membeli beberapa batang rokok, kopi dan gula untuk teman mengetiknya di malam-malam hari. Dia bertekad menjual buku-bukunya yang dikumpulkan dari hasil menjadi pereview buku di The Atlanta Journal. Koleksi bukunya mencapai ratusan, dan kebanyakan adalah novel dan kumpulan cerpen. Ia pergi ke kota, mengunjungi tempat penjualan buku bekas hingga akhirnya bertemu kenalan yang menawarinya untuk menjalankan bisnis buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama kawannya ia membuka kios buku. Buku-buku koleksinya dan beberapa buku tambahan dari agen penerbit ditata di rak. Namun bisnis buku ini bukannya menghasilkan tapi malah membuatnya makin terlilit hutang. Ia sudah kehabisan akal bagaimana untuk mendapatkan uang. Yang jelas dia hanya ingin menjadi penulis, bukan berbisnis buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berjanji kepada dirinya sendiri, pekerjaan apapun, diluar menulis, dilakukan hanya untuk sementara dan semata-mata untuk tujuan bertahan hidup, memiliki tempat tinggal, dan berpakian layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman lama mengajaknya ke suatu tempat, yang kemudian dia tahu tempat yang dituju itu adalah bank. Pegawai bank menanyakan jaminan apa yang dapat diberikan Erskine, kapan dia sanggup mengembalikan pinjaman. Erskine tak punya jaminan yang cukup bernilai, kecuali sebuah mobil tua dan mesin ketik usang. Temannya meyakinkan pegawai bank kenalannya itu bahwa Erskine adalah seorang calon penulis. Dia serius ingin menjadi penulis, dan kelak bukunya akan diterbitkan. Pegawai bank yang mengaku sebenarnya juga ingin menjadi penulis itu mengangguk dan segera menyuruh stafnya mencairkan pinjaman sebesar $1000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erskine pasti sudah memperhitungkan keputusannya meninggalkan pekerjaan demi menjadi penulis fiksi profesional. Godaan akan selalu menghantui bagi siapa saja yang mengambil keputusan seperti dirinya, yang hendak menjadikan aktivitas menulis sebagai jalan hidup, sementara hasil menulis sebagai mata pencaharian tak kunjung terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mental sekuat baja, tak bisa ditawar, harus dipersiapkan agar mampu menjalani masa-masa yang paling sulit, masa di mana tiada jaminan finansial yang memadai. Jika tidak, ia akan tergoda untuk mengalihkan perhatiannya kepada pekerjaan yang bagi kebanyakan orang lebih rasional, pekerjaan yang lebih bisa menghasilkan uang. Dan keinginan menjadi penulis fiksi profesional menjadi angan-angan yang lebih layak untuk ditertawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Erskine pada akhirnya dapat memetik hasil jerih-payahnya. Perlahan-lahan cerpennya mulai dimuat di koran kecil, hingga menembus Scribner’s Magazine, sebuah keinginan yang sudah dinanti-nantinya menaklukan media yang memiliki distribusi luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan cerpennya yang diberi judul American Earth dibukukan. Tak lama kemudian menyusul novel perdananya Tobaco Road, yang terinspirasi dari sebuah kehidupan di perkampungan miskin di dekat tempat tinggalnya, sebuah jalan yang dibuat dengan menggelindingkan tong yang diisi tembakau yang diawetkan. Untuk pertama kalinya, ia menerima bond royalty dari penerbitan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;God’s Littele Acre&lt;/span&gt; yang menurutnya paling memuaskan, You Have Seen Their Faces, dan novelnya Tobaco Road yang telah dipentaskan lebih dari tujuh tahun, hasil royalti yang diterimanya tidak bisa dibilang telah cukup membuatnya menjadi seorang yang terbebas dari masalah keuangan. Penghasilan darinya waktu itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan sehari-harinya, bahkan masih kurang untuk gaya hidupnya yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia memang gemar sekali mengunjungi tempat-tempat baru, menjelajahi seluruh kawasan benua Amerika, bahkan dunia. Kondisi finansialnya baru dikatakan lebih membaik setelah dia menjadi penulis skenario untuk film di MGM, yang menggajinya $3000 per minggu, penghasilan tertinggi yang pernah di terima sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapapun jumlah penghasilan yang didapatkannya dari menulis fiksi, setidaknya dia sudah mewujudkan keinginannya untuk menerbitkan karyanya di surat kabar, kumpulan cerpen dan novel-novelnya sudah dibukukan. Selama penghasilannya dari menulis fiksi belum bisa untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, maka dengan sadar ia pun akan melakukan pekerjaan lain demi mewujudkan ambisinya. Kini kerjanya sudah membuahkan hasil. Namanya disandingkan dengan John Steinbeck , William Faulkner, dan pengarang terbaik Amerika lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak perjalanan hidup Erskine ini, sama seperti saya, barangkali anda akan mengajukan pertanyaan, kenapa dia bersiteguh ingin menjadi penulis fiksi professional, kenapa tidak menjadi bankir, atau melakukan pekerjaan lain yang lebih mudah menghasilkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menulis adalah Jalan Hidupku&lt;/span&gt; yang diterbitkan oleh Penerbit Bustan Yogyakarta, diuraikan secara rinci perjalanan menulis Erskine Cadwell. Buku yang ditulis sendiri oleh Erskine ini di dialihbahasakan dari buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Call it Experience, The Years of Learning How to Write&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakuinya, keputusan Erskine menjadi penulis fiksi profesional karena dirinya suka menulis, dan tak yakin bisa melakukan pekerjaan lain selain bidang ini. Oleh karena itu, ia ingin menjadikan menulis sebagai penopang hidupnya. Ia menganggap apa yang dikerjakanya sebagai hal yang wajar, karena baginya semua pilihan pekerjaan membutuhkan ketekunan. Begitu juga dengan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada seorang yang hendak menjadi penulis, namun ditengah jalan menemukan alasan yang menurutnya lebih logis untuk melakukan pekerjaan lain, berarti memang dia tidak punya modal yang cukup untuk menjadi seorang penulis. Pada akhirnya tingkat intensitas keadaan pikiranlah yang menentukan kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam profesi yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis fiksi dipilihnya karena cerpen atau novel adalah cermin bagi orang-orang. Ia mendefinisikan cerpen atau novel sebagai cerita imajiner bermakna yang cukup menarik perhatian pembaca dan cukup mendalam untuk meninggalkan kesan abadi dalam pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menampik anggapan bahwa untuk menjadi seorang penulis seorang harus miskin dulu agar cocok dengan dunia kepenulisan. Yang dibutuhkan adalah semangat keuletan yang dapat melecut orang untuk berjuang keras mengatasi setiap penghalang menuju kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun tak menganjurkan siapa saja yang hendak menjadi penulis untuk meninggalkan pekerjaan utamanya. Ia mengambil contoh banyak penulis ternama yang bukan penulis profesional. Banyak karya bermutu yang dihasilkan oleh mereka yang dipaksa untuk melakukan pekerjaan rumah setiap hari atau menjalankan bisnis dalam lima atau empat hari dalam seminggu. Ketika menulis sudah menjadi hobi, maka siapapun akan menyempatkannya. Dan seperti hobi-hobi yang lain, menulis bisa dikerjakan tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusannya meninggalkan karir jurnalistiknya bukan karena keterampilan menulis jurnalistik bertentangan dengan menulis fiksi. Sebaliknya, menulis jurnalistik justru yang mengantarkan minatnya dalam dunia tulis-menulis. Belajar menulis dengan bentuk apapun tak ada yang merugikan. Dari pengalamannya, menulis jurnalistik membantunya untuk membiasakan diri menulis setiap hari. Menunggu inspirasi adalah pernyataan yang jarang sekali dijumpai di kalangan wartawan yang terlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh saja menganggap apa yang dilakukan oleh Erskine itu sebagai sesuatu yang mengada-ada, sesuatu yang berlebihan yang sebenarnya mudah tapi dibuat sulit oleh dirinya sendiri. Namun bagi anda yang saat ini sudah memutuskan diri menjadi penulis profesional, baik itu fiksi maupun non fiksi, sedikit banyak pasti sudah melewati masa-masa itu. Hanya saja intensitasnya mungkin berbeda. Anda bisa saja lebih beruntung ketimbang Erskine yang menempuh karir menulis profesioanlnya dengan berdarah-darah. Jika anda menyadari ini, maka anda akan bersyukur bahwa ternyata ada yang lebih menderita dari anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya hidup adalah pertaruhan. Maka saya dan juga anda harus berani memilih dan tegas mengambil tindakan. Profesi apakah yang sebenarnya anda inginkan. Apakah anda lebih mencintai menulis dari kesenangan-kesenangan anda yang lain? Jika iya, maka teruslah berjuang. Contohlah semangat menulis kedua "binatang jalang" Chairil dan Erskine. Percayalah, setiap usaha pasti ada hasilnya. Good Luck!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-2985712880811665486?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/2985712880811665486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=2985712880811665486' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/2985712880811665486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/2985712880811665486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/07/karena-menulis-adalah-jalan-hidup.html' title='Karena Menulis adalah Jalan Hidup'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rqc90aQBkPI/AAAAAAAAAJ4/datYoM0Jjo0/s72-c/bukucadwel.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-3011080487925436252</id><published>2007-07-23T19:18:00.001-07:00</published><updated>2007-07-23T19:22:26.930-07:00</updated><title type='text'>Kalian Mau Jadi Penulis atau Pengeluh?</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RqViR6QBkDI/AAAAAAAAAIY/SHHAvNvid4g/s1600-h/chicken+Soup+for+the+writers.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RqViR6QBkDI/AAAAAAAAAIY/SHHAvNvid4g/s400/chicken+Soup+for+the+writers.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5090583013645979698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Judul: Chicken Soup for the Writer’s Soul&lt;br /&gt;Penulis: Jack Canfield, Mark V Hansen, Bud Gardner&lt;br /&gt;Penerjemah: Rina Buntaran&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2007&lt;br /&gt;Tebal: 201 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang profesor berkata kepada seorang penulis partikelir: “Semua sudah pernah ditulis, dan ditulis dengan lebih baik daripada kamu bisa melakukannya. Jika kamu berniat menulis tentang cinta, tragedi, dan petualangan... lupakan saja, karena semua itu sudah dilakukan Shakespeare, Dickens, Tolstoy, Flaubert. Kecuali jika kamu mempunyai sesuatu yang benar-benar baru untuk dikatakan, jangan jadi penulis. Pelajarilah akuntansi!” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas komentar seperti ini, sastrawan kelahiran Chicago, Irving Wallace (1916-1990), gusar dan membentak: “Kata-kata ini konyol, benar-benar bodoh. Bukankah setiap emosi tak pernah persis sama. Bukankah tak pernah ada yang melihat cinta atau merasakan benci persis seperti kau melihatnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah itu adalah salah satu semangat pembangkit energi menulis yang tersaji dalam buku Chicken Soup for The Writer’s Soul ini. Ada 42 kisah yang sama yang coba membekap energi negatif yang menghalangi seseorang menjadikan menulis sebagai profesinya. Ditulis bergaya esai pendek dan dengan bahasa yang menggugah. Mungkin pembaca Indonesia tak terlalu akrab dengan nama-nama di dalamnya dan buku-buku mereka, tapi semangat mereka menjadikan menulis sebagai profesi adalah semangat para ksatria di medan tempur dan patut ditauladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari awal saya sudah haqqul yaqin bahwa sebagai sebuah profesi jelas menulis bukan jalan main-main. Diperlukan sabuk pengaman yang ketat agar tak terhempas terbuang. Betapa banyak penulis yang hanya berkoar-koar ingin ingin dan ingin menulis. Tapi lebih banyak lagi yang terantuk sedikit saja terus meringis cengeng. Mereka mengeluh tak bisa menulis karena kesibukan ini dan keruwetan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahkah mengeluh? Tentu saja tidak jika diartikan bahwa keluhan dan kecengengan itu hanya sebuah usaha menghilangkan katarsis atau ketertekanan diri oleh virus block writing. Tapi ada juga yang kerap menjadikan mengeluh sebagai pekerjaan utama. Dia lebih banyak mengeluhnya daripada terus menerobos kesulitan menulis. Nah, jika kesibukan mengeluh itu yang membuat mereka depresi lalu lumpuh, itu namanya penyakit. Dan pastilah menulis lebih banyak berhenti pada angan-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe manusia seperti ini yang membuat masygul Carmel Bird, penulis buku Dear Writer: The Classic Guide to Writing Fiction. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa menulis itu perkara gampang-gampang saja. Bagi Bird, menulis itu memang menyenangkan. Namun bukannya tanpa risiko. Bahkan bisa dibilang menulis adalah ritual antikeluarga dan antisegalanya. Untuk itu, penulis kelahiran Tasmania itu menekankan lajur keberanian untuk tetap bisa menulis dan ngotot mengesampingkan pekerjaan rumah tangga, kehidupan sosial, mengesampingkan hal-hal yang menghambat dalam menulis. “Jika Anda ingin aman dan terbebas dari bahaya dan gangguan, jangan menulis...,” tegas Bird.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris saja Cristine Clifford bunuh diri setelah tahu bahwa semua keluarganya terserang kanker. Tapi impiannya menjadi penulis komik terkenal yang kemudian menyelamatkan kesuraman hidupnya. Di tengah derai kesedihan yang menyayat hati dan maut menguntit raga, dia pindah dari satu toko buku ke toko buku lainnya hanya untuk mengejar mukjizat. Dia juga dikatai gila oleh penjaga toko ketika menanyakan buku komedi tentang kanker. Dia ingin mencari tahu barangkali ada selapis tipis lelucon dalam kesakitan kanker itu. Usaha yang melelahkan itu berbuah hasil. Kedua bukunya yang ditujukan untuk anak-anak—Not Now... I’m Having a No Hair Day! dan Our Family Has Cancer, Too!—memenangkan penghargaan dan mendapat sambutan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kalian tak mengenal nama Alexander Murphy Palmer Haley (1921-1992). Tapi kalau disebutkan judul buku The Autobiography of Malcomm X, pastilah kenal. Alex-lah penulis buku masyhur itu. Tapi buku Roots yang justru melambungkan namanya dan diganjar Pulitzer Prize pada 1977. Tapi nyaris tak banyak yang tahu bagaimana Alex memulai semua itu sebagai putera imigran Tennesse yang jadi budak di geladak kapal, sesekali membantu para pelaut menuliskan surat cinta mereka buat perempuan-perempuan di darat, dan dihinakan karena berkulit gelap. Tapi dia tak tertekuk walau dipanggil oleh tentara neo-Nazi sebagai simpanse dalam sesi wawancara untuk majalah Playboy. Buku Roots dikerjakannya selama 12 tahun untuk meriset genealogi leluhurnya, Kunta Kinte, dan ditolak oleh banyak penerbit sebelum sukses dan dia menjadi pembicara paling ditunggu. Ketenarannya mungkin setara dengan Oprah Winfrey saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatalah bahwa menulis berarti sebuah laku ketekunan. Bahkan untuk menulis tentang koboi saja, penulis prolifik yang telah menulis 300 buku fiksi, Chet Cunningham, mesti ke toko buku dan memborong 25 novel koboi. Dari novel-novel itu dia mencatat kata-kata dan berbagai frase yang lazim dipakai di era dan dunia koboi, seperti permainan senjata api koboi kuno. Dengan cara itulah Cunningham menciptakan tokoh dan karakter yang unik di novelnya Bushwhacker on the Circle K. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Patricia Lorenz pada September 1992 nekad meninggalkan pekerjaannya yang telah memberinya gaji yang pantas selama bertahun-tahun. Awalnya dia nyaris gila karena menulis ternyata tak seromantik yang dia bayangkan sebelum kunci itu ditemukannya. Bahwa, walaupun bekerja di rumah, menulis juga butuh disiplin dan keberanian untuk jangan nonton TV. Dia menyusun jadwal hariannya dan disiplin melaksanakannya: 8 kilometer naik sepeda selama lima hari, setiap hari minum lima gelas air, lima menit membaca kitab suci, lima artikel dibaca setiap hari, dan lima artikel diposkan setiap minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya dengan ketekunanlah dan bukan tabiat lebih suka mengeluh ketimbang memaksakan diri bekerja sampai titik keringat penghabisan, profesi menulis bisa menjadi sandaran utama kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, menyandarkan hidup dari menulis mungkin masih barang asing dan pilihan yang terkesan nekad. Tapi buku ini sudah menunaikan tugasnya untuk memancing kita merancang kerja kepenulisan sebagai sebuah karier yang menantang dan sekaligus menakjubkan. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-3011080487925436252?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/3011080487925436252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=3011080487925436252' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/3011080487925436252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/3011080487925436252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/07/kalian-mau-jadi-penulis-atau-pengeluh.html' title='Kalian Mau Jadi Penulis atau Pengeluh?'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RqViR6QBkDI/AAAAAAAAAIY/SHHAvNvid4g/s72-c/chicken+Soup+for+the+writers.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-1211753838929937019</id><published>2007-07-21T05:26:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T05:39:06.683-07:00</updated><title type='text'>Ke Mana itu Anjing-Anjing Penjaga</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RqH-GaQBj9I/AAAAAAAAAHo/qsK4k47FW_M/s1600-h/Anjing_Penjaga_3.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RqH-GaQBj9I/AAAAAAAAAHo/qsK4k47FW_M/s200/Anjing_Penjaga_3.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089628439984574418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Judul: Anjing Penjaga: Pers di Rumah Orde Baru&lt;br /&gt;Penulis: Omi Intan Naomi&lt;br /&gt;Penerbit: Gorong-Gorong Budaya bekerjasama dengan Institut Studi Arus Informasi&lt;br /&gt;Cetakan: Pertama, Juni 1996&lt;br /&gt;Tebal: xxiv + 427 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan metafora anjing penjaga, Omi Intan Naomi hendak menyatakan bahwa pada hakikatnya pers tak ubahnya seekor anjing penjaga, yang diadakan demi keamanan dan ketenteraman. Walhasil, tugas pers sama dengan anjing penjaga. Sehingga, jurnalis, sebagaimana intelektual, adalah “elit strategis” (Suzanne Keller) dalam keriuhan jagat perpolitikan suatu masyarakat. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas anjing penjaga adalah menggonggong, atau bahkan menggigit, jika ia mencium isyarat ketidakamanan di suatu lingkungan. Pers pun harus menyuarakan isyarat-isyarat ketidakberesan, jika ada, dalam lingkungan di mana pers hidup, yaitu masyarakat. Namun, kenyataannya pers kerap mendapat hambatan ketika ia harus melaksanakan tugasnya—sejarah pers Indonesia mencatat pelbagai pembredelan dan tindakan anti-pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merupakan jelmaan dari skripsi sarjana Omi Intan Naomi pada 1994 di jurusan Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Namun jangan berkerut dulu, karena buku ini sudah disulap sedemikian rupa dari bentuk skripsi yang (biasanya) kaku dan kikuk. Buku ini dipotong menjadi artikel-artikel pendek dengan bahasa-bahasa yang plastis yang menjadi kekhasan esai-esai budaya Omi Intan Naomi. Di buku ini, hubungan antara pers dan kekuasaan dibentangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman-halaman pertama buku ini menelisik kebebasan pers, yang menjadi landasan demokratis dalam kapasitas pers sebagai penjaga. Terma itu berhulu pada “kebebasan” dan “pers”. Kebebasan bisa diartikan sebagai kemampuan eksistensial manusia untuk menentukan diri sendiri, atau kemampuan untuk memilih satu dari sekian alternatif tindakan yang tersedia (hal. 7). Sedangkan ketidakbebasan adalah kondisi di mana terdapat upaya untuk membatasi pilihan atau menutup alternatif tertentu hal. 8).&lt;br /&gt;Dalam konteks bernegara, kebebasan menjadi entitas yang positif, sehingga konstitusi wajib menjaminnya. Dengan begitu, peraturan dan etika tidak akan masuk akal keberadaannya jika tidak ada kebebasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kebebasan bukan saja bebas dari sesuatu. Bila orang menginginkan kebebasan, maka ia juga harus memikirkan mau apa kalau ia sudah bebas (hal. 6). Sementara itu, keberadaan pers dirunut balik dengan logika bahwa dalam suatu tertib masyarakat, ada sistem sosial dan sistem komunikasi. Pers adalah bagian dari sistem komunikasi tersebut (hal. 11). Seturut peraturan MPRS, tanggung jawab pers adalah kebebasan untuk menyatakan serta menegakkan keadilan dan bukan kebebasan dalam pengertian liberalisme. Dalam Sidang Pleno Dewan Pers pada 1984, disepakati bahwa pers nasional adalah pers Pancasila, pers pembangunan, dan pers sehat yang bebas dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi-fungsi kebebasan pers, menurut Sumono Mustofa, ada enam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, fungsi pendidikan dalam arti seluas-luasnya, terutama tentang pelaksaan pembangunan, makna dan prosesnya. Kedua, fungsi penerangan, memberikan informasi kepada publik. Ketiga, memberikan hiburan, gairah hidup, dan optimisme. Keempat, mendorong kegiatan budaya dalam arti luas. Kelima, melakukan kontrol sosial dalam semua bidang, menerapkan prinsip komunikasi dua arah antara pemerintah dan rakyat. Keenam, fungsi sarana modernisasi. Kebebasan dan fungsi-fungsi itu di Indonesia, dalam kenyataanya, kerap mendapat hambatan. Kebebasan pers, sebagai syarat mutlak masyarakat yang demokratis, ditentukan oleh hubungan kekuasaan dan pers. Kebebasan pers Indonesia diukur berdasarkan keterbukaan media dalam mengungkap informasi yang berkaitan dengan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dalam melaksanakan tugasnya sebagai penjaga, pers kerap harus mengguncang sistem politik yang berlaku. Sedangkan sikap Orba terhadap kritik dan oposisi menuruti pemikiran Jawa, adalah: “berhadapan dengan kekuasaan, penilaian moral harus diam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pers Indonesia memperlihatkan sikapnya terhadap kekuasaan dalam rubrik yang biasanya berjudul Tajuk Rencana. Rubrik ini menjadi ukuran untuk melihat posisi suatu media dalam konstelasi politik negara.  Sikap media, ternyata, juga tidak selalu tetap. Ibarat orang, media pun bisa plin-plan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omi pun tergerak untuk melihat secara lebih dekat bagaimana gejala “galak”-nya mass media terhadap pemerintah pada masa-masa sekitar kejatuhan Orla, seperti yang terbaca pada tajuk-tajuk rencana Kompas dan Suara Karya serta beberapa mass media lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setelah beberapa tahun, rubrik yang sama seringkali berkurang kadar galaknya, seperti tajuk-tajuk Kompas, yang menjadi lebih halus dan “kompromistis”—sehingga ia masih bisa terbit. Sedangkan Suara Karya menjadi sangat lembut terhadap pemerintah Orba. Ini bisa dimaklumi, karena ia adalah corong Golkar, yang notabene organ sosial politik—bukan partai—yang menguasai parlemen dan eksekutif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan Orba mesti diakui berhasil membentuk kondisi otoriter. Dalam kondisi itu, terdapat ideologi nasional yang selalu memihak pemerintah, pancaran legitimasi (pemilu), dan ormas sebagai perantara rezim dan rakyat. Sehingga, pers dalam negara otoriter menghirup udara yang kurang lebih sama dengan warga negara perseorangan. Ia kekurangan oksigen bila menyempal dari mesin besar rezim penguasa (hal. 36).&lt;br /&gt;Walhasil, pers berubah menjadi pers otoriter. Pers otoriter memromosikan tata kemasyarakatan politik yang berlaku, antara lain dengan istilah-istilah yang akrobatik seperti “stabilitas yang dinamis” dan “dinamika yang stabil”. Jurnalis ditugasi menghubungkan lidah penguasa dengan telinga rakyatnya. Jurnalisme dan persnya hanya berfungsi sebagai kurir dan kebebasannya dibatasi, bahkan ditebang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan sejarah pers kita, hanya ada dua periode masa-masa ideal kebebasan pers di Indonesia, keduanya berbau liberal, yaitu Proklamasi 1945 hingga awal Demokrasi Terpimpin, dan akhir Soekarno hingga Pemilu 1971 (hal. 142). Kebebasan pers sama sekali lenyap pada akhir pemerintahan Soekarno. Baru setelah Orla tumbang, pers bisa sedikit lega. Namun, bulan madu itu tidak lama. Orba pun memraksiskan ulang pembatasan atas kebebasan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembredelan massal pada masa Orba bermula pada sekitar Pemilu 1971, di mana  52 penerbitan dilarang terbit. Lalu, berturut-turut pada 1972 dibredel, 50 penerbitan, 1973 32 penerbitan, Malari 1974 73 penerbitan, 1981 24 penerbitan, 1990 kasus Monitor 36 tindakan anti-pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otoriterisme Orba tampak jelas dalam alasan pencabutan pencabutan SIUPP beberapa mass media. Pada 1986, Sinar Harapan dibredel karena menurunkan berita “Pemerintah Akan cabut 44 SK Tata Niaga Bidang Impor”. Editor diganyang karena berita mutasi besar-besaran di Kejagung, Detik terkait dengan buku Primadosa dan Presiden Ketiga, majalah Tempo melaporkan pembelian kapal-kapal perang bekas Jerman Timur, dan Jakarta-jakarta karena foto sampul dan serial foto “Bikini Kuda Binal” dan “Parade Kuda Binal”. Namun, ada juga tindakan anti-pers yang dilakukan oleh masyaakat, seperti pada kasus Monitor dan lawatan empat orang jurnalis ke Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua alternatif penyikapan kepada pembredelan itu, yaitu melalui jalur hukum dan pendekatan atau musyawarah (hal. 96). Jalur hukum lebih jarang ditempuh, meski ada, karena meminta energi dan resiko yang besar. Yang lebih kerap digunakan adalah pendekatan, atau musyawarah, di mana pihak terbredel melakukan kompromi dengan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-1211753838929937019?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/1211753838929937019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=1211753838929937019' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/1211753838929937019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/1211753838929937019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/07/ke-mana-itu-anjing-anjing-penjaga.html' title='Ke Mana itu Anjing-Anjing Penjaga'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RqH-GaQBj9I/AAAAAAAAAHo/qsK4k47FW_M/s72-c/Anjing_Penjaga_3.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-488986627055359719</id><published>2007-07-18T20:46:00.000-07:00</published><updated>2007-07-18T21:03:19.113-07:00</updated><title type='text'>Si Terkutuk yang Jarang Dibaca</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rp7hNvp-sOI/AAAAAAAAAG0/9JT70GVNqZs/s1600-h/buku_idas_kapital_1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rp7hNvp-sOI/AAAAAAAAAG0/9JT70GVNqZs/s320/buku_idas_kapital_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088752255222329570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;Judul: Kapital (Buku I dan Buku II)&lt;br /&gt;Judul Asli: Das Kapital: Kritik der politischen Oekonomie&lt;br /&gt;Penulis: Karl Marx&lt;br /&gt;Penerjemah: Oey Hay Djoen&lt;br /&gt;Penerbit: Hasta Mitra, 2004 (Buku I) dan Hasta Mitra-Ultimus-IGJ, 2006 (Buku II)&lt;br /&gt;Tebal: lvii+929 halaman (Buku I) dan 580 halaman (Buku II)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secarik surat melayang kepada Karl Marx. Pengirimnya Penerbit Leipzig. Isinya pemberitahuan, peringatan, atau boleh juga ancaman: “Herr Doctor yang Terhormat: Anda telah 10 bulan terlambat dari waktu yang telah disepakati untuk menyelesaikan buku Das Kapital, yang telah Anda sepakati untuk diterbitkan di penerbit kami. Jika kami tak terima naskah itu dalam 6 bulan ini, kami harus menugaskan penulis lain untuk menulis buku ini.” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali karena desakan itu Mbah Jenggot atau Marx menjadi mirip seorang rahib yang bertapa di perpustakaan London, The British Museum, yang sunyi dan dingin untuk merampungkan naskah yang terbengkalai; padahal uang kontrak sudah habis dikonsumsi, sementara para penagih utang terus merecoki konsentrasinya. Ia tak peduli waktu dan lupa diri melakukan penjelajahan di lipatan-lipatan koran, di baris-baris buku tebal, di lembar-lembar buletin-buletin, dan teks-teks pidato. Ia juga bahkan lupa anak-istri di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengerjaan buku setebal bantal ini memang memakan tumbal. Tiga dari enam putranya meninggal di usia kanak-kanak, sementara sisanya lagi mati bunuh diri karena tak kuat memundaki kemelaratan. Praktis dalam sisa-sisa hidupnya yang heroik (bagi pemujanya) Marx hanya menggantungkan asap dapurnya pada sahabatnya Friederich Engels yang dilembar khusus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Das Kapital&lt;/span&gt; disapanya “Fried sayang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pengabaian keluarga yang tak bertanggung jawab itu melahirkan berjilid-jilid buku. Namun ia hanya menyelesaikan jilid pertama karya itu, sementara jilid 2 dan 3 diselesaikan Engels dari serpihan tulisan tangan kumal yang susah dibaca. Sementara Karl Kautsky menyusun kembali catatan Marx tentang sejarah teori nilai lebih yang disebut-sebut sebagai jilid keempat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Das Kapital&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rp7iD_p-sPI/AAAAAAAAAG8/_cl4IcCJ2jQ/s1600-h/buku_2das_kapital.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 95px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rp7iD_p-sPI/AAAAAAAAAG8/_cl4IcCJ2jQ/s400/buku_2das_kapital.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088753187230232818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya keyakinan sampai akhir hayatnya Marx itu bukan juru pidato yang mempesona, walau pada usia 30 tahun ia sudah menuliskan The Communist Manifesto (1848) yang dahsyat itu. Buku risalah ekonominya ini tak tulis di tengah-tengah kesibukan gerilya atau di hadapan massa yang haus akan semangat dan dorongan revolusioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada khotbah di sini, sebab kita akan dituntun dalam kelokan meliuk-liuk yang kalau kehilangan kendali akan pusing kita dibuatnya. Tak saja karena tebalnya, tapi juga cara pemaparan Marx yang bertele-tele. Bila Stephen Hawking terpaksa memasukkan satu-satunya rumus E=mc2 dalam adikarya astronominya dengan permohonan maaf kepada pembacanya terlebih dahulu, maka Marx memasukkan angka-angka itungan semau-maunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sepenuhnya ilmiah, maka yang gaib-gaib musykil ditemukan di sini. Apalagi anjuran membenci agama sebagaimana yang selalu dinisbahkan kepada Marx selama ini. Buku ini adalah risalah ekonomi yang diaduk dengan bumbu filsafat, humanisme, kerja, dan hitungan pelik akumulasi modal. Campur baur itu semua (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;quid pro quo&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kitab Suci Buat Buruh&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah respons dan koreksi serius dari para pemikir sosialisme awal seperti Claude Henri Saint Simon (1760), Robert Owen (1771-1858), Charles Fourier (1772-1837), maupun Wilhem Wailting (1808-1871) yang meniscayakan tentang keadilan dan keharusan memberontak terhadap kaum kapitalis ketimbang menyiapkan suatu paket analisis terlebih dahulu atas situasi penderitaan kaum buruh. Ia juga menubruk cara berpikir Hegel yang mendewa-dewakan ide ketimbang aksi materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal memang pokok perhatian Marx sesungguhnya adalah konsep tentang relasi-relasi antarmanusia dalam proses produksi. Ia berkeinginan kuat membuktikan secara ilmiah bahwa kapitalisme semata-mata proses eksploitasi terhadap buruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu bab 1-9 adalah usaha Marx membabat teori-teori kapitalisme klasik dan dilanjutkan dengan menampangkan foto negatif bagaimana sistem itu bekerja (bab 10-33). Sementara pada Buku ke-2 hanya berupa penekanan-penekanan materi yang sudah dibahas pada Buku ke-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin penting pertama yang diusung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Das Kapital&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; adalah teori nilai lebih setelah sebelumnya ia membuka risalah ini dengan menyasar definisi komoditas dan posisi pemilik modal dan buruh. Sesuatu disebut komoditas bila di dalam dirinya hadir secara sekaligus antara bentuk objek yang berguna (naturalform) dan nilai (wertform). Komoditas ini yang kemudian menjadi kompas penentu ke mana gepokan uang mengalir dan bagaimana nilai lebih ditafsir oleh penguasa modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang hanya alat. Komoditas yang menggerakannya. Sementara nilai adalah pembenarnya. Maka kapitalisme, kata Marx, dengan licik menjadikan pekerja sebagai komoditas; berbaur tak bedanya dengan kepemilikan alat-alat produksi seperti bahan mentah dan mesin-mesin perkakas. Agar komoditas itu bisa digerakkan mengeruk uang, maka ia dikuasai. Dititik inilah proses alienasi buruh berlangsung yang hanya bisa dipecah dengan aturan-aturan yang revolusioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu poin penting &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Das Kapital&lt;/span&gt; adalah menempatkan kerja sebagai usaha mulia. Kerja, bagi Marx, adalah mediasi antara alam dan manusia; sekaligus penanda dimensi eksistensial manusia yang konkret. Pandangan ini kemudian menjadi pemahaman utuh tentang kemanusiaan yang emansipatoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan ekosistem itu kemudian menjadi rusak ketika pemilik modal melakukan eksploitasi kerja kaum buruh di luar proporsinya. Dengan dikuasai, kebebasan manusia/pekerja dirantai; dan itu jelas bertentangan dengan nilai kemanusiaan emansipatoris. Di sinilah kunci kenapa Marx mati-matian menjelaskan posisi “nilai lebih”, sekaligus kritik pedas atas pendapat pendahulunya, David Ricardo, yang menelurkan teori kerja tentang nilai (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;labour theory of value&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Marx, nilai lebih adalah perbedaan nilai benda atau kerja yang dihasilkan oleh pekerja dengan biaya pemulihan tenaga kerja itu sendiri. Tapi sistem itu tak muncul begitu saja, melainkan lahir dari dialektika material kapitalisme yang panjang. Di sana, kapitalis selalu memperhitungkan agar biaya produksi berada di bawah nilai jual. Nilai produksi adalah nilai alat-alat yang dipakai ditambah dengan nilai tenaga kerja yang dihabiskan untuk menghasilkan produk itu. Selisih antara keduanya yang disebut laba bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai lebih terjadi umumnya bila pemodal menyuruh buruh agar bekerja melebihi jam yang dibutuhkan untuk memproduksi barang/jasa tadi. Marx berpendapat, nilai lebih ini bersifat eksploitatif karena hasil dari lembur tidak digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh, melainkan hanya menambah laba kapitalis untuk memperbesar modalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirkuit eksploitasi dan akumulasi modal ini, menurut Marx, hanya akan menghancurkan diri kapitalisme itu sendiri. Tapi banyak orang yang menafikan asumsi-asumsi nyinyir Marx atas masa depan kapitalisme yang ternyata dalam sejarahnya anteng-anteng saja. Apalagi latar bangun analisis Marx didasarkan pada model kapitalisme abad 19 yang boleh dibilang sudah rudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kapitalisme pernah mengalami krisis-krisis besar seperti peristiwa malaise 1930-an serta susutnya ekonomi Amerika 70-an dan dekade akhir 90-an. Tapi semuanya tak mengirim kapitalisme ke liang kuburan lantaran keluwesan kapitalisme mengubah organisme dirinya. Malah sebaliknya, sosialisme yang terkilir dan tumpah ke lubang yang disiapkannya untuk kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di luar itu semua risalah ekonomi ini masih menyimpan enigma dan belum tergantikan sebagai “Kitab Suci” bagi buruh. Ia memberi inspirasi bagi buruh, sekaligus hantu menakutkan bagi kapitalis dan komprador-komprador negaranya, termasuk di Indonesia. Walaupun menakutkan dan dikutuk habis-habisan, tapi buku ini senasib dengan penulisnya: hidup sunyi dan tak banyak dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ketika jasadnya dituang ke liang pekuburan Highgate, London, 17 Maret 1883, hanya delapan orang yang berdiri di sisian makamnya. Aduh, Mbah Jenggot, ironis sekali hidupmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-488986627055359719?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/488986627055359719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=488986627055359719' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/488986627055359719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/488986627055359719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/07/si-terkutuk-yang-jarang-dibaca.html' title='Si Terkutuk yang Jarang Dibaca'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rp7hNvp-sOI/AAAAAAAAAG0/9JT70GVNqZs/s72-c/buku_idas_kapital_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-1250212257751639555</id><published>2007-07-14T19:01:00.000-07:00</published><updated>2007-07-14T19:14:30.499-07:00</updated><title type='text'>JM Coetzee: Politik Ras dalam Sastra Pascakolonial</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RpmChO8axLI/AAAAAAAAAGc/4wPBS2ZPa-Q/s1600-h/barbarians_copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RpmChO8axLI/AAAAAAAAAGc/4wPBS2ZPa-Q/s200/barbarians_copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087240761550488754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;The Waiting for Barbarians&lt;br /&gt;Penulis: JM Coetze&lt;br /&gt;Diterjemahkan: Penguin Books, NY (1980)&lt;br /&gt;Tebal: 156 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang penulis tidak sama dengan duta besar bagi sebuah negeri yang tidak boleh tidak harus membela habis-habisan negeri itu. Tugas seorang penulis hanya mengatakan kebenaran yang ia saksikan. Tak lebih dari itu.” JM Coetzee&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianugerahinya sastrawan Afrika Selatan, John Maxwell Coetzee, atas nobel sastra 2003, bukan hanya menjadi kemenangan Coetzee dalam arti pribadi, melainkan juga kemenangan atas perjuangan panjang yang melelahkan atas rasialisme yang menghantui dunia puluhan tahun. &lt;span class="fullpost"&gt;Tercatat bahwa Coetzee adalah salah satu di antara ribuan pribadi yang dengan segala kesungguhan merekam dengan jeli dan detail bagaimana rupa rasialisme yang mencucuk-cucuk dan mencerabut asas kesadaran kemanusiaan seorang manusia menjadi barbarian atas sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu karya Coetzee yang mengusung tema rasialisme dan barbarianisme itu adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Waiting for the Barbarians&lt;/span&gt; yang dipuji oleh Chris Switzer dalam sebuah situs sebagai a story first and foremost about love and unspoken forgiveness. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1991 novel ini dialihbahasakan oleh Penerbit Obor dengan judul yang mangkir dari aslinya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jeritan Hati Nurani, Dilema Kehidupan Sang Hakim&lt;/span&gt;. Penjudulan terjemahan ini memang sedikit melemahkan semangat yang ingin disampaikan oleh judul asli, yakni gugatan dan sekaligus rasa nelangsa (baca: hampa) atas praktik politik rasialisme yang buas dan biadab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan titel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Waiting for the Barbarians&lt;/span&gt;, Coetzee coba mempersoalkan pengertian barbar di pentas dunia. Siapakah yang barbar, orang-orang pedalaman Afrika (dan manusia-manusia “Dunia Ketiga” umumnya) ataukah kolonialis-kolonialis Eropa? Siapakah si beradab dan si biadab, mereka yang pigmen kulitnya hitam ataukah putih? Pertanyaan-pertanyaan yang memaksa kita untuk kembali menengok bagaimana praktik politik apartheid dilangsungkan di sebuah peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, novel ini memang harus kita letakkan dalam konteks politik apartheid yang mengeras dan mengurung Afrika Selatan selama 46 tahun (1948 – 1994). Selama waktu empat dasawarsa lebih itu, kemartabatan manusia dinilai lewat formasi dan klasifikasi ras: putih, berwarna, Indian, dan hitam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditilik secara genealogi, sebagaimana pernah diulas oleh buletin KUNCI Cultural Studies (8/09/2000), rasialisme ada bersamaan dengan tumbuh-kembangnya wacana biologis Darwinisme sosial yang lebih menekankan pada "garis keturunan" dan "tipe-tipe manusia". Di sini ras menunjuk pada karakteristik-karakteristik yang paling jelas dinyatakan dengan pigmentasi kulit. Atribut-atribut ini kemudian seringkali dikaitkan dengan intelejensi dan kemampuan, yang dipakai untuk memeringkat kelompok-kelompok yang telah diraskan dalam hierarki sosial, superioritas kepemilikan material, dan subordinasi. Akar dari rasialisme itu lalu menjelma menjadi kekuatan sosial yang cukup fantastis ketika diambil alih oleh mesin kekuasaan politik.&lt;br /&gt;Oleh JM Coetzee, ras yang terbentuk dari proses sosial dan pertarungan kekuasaan politik itu digambarkan dalam suasana dan bahasa yang sangat muram. Tak salah kiranya bila kritisi sastra Nilanjana S. Roy menyebut Coetzee sebagai a bleak and pessimistic writer (penulis yang murung dan pesimistik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Waiting for the Barbarians&lt;/span&gt;, Coetzee menempatkan tokoh “aku” yang berasal dari peradaban “beradab” (baca: kulit putih, Eropa) sebagai tokoh protagonis. Saya kira pemilihan protagonis dari sisi di luar peradaban pengarangnya sendiri ini sudah dipertimbangkan secara matang. (Sekadar catatan, bahwa teknik yang sama juga pernah dilakukan Pramoedya Ananta Toer, pengarang gaek asal Indonesia ketika menuliskan sekuel keempat roman Tetralogi Buru-nya, Rumah Kaca). Dan teknik semacam ini gampang-gampang susah. Dibutuhkan penguasaan seperangkat pengetahuan, tersedianya script kebudayaan yang memadai, dan bahkan sang pengarang harus mengenal dengan baik psike-diri dari peradaban yang selama ini dijunjung-junjung kaum cendekia dan sejarawan sebagai peradaban yang (selalu) berada “di atas angin”.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Selain itu, tentu saja pilihan teknik ini merupakan usaha pengarang untuk “selamat” dari jebakan terlampau emosional ketika memperhadapkan secara oposisi biner antara dua kekuasaan (si “beradab” dan si “biadab”) yang dalam kenyataannya saling mendelik dan menenggang satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Pramoedya menampilkan tokoh Indo bernama Pangemanann (dengan dua n), Coetzee menampilkan tokoh “aku” yang seorang hakim, seorang sep di tanah kolonial. Ia ditugaskan untuk mengatur segala bentuk administrasi dan mencatat pelbagai peristiwa (baca: memata-matai gerak kaum “barbar”) yang kemudian menjadi bahan laporan kepada Ratu Kerajaan. Tapi betapa melonjaknya si aku. Studi-studi kemanusiaan yang ia dapatkan di ruang-ruang kuliah Eropa seakan menjadi batal ketika berhadapan dengan kenyataan di lapangan. Si aku mendapatkan bagaimana popor senapan berkelebatan memangsa para tawanan. Dilihatnya, betapa Eropa yang agung, yang beradab, yang dijunjung dan disembah-sembah karena ketinggian pengetahuannya, memperlakukan tahanan-tahanan kulit hitam dengan buasnya. Si aku menyaksikan pelbagai praktik genosida, interogasi, bentakan, rintihan yang dilakukan oleh serdadu-serdadu dari dunia “beradab” yang dalam hal ini diwakili oleh dua tokoh: Kolonel Joll dan Sersan Mayor Mendel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tokoh itu adalah representasi sempurna dari wajah Eropa yang lain yang selalu dikaluti oleh rasa jumawah, serbawah, dan serbasuper. Hasrat yang terendap adalah apa yang disebut Epicurus sebagai desire of wholeness (hasrat serbamenyeluruh). Hasrat itu kemudian mendorong misi “polisional” (civilizin mission) untuk memberadabkan negeri-negeri “biadab” yang dihuni oleh sebagian besar manusia berpigmen berwarna, Indian, dan hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coetzee, lewat narasi sang asing (the other) memerlihatkan begitu banyak penyimpangan, keterbelahan, dan bahkan kontradiksi internal yang manusiawi dalam cerita pahit apartheid. Juga raungan kejujuran si aku yang coba melihat dan mengritisi kebudayaan sendiri, yang selama ini dianggap segala-galanya, tapi ternyata di lapangan terus mengukir wajahnya yang paling brengsek dan brutal.&lt;br /&gt;“Aku menyaksikan hal yang kutakutkan: sebuah kereta hitam ditarik kuda melintas, kemudian di belakangnya para tawanan berjalan mengikuti sambil tersauk-sauk karena batang leher mereka diikat dengan tambang… dan ditembak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didorong oleh kemurnian nurani, si aku coba berjuang membelokkan mata batinnya yang meraung-raung atas praktik pongah “ras putih”nya dengan mencoba memberi secuil “balas-budi”. Ia menolong seorang pengemis perempuan muda kulit hitam yang buta dan mempekerjakannya di dapur. Bahkan, tidak lama kemudian si aku berjuang mati-matian mengembalikan perempuan itu ke sukunya dengan melintasi gurun selama 12 hari.&lt;br /&gt;Dan atas usahanya itu, ia dicap sebagai pengkhianat oleh serdadu Ratu. Ia dijebloskan dalam tahanan oleh karena satu dosa: coba keluar dari kepompong rasialisme yang menghina manusia dan memerosotkan derajatnya ke tempat yang serendah-rendahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di titik ini saya menarik semacam ajar, bahwa si aku yang dihidupkan oleh Coetzee adalah representasi dari nurani Eropa. Kegelisahan si aku adalah kegelisahan nurani Eropa yang dikubur oleh politik kolonial (Eropa) yang menyimpan prasangka rasial yang mematikan ras-ras yang didefinisikannya sebagai barbarian (kulit hitam, berwarna, dan Indian). Saya pikir gagasan psikiater radikal Aljazair, Frantz Fanon, dengan Coetzee bertemu di terminal asumsi ini, bahwa humanisme yang digembar-gemborkan Eropa selama ini tidak lain adalah humanisme-rasis, yang untuk menyusun tangga-tangga peradabannya hingga berada di anak tangga puncak, mereka seperti dipaksa menciptakan budak dan monster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahulah kita sekarang betapa tipis dan betapa awangnya beda antara “beradab” dan “biadab”. Siapakah yang disebut beradab. Humanisme-rasis Eropakah? Ataukah gerakan pembebasan pribumi-pribumi kulit hitam Afrika yang terus dikejar dan diburu oleh kulit putih sebagai kaum barbar yang wajib ditumpas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan jawaban Coetzee lewat narasi si aku: “Penduduk yang kita sebut-sebut biadab sebetulnya hanya orang-orang yang hidupnya berpindah-pindah dari daratan rendah ke daratan yang tinggi atau sebaliknya…. Apa sesungguhnya mereka inginkan dari kita? Mereka hanya ingin satu hal: kita mengakhiri perluasan pemukiman yang melintasi dan merampas tanah mereka. Mereka ingin bebas bergerak di tanah mereka sendiri dan bersama suku mereka…. Serbuan-serbuan yang kita lakukan adalah tindakan yang sama sekali tidak didasari oleh kebenaran, yang kemudian disusul oleh praktik tindasan mahakejam yang ceroboh yang kemudian menyisakan luka yang amat dalam dan memerih lama dalam dendam. Dan herannya, itu semua kita lakukan untuk menjaga kehormatan Kerajaan….” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan-renungan politik ras yang didaraskan Coetzee memang melontarkan gugatan yang hebat atas stereotip yang diusung rasialisme. Renungan itu memberikan semacam justifikasi argumen bahwa tindakan kekerasan yang tak tertahankan yang disumbangkan serdadu-serdadu Eropa di tanah kolonial, bukanlah suara kemarahan, bukan pula insting liar, juga bukan karena efek kekecewaan. Mereka hanya ingin menjadi diri mereka sendiri. Kaum pribumi berusaha menyembuhkan dirinya dari neurosis kolonial dengan merampas pemukiman melalui kekuatan bersenjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Coetzee memiliki beberapa perbedaan dengan anasir-anasir pribumi di tanah kolonial yang tiba-tiba saja berubah jadi monster dalam merespons kebiadaban praktik kolonialisme Eropa. Dalam novel ini misalnya, Coetzee tidak lupa membubuhkan beberapa titik kritik atas tradisi-tradisi pribumi yang memang  masih belepotan nokhtah: kolot, bodoh, feodalis, tidak menghormati perempuan, pemabuk, pemalas, dan lain sebagainya. Artinya, Coetzee telah menempatkan dirinya sebagai manusia berpijak di tanah antara: di satu sisi ingin melakukan kritik atas praktik humanisme-rasis Eropa, sementara di sisi lain mendorong bangsanya sendiri untuk mengejar ketinggalannya di bidang pengetahuan dan kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI sudut pandang politik pascakolonial, kemenangan JM Coetzee atas nobel sastra, memang terkesan sebagai salah satu upaya “balas budi” Eropa atas kejahatan ras yang secara sistematis telah mereka timpakan atas orang-orang Afrika (Selatan). Namun di balik segala yang kulit-kulit itu ada pesan yang lebih luas dan penting. Pesan itu berbunyi: wacana rasialisme (plus sekutu utamanya: fasisme) belum sepenuhnya tutup panggung dari peradaban dunia. Dengan memakai zirah ideologi neoliberalisme, kaum-kaum neokonservatisme dari pelbagai negara menumbuhkembangkan bibit-bibit wacana rasialisme di kancah perpolitikan dunia di awal abad ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja pemilihan Presiden Prancis 2002: Jean-Marie Le Pen, pemimpin partai konservatif radikal (French National Front) yang murni mengusung ide-ide rasialisme mengejutkan Eropa karena keberhasilannya menyodok di urutan kedua melampaui kandidat Partai Sosialis Perdana Menteri Lionel Jospin. Di Belanda, partai konservatif Kristen Demokrat yang dipimpin Pim Fortuyn, juga meraih peringkat kedua. Konon ia memiliki salah satu program utama meminta Belanda untuk menutup pintunya atas kehadiran para imigran, terutama Muslim yang dianggapnya berasal dari peradaban paria yang terkebelakang (Latif, 2003). Demikian pula di negara-negara lain: Denmark (Pie Kjaersgaard), Italia (Alessandra, cucu sang fasis Mussolini), Australia (koalisi John Howard dan Gubernur Jenderal Peter Hollingworth, mantan Uskup Anglikan  Brisbane), dan Amerika (George W. Bush yang sangat dekat dengan pemuka-pemuka gereja konservatif, terutama Reverend Moon). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hati-hati, hantu politik ras itu masih gentayangan!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-1250212257751639555?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/1250212257751639555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=1250212257751639555' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/1250212257751639555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/1250212257751639555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/07/jm-coetzee-politik-ras-dalam-sastra.html' title='JM Coetzee: Politik Ras dalam Sastra Pascakolonial'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RpmChO8axLI/AAAAAAAAAGc/4wPBS2ZPa-Q/s72-c/barbarians_copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-8646657355526592691</id><published>2007-07-09T18:49:00.000-07:00</published><updated>2007-07-09T18:57:04.544-07:00</updated><title type='text'>Jhumpa Lahiri: Mikrokultura dalam Sastra Pascakolonial</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RpLmkzMknYI/AAAAAAAAAGU/Jj2oyPm4l10/s1600-h/interpreter+of+maladies_jhumpa+lahiri.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RpLmkzMknYI/AAAAAAAAAGU/Jj2oyPm4l10/s200/interpreter+of+maladies_jhumpa+lahiri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085380449147329922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Judul Buku: Interpreter of Maladies&lt;br /&gt;Penulis: Jhumpa Lahiri&lt;br /&gt;Diterjemahkan: Penerbit Jalasutra dan akubaca (2002 dan 2003)&lt;br /&gt;Tebal: 188 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk menjadi seorang penulis profesional, &lt;br /&gt;berusahalah menulis tentang renik di ranah apa pun, setiap hari.”&lt;br /&gt;--Jhumpa Lahiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Jhumpa Lahiri mungkin tidak akan dikenal publik sastra Indonesia secara luas andai saja karyanya yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Interpreter of Maladies: Stories&lt;/span&gt; (London: Flamingo, 1999; 198 halaman) tidak diterjemahkan. &lt;span class="fullpost"&gt; Sekadar catatan, kumpulan cerita Jhumpa yang kemudian diterjemahkan oleh dua penerbit sekaligus dengan dua judul yang berbeda: Jalasutra-Yogyakarta (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Benua Ketiga dan Terakhir&lt;/span&gt;, akhir 2002) dan Akubaca-Jakarta (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penafsir Kepedihan&lt;/span&gt;, awal 2003), berhasil menyabet penghargaan bergengsi Pulitzer Prize untuk Fiksi—yang kemudian disusul berturut-turut the New Yorker Prize untuk Buku Kesatu Terbaik, the P.E.N./Hemingway Award, dan kandidat untuk the Los Angeles Times Award.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapakah Jhumpa Lahiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jhumpa Lahiri adalah perempuan pascakolonial: orangtua asal Bengali (Calcutta, India), lahir pada 1967 di London (Inggris), dibesarkan di Rhode Island (Amerika Serikat), dan kini tinggal dengan suaminya, Alberto Bush, wartawan Time, di New York. Dengan darah hidup dan lingkungan bercampur-baur sedemikian rupa itu, sah kiranya bila Jhumpa masuk dalam kategori manusia “diasporic culture”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana-mana, manusia bergenetik “diasporic culture” selalu merasa berada dalam jentik keterasingan (alienasi), yang selalu berada dalam kurungan “sense of exile”. Keterasingan kerap membawa seorang manusia gamang dalam mencobai hidup yang berhadapan dengan pelbagai ragam budaya yang serbabaru. Tapi keterasingan bukan untuk ditinggalkan, tapi dijalani. Benturan-benturan “diasporic culture” itulah yang menjadi tema utama semua penulis yang lahir dan besar dalam kapsul ranah pascakolonial, seperti Salman Rushdie, R.K. Narayan, V.S. Naipaul, Michael Ondaatje, Arundhati Roy, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan Jhumpa Lahiri. Tapi Jhumpa tidak seperti Edward W. Said yang menggelontorkan teori relasi dan perembesan kuasa kolonial, melainkan memperlihatkan secara langsung kehidupan yang sesungguh-sungguhnya yang dialami manusia pascakolonial (semua tokoh cerita Jhumpa adalah orang India perantauan). Ia memaparkan semua itu sedemikian detailnya, terutama interaksi dan tarikan-tarikan kebudayaan manusia yang “terjebak” dalam kapsul dualisme kebudayaan (sembilan cerita dalam antologi ini gonta-ganti mengambil seting India-Amerika).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema keterasingan itu sudah kita jumpai sejak cerita pertama dalam antologi ini: “A Temporary Matter”. Dengan mengambil seting Boston, USA, dan tokoh utama pasangan suami-istri: Shukumar dan Shoba, pembaca diajak berkelana di ruang keluarga kecil imigran yang memosisikan dirinya dalam arus besar kota Boston—tanpa tamu, tanpa kenalan yang berarti. Karena itu dialog yang terjadi dalam lima hari lima malam yang gulita—tanpa penerangan karena pemadaman listrik dalam kota—terisolasi hanya melulu di seputar keluarga. Sudah bisa kita bayangkan bagaimana sunyinya jiwa-jiwa manusia pascakolonial yang terisolasi di dalam “rumah [asal]”nya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterasingan yang serupa kita bisa temukan dalam cerita terakhir: “The Third and Final Continent”. Cerita ini dengan elegan berkisah tentang tokoh “aku” yang terdampar di tiga benua: India, lalu pada 1964 pindah ke London, dan menetap di Boston. Cerita semi-autobiografis ini, selain berisi catatan perjalanan, juga di dalamnya kita temukan benturan kebudayaan dan identitas kepahlawanan. Dikisahkan bagaimana “aku” setiap masuk ke apartemen “rasis” (hanya mahasiswa Harvard University yang diizinkan tinggal) dan dijaga oleh seorang nenek berusia seabad, harus mengucapkan kata: “Rruaarr biasa!” ketika nenek tua itu berteriak, “Ada bendera Amerika di bulan.” Di sini, mau tak mau tokoh “aku”, walaupun sungkan, harus tahu diri bahwa kakinya sedang berjejak di ranah rantau yang sama sekali berbeda dengan tradisi asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Interpreter of Maladies” yang kemudian dijadikan banner judul antologi Jhumpa, berkisah tentang keluarga asal India yang sudah bertahun-tahun meninggalkan tanah asalnya ke Amerika Serikat. Dan kini, dengan dipandu seorang guide yang memiliki pekerjaan sebagai penerjemah penyakit di sebuah klinik Gujarat, mereka melancong kembali ke tanah asalnya. Sebagaimana umumnya wisatawan Barat, betapa tercengangnya mereka dengan pesona oriental seperti kuil, cerita-cerita dewa yang disodorkan oleh tanah asalnya yang itu semua mereka tidak dapatkan di negeri-negeri oksidental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu ciri khas cerita Jhumpa Lahiri: ceritanya bertumpu pada tuturan yang cermat dalam pengungkapan detail dan kesederhanaan bahasa dan narasi. Dalam sembilan cerita dalam antologinya ini, kita tidak menemukan cerita-cerita besar dan pengungkapan yang njlimet. Tidak pula mengungkap pergulatan manusia berhadapan dengan masalah-masalah kekuasaan ataupun ideologi besar. Elegansi cerita Jhumpa terletak dalam pengungkapan yang detail dan cermat. Dan umumnya detail itu bergerak dan menari-nari dalam lingkup sehari-hari yang umumnya privatif: keluarga, makanan, dapur, kampus, dan gedung-gedung kota. Maka, istilah-istilah pakaian, lipstik, sederet nama-nama makanan (baik makanan Amerika [hotdog, cornflake, …] maupun India [miju-miju…]), dan hampir semua alat dapur berdentingan di sekujur tubuh ceritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terampilnya Jhumpa mengulak-alik ingatan negeri asal dan negeri rantauan dalam ranah mikrokultura (subjek budaya renik) lewat metafora makanan. Artikel Asha Choubey, pengajar Kanya Mahavidyalaya, India, di sebuah web pascakolonial, jelas-jelas menunjuk bagaimana lewat makanan, tergambar potongan-potongan pola putaran kehidupan manusia pascakolonial, manusia yang berada di “pintu gerbang”. Di sana, makanan tidak lagi dipandang sebagai makanan an sich, tapi telah menjadi budaya, menjadi bahasa, dan menjadi subjek yang menunjuk pada identitas etnik tertentu. Pendeknya, “Food becomes a motivating force in these stories,” tulis Choubey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil kisah “Mrs. Sen’s” yang di sana Jhumpa menggambarkan gerilya kerinduan akan ranah asal lewat tokoh Nyonya Sen. Suatu hari, Nyonya Sen kebelet ingin membeli ikan yang menjadi makanan utamanya ketika masih tinggal di Bengali dahulu. Tapi apa daya, di Amerika (ranah rantauan) sulit mendapatkannya. Kalaupun ada, rasanya begitu hambar. Saking kebeletnya, ia berkeliling mencarinya di setiap sudut kota dengan berkendara mobil. Tapi apes, bukan ikan yang didapat malah kecelakaan. Atau “The Third and Final Continent” yang mengisahkan “aku”—laki-laki rantauan asal Bengali—yang walaupun sudah akrab dengan makanan Amerika yang mengharuskan memakai sendok, tetap saja ia lebih senang makan dengan tangan telanjang sebagaimana kebiasaan masyarakat Asia Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ritual” di meja makan juga bisa kita baca dalam “When Mr. Pirzda Came to Dine” dan Treatment of Bibi Haldar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kisah-kisah itu tidak sekadar cerita tentang makanan, melainkan juga memotret usaha seorang manusia pascakolonial mempertahankan identitas asalnya dengan menghadirkan apa saja yang berbau asal dalam ranah eksilnya, walaupun itu hanya sekadar makanan (salah satu renik dalam ikon mikrokultura).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesahajaan cerita dan usaha yang gigih menjembatani benturan tradisi di ranah pascakolonial dengan jalan membalut isu-isu mikrokultura dalam urat nadi cerita itulah yang menyebabkan karya Jhumpa Lahiri mendapat tempat terhormat di kancah sastra internasional. Maka tahulah kita, bahwa untuk mendapatkan “pengakuan”, tidak mesti membuat cerita-cerita yang “aneh” sebagaimana Rowling, Tolkien, atau bahkan insan-insan muda sastra yang membanjiri ranah sastra Indonesia terkini dengan pengucapan yang kerap “dirumit-rumitkan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jhumpa tidak perlu beraneh-aneh dalam pengungkapan dan pilihan tema-tema besar dan wah dalam bercerita. Ia hanya mengisahkan soal-soal kecil, sepele, remeh-temeh, yang dihadapi seorang manusia di dua kebudayaan yang berimpitan, dengan pemecahan masalah yang “wajar-wajar” saja. Namun Jhumpa sangat bersungguh-sungguh dan telaten mengelola jalinan detail mikrokultura itu. Dan kesungguhan dan ketelatenan itu tampaknya sudah lebih dari cukup untuk mengantarkannya duduk dalam jajaran sastrawan-sastrawan berkelas seperti Naipaul, Narayan, Hemingway, Raymond Carver, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-8646657355526592691?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/8646657355526592691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=8646657355526592691' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/8646657355526592691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/8646657355526592691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/07/jhumpa-lahiri-mikrokultura-dalam-sastra.html' title='Jhumpa Lahiri: Mikrokultura dalam Sastra Pascakolonial'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RpLmkzMknYI/AAAAAAAAAGU/Jj2oyPm4l10/s72-c/interpreter+of+maladies_jhumpa+lahiri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-8525584409213796951</id><published>2007-07-05T04:25:00.000-07:00</published><updated>2007-07-05T04:57:15.626-07:00</updated><title type='text'>‘Malpraktik’ dari Digul</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RozbrTMknVI/AAAAAAAAAF8/xFPbxKs0WU8/s1600-h/malapraktik+dari+boven+digul.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 123px; height: 178px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RozbrTMknVI/AAAAAAAAAF8/xFPbxKs0WU8/s200/malapraktik+dari+boven+digul.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083679616328310098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;Papua Sebuah Fakta dan Tragedi Anak Bangsa&lt;br /&gt;Penulis: dr John Manangsang&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2007&lt;br /&gt;Penerbit: Yayasan Obor Indonesia&lt;br /&gt;Tebal: xlii+436&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Digul adalah ingatan tentang gelap sejarah politik Indonesia. Ia adalah—pinjam istilah mantan digulis Hatta—adalah ‘neraka dunia’ yang diciptakan penguasa Hindia Belanda, Gubernur Jenderal De Graeff di awal-awal 1927 sebagai tempat buangan para aktivis. Memang tak ada tembok-tembok besar yang mengurung di sini. Sebab rimba dan paya-paya kaya nyamuk cukup menebar horor yang menggetarkan bagi siapa pun; walau ia seorang aktivis pergerakan sekeras kepala seperti Marco Kartodikromo. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digul beda dengan Gulag yang penuh dengan lampu sorot, para sipir siaga siang malam memegang pecut dan mengokang senapan, serta tembok-tembok raksasa. Di Digul ada rumah ibadat, warung-warung, ‘rumah sakit’, bahkan bioskop. Jika kemudian Digul menjadi sangat menakutkan, tiada lain karena pembunuh terbuas di sana adalah rasa bosan yang membunuh harapan. Setiap orang yang berada di sana mesti berjuang mati-matian menjaga kewarasan agar tak jatuh menjadi gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kemudian ada orang mampu berbuat sesuatu di tanah yang dikurung rimba dan gunung-gunung ini, pastilah dia adalah pribadi-pribadi papilon. Dr John Manangsang adalah salah satu papilon yang bukan hanya luput dari ‘gangguan jiwa’, namun dengan kedua tangannya bisa membangkitkan inspirasi bagi siapa pun yang bersetia bagi kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membayangkan dr John Manangsang seangkatan dengan dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang hidup di Digul ketika Indonesia masih dalam embrio. John Manangsang adalah dokter muda sebuah puskesmas saat Indonesia berada di puncak-puncak pertumbuhan ekonominya atau kerap disuarakan aparatus Orde Baru dengan keyakinan membulat: “Tahun-Tahun Emas Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr John sejatinya adalah dokter ‘lugu’ dengan satu keyakinan: “dokter adalah mereka yang disumpah dan bersumpah untuk membaktikan hidup mereka guna kepentingan kemanusiaan; menjalankan tugas dengan cara terhormat, bersusila sesuai martabat pekerjaan mereka; kesehatan penderita akan senantiasa diutamakan,... setelah itu para dokter pun pergi menyebar ke pelosok-pelosok nusantara, bahkan sampai pada tempat yang tak terbayang oleh manusia lain...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr John sebetulnya bisa mencecap kehidupan yang lebih baik sebagai dokter di RS Tjipto Mangoenkoesoemo karena ia alumni kedokteran di Universitas Indonesia dengan tingkat ketekunan di atas rata-rata bagi teman-teman sealmamaternya. Namun dr John memilih untuk kembali ke Digul, ‘neraka dunia’ di mana dr Tjipto pernah dipendam pemerintahan kolonial karena sepak terjang politiknya bersama Indistje Partij.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta dan Digul adalah langit dan bumi. Tapi praktik-praktik kedokteran dipraktikkan dalam komposisi dan ilmu yang sama karena sama-sama melayani manusia yang sama sebagai pasien. Kesederhanaan, kehangatan, kesetiaan, serta keberanian dr John mengambil tindakan-tindakan medis selama 2 tahun (1990-1991) di Digul menjadi teror bagi siapa pun yang memihak pada kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teror itu kemudian dibagi dr John dalam buku berjudul luar biasa panjang ini: Papua Sebuah Fakta dan Tragedi Anak Bangsa, Pergumulan Etika, Moral, Hukum, Sosial, Budaya, Kedokteran, SDM, dan Kemanusiaan; Refleksi 15 Tahun Pasca Kisah Nyata: “Catatan Seorang Dokter dari Belantara Boven Digul dan Komentar Para Pakar Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti seorang novelis yang telaten merinci detail yang mengguncang, dr John mamapas dengan sangat rinci setiap detik menentukan dalam sebuah operasi darurat pasien-pasiennya di puskesmas sederhana dengan alat-alat operasi yang membuat bulu kuduk berdiri, seperti silet untuk membelah perut dalam operasi sesar dan mencocor anus yang buntu; atau tang dan pahat untuk mamapas tulang lutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini juga bercerita dengan sangat efektif dan membius tentang perjalanan panjang 90 hari dalam sebuah ‘pawai pengabdian’ yang oleh dr John dinamai: Program Puskesmas Keliling Jalan Kaki ke semua desa di Kecamatan Mandobo, Boven Digul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah kisah yang begitu memilukan dalam sebuah operasi cesar yang berlangsung dua kali dalam waktu empat hari dengan pasien yang sama. Setelah lolos dari operasi cesar, sang pasien harus dioperasi ulang karena ususnya terlilit dan nyaris merenggut nyawanya. Dan operasi yang bertarung dengan maut itu dikerjakan dr John di bawah penerangan lampu pertromaks karena PLN telah mematikan listrik sesuai jadwal (jam satu dini hari); walau dr John sudah mengiba-iba kepada petugas jaga agar diberi listrik paling tidak dua jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain waktu, lain pasien, di kamar yang sama. Operasi sesar dimulai dengan kepanikan serupa. Stok peralatan puskesmas di bawah minimum. Kasa steril tak punya dan harus meminjam dari kesusteran, sementara pisau operasi habis terpakai. Mobil ambulance keluaran zaman prasejarah sudah lama mangkrak karena terbalik sehabis menubruk tebing dalam sebuah program puskesmas “keliling jalan kaki”. Sterilisator memang sudah dibawa ke Perumtel untuk dipanaskan, namun listrik di Perumtel tak cukup kuat untuk memanaskan. Terpaksalah sterilisator itu direbus pakai kukusan di belakang puskesmas.&lt;br /&gt;Tampaknya semua sudah siap di meja operasi. Namun dr John dikagetkan oleh teriakan perawat: “Pisau operasi habis dan tak ada satu pun yang tersisa untuk operasi ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak boleh menunda operasi hanya karena soal pisau, dengan spontan dr John merogoh sakunya dan mengeluarkan uang seratus rupiah.”Tolong belikan silet Tiger di salah satu kios terdekat.” Silet itulah yang dipakai untuk membelah perut pasien.&lt;br /&gt;Saat operasi atresia ani atau lahir tanpa lubang anus, dr John pun dihadapkan pada fasilitas yang minimum. Ia sudah menghubungi rekan-rekannya yang berada di kota untuk mendapatkan secuil informasi dan kalau bisa sekaligus dengan alat, namun jawaban yang diterima adalah pasien mesti dirujuk. Namun dr John tak mau merujuk pasiennya lantaran keterbatasan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia pun mengambil jalan nekat dalam sebuah operasi buta. Bermodal sepotong patahan silet yang berbentuk segitiga yang dijepit pada ujung klem, sebuah obeng pencongkel gigi, sebuah trokar besi tajam penembus otot, sebatang sonde pengukur dalamnya dan posisi kandungan, sebuah spekulumk hidung, sebuah tabung spuit besi penyemprot gliserin ke dalam lubang anus, dan sebuah gunting. Dan operasi itu pun dimulai tatkala mata silet itu mencocor lubang anus yang buntu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan operasi yang lain, pahat yang biasa untuk pertukangan pun hadir sebagai “tamu kehormatan” di kamar bedah dr John. Pahat—dan juga palu—digunakan untuk pasiennya yang terkena artodesis atau kekakuan sendi. Alat itu digunakan dr John untuk sebuah operasi memahat sendi lutut manusia. Inspirasi memahat lutut itu justru muncul ketika operasi sudah separuh jalan dan ia menemui jalan buntu. Di saat putus asa itulah ‘kreativitas’nya muncul. Ia memerintahkan perawatnya mencari pahat, obeng, dan martil di tetangga puskesmas lalu direbus serta disirami alkohol 70%. Setelah itu ujungnya dibakar. Untuk letak yang sempit, pahat diganti dengan obeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr John Managsang mengerjakan semua pekerjaan penyelamatan jiwa manusia yang bertarung dengan penyakit-penyakit mematikan itu tanpa buku penuntun. Ia  kerap hanya mengandalkan imajinasinya dengan mencoret-coret garis yang dilewati pisau pada secarik kertas atau di tubuh pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi situasi minimnya peralatan kedokteran dan ilmu yang pas-pasan, dr John lalu mengandalkan insting, keberanian,dan harapan yang dipacu pasiennya bahwa dr John adalah dewa penolong. Ia adalah wakil Tuhan yang bisa membantu mereka untuk tawar-menawar dengan maut, walau tak setiap usaha yang dilakukan dr John membuahkan hasil alias banyak juga pasiennya yang meninggal dunia akibat kegagalan operasi yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr John bukanlah sosiolog atau sejarawan atau antropolog yang perlu melumat serigit-rigitnya data-data kondisi kemakmuran di pedalaman Papua dan memberitahu bahwa Papua betul-betul gelap dan gersang. Kisahnya tentang sayatan silet, hentakan martil yang menghantam gagang pahat dan obeng, serta listrik yang byar-pet di ruang operasi sempit cukup memberitahu bagaimana kondisi kepulauan hitam Papua. Di sana, bertumbuh harapan dan daya hidup yang sekaligus berdiri rapet bersisian dengan penyakit dan kuntitan maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian yang coba dituturkan dengan rinci oleh buku ini—disertai sekira 50 gambar-gambar pasien yang berdarah-darah di meja operasi—adalah teror mental dan pedalaman kemanusiaan. Bukan saja kepada para dokter muda yang ingin mengabdi di pojok-pojok Nusantara yang bahkan kondisinya tak terjangkau oleh nalar, tapi juga buat pemangku-pemangku kebijakan publik di pusat-pusat kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang Digul tetap menjadi teror dan ‘neraka dunia’. Namun bedanya kini adalah anakronisme, sebab ‘neraka dunia’ itu justru berlanjut ketika Indonesia merdeka dan mencicipi bagaimana melewati tahun-tahun emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya kisah dr John adalah oase di tengah industri kedokteran yang berada di titik gawat setelah digerus dan dicundangi habis-habisan oleh kekuatan kapitalisme farmasi. Di sini, kemanusiaan digorok, sebab yang menentukan semuanya adalah kapital, kapital, dan kapital.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-8525584409213796951?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/8525584409213796951/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=8525584409213796951' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/8525584409213796951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/8525584409213796951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/07/malpraktik-dari-digul.html' title='‘Malpraktik’ dari Digul'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RozbrTMknVI/AAAAAAAAAF8/xFPbxKs0WU8/s72-c/malapraktik+dari+boven+digul.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-2240808048046537782</id><published>2007-07-05T03:49:00.000-07:00</published><updated>2007-07-23T18:59:30.863-07:00</updated><title type='text'>Nasionalisme Para Juru Suntik</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RqVc6KQBkBI/AAAAAAAAAII/qZQwKZ21bxc/s1600-h/prapatan+10.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RqVc6KQBkBI/AAAAAAAAAII/qZQwKZ21bxc/s400/prapatan+10.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5090577108065947666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Lahirnya Satu Bangsa dan Negara&lt;br /&gt;Penulis: OE Engelen, Aboe Bakar Lubis, dkk&lt;br /&gt;Penerbit: UIP, 1997&lt;br /&gt;Tebal: 483 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi Indonesia pada akhirnya lahir di jalanan bersama pekik kerumunan massa, pidato-pidato yang membakar, dan disertai serangkaian adu bedil. Dan di antara semua itu, kaum muda berada di pusat bandul pergolakan. Hampir setiap babakan penting menuju Indonesia Merdeka, semisal pendirian Boedi Oetomo yang secara umum dipahami sebagai tonggak kebangkitan nasional, sumpah pemuda 1928, penggumpalan aspirasi pendirian politik 1938 di Volksraad, hingga Proklamasi 1945, semuanya dipunggungi kaum intelegensi muda usia. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketuban dekrit Proklamasi Kemerdekaan, misalnya, tak akan pecah seandainya tak ada elemen intelegensi muda yang memandunya di mana pada saat yang sama Bung Karno dan Bung Hatta dalam posisi “bingung” hendak melakukan tindakan apa di tengah simpang siur berita kalahnya Jepang dalam Perang Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kelompok pemuda yang aktif dalam persiapan Proklamasi itu, selain kelompok Menteng 31, Cikini 71, Gang Bluntas, adalah Prapatan 10. Penamaan ini diambil dari nama jalan di mana kelompok ini tinggal. Prapatan 10 sejatinya adalah asrama mahasiswa Ika Daigaku (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide perguruan tabib modern ini datang pada Agustus 1942 dibawa Soejono Martosewojo dari Surabaya ke Jakarta guna mencari kerja. Ia bersama Eri Soedewo dan juga mahasiswa Jakarta seperti Koestedjo, Kaligis, Imam Soedjoedi, mendesak Mr Soewandi agar Jepang membuka Perguruan Tinggi Kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah disetujui, panitia dibelah dua. Satunya mengurus kurikulum, sementara lainnya mengurus pembentukan asrama untuk pondokan mahasiswa baru yang berdatangan dari luar Jakarta dan luar Jawa. Panitia lalu menunjuk bekas gedung Dienst van Volksgezondheid di Prapatan 10—dekat Pasar Senen pada jalan dua arah Prapatan Kwitang—yang bisa menampung 250 mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di asrama inilah pembangkangan kepada Jepang dan perumusan konsepsi bentuk negara Indonesia digodok mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang sebelumnya berjudul Mahasiswa ’45 Prapatan 10: Pengabdiannya I ini lumayan mampu mendeskripsikan secara detail suasana dan gerak dalam asrama itu. Di sana tak hanya tumbuh mahasiswa-mahasiswa garang yang kelak menjadi petinggi-petinggi militer, tapi juga intelektual-intelektual berkelas internasional. Dan uniknya, mereka adalah para juru suntik yang dicambuk zaman untuk turut dalam badai revolusi. Mereka memang banyak berkecimpung di lab-lab kimia atau kamar-kamar bedah, tapi juga aktif bertukar pikir masalah politik dan merumuskan bentuk negara Indonesia, rajin menggelar rapat-rapat pembangkangan di selasar-selasar gelap asrama, dan bahkan para juru suntik belia ini turut mempelopori gerakan mahasiswa memanggul bedil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di asrama inilah Soedjatmoko yang kelak menjadi salah satu milestones intelektual Indonesia lahir. Ia menjadi salah satu pemikir yang menonjol di antara rekannya. Dan juga keras kepala. Selain menggalang sikap menolak saikeirei, Soedjatmoko—juga Soedarpo—memandu mogok kuliah massal setelah tentara Kompetai secara brutal melakukan penggundulan kepala mahasiswa di ruang-ruang kelas. Sampai-sampai Bung Karno, Bung Hatta, Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantoro turun tangan menasehati mahasiswa untuk kembali ke kelas. Bung Karno mengingatkan, kalau pemogokan itu diteruskan, akibatnya akan merugikan, bukan saja mahasiswa, tapi nusa dan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mahasiswa Prapatan 10 bergeming. Terutama Soedjatmoko dan Soedarpo. Menanggapi dua mahasiswa yang keras kepala ini Bung Karno sempat sewot dan harus menjelaskan panjang lebar kenapa bersikap ko kepada Jepang dan bukan nonko saat menghadapi Belanda. Tak lupa saat hendak pulang, Bung Karno melontarkan pujian kecil kepada kedua mahasiswa Prapatan itu bahwa kelak keduanya menjadi “orang besar”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radikalisme mahasiswa itu ternyata sudah lama tercium Jepang. Sewaktu diadakan latihan kemiliteran di Box-laan (sekarang Jalan Prambanan, Menteng), mahasiswa lari kocar-kacir tanpa perintah untuk berteduh dari hujan. Tiga hari setelah peristiwa lari dari barisan itu, belasan aktivis Prapatan ditangkap. Tuduhannya bertambah: turut menyiarkan keluar negeri ulah kejam Jepang menghadapi pemogokan mahasiswa. Separuh boleh melanjutkan kuliah setelah bebas, atau hanya kena skors berhenti kuliah setahun seperti Eri Soedewo. Tapi yang lainnya langsung diusir dari kampus. Termasuk rombongan terakhir ini adalah Soedjatmoko, Soedarpo, dan Koento. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu begitu memukul Perguruan Tinggi. Namun bukannya mengendurkan radikalisme, malah kian memadatkan dan memupuk kebencian mahasiswa kepada Kompetai. Adalah Dokter Abdulrachman Saleh—kelak gugur dalam kecelakaan pesawat di Lapangan Maguwo Jogjakarta—yang sadar betul “bahaya kuning” itu. Maka secara diam-diam ia menjadi katalisator semangat para pemuda dan mahasiswa agar tetap membina mental dan fisik. Mahasiswa kedokteran menjulukinya  “Karbol”. Jika Karbol sebagai bahan kimia digunakan untuk membersihkan benda, maka Abdulrachman Saleh adalah karbol untuk mencuci otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurachman Saleh juga yang mengajak mahasiswa suntik itu turun ke kampung-kampung rombeng di Banten Selatan yang menjadi salah cikal program Kuliah Kerja Nyata Universitas. Selain menyebarkan virus nasionalisme, di kampung-kampung itu juga mereka mengajarkan masyarakat untuk hidup sehat dengan persediaan makanan seadanya. Termasuk mencontohkan mengolah bekicot secara sederhana menjadi makanan lezat tanpa bahan kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada juga yang heboh ketika puluhan ribu romusha dari Bekasi membawa tetanus dan penyakit kejang ke CBZ (sekarang RS Cipto Mangunkusumo), tempat mahasiswa tingkat lanjut kuliah. Ternyata telah terjadi salah suntik (atau istilah kerennya medical crime=malpraktik) yang menyebabkan beberapa dokter yang sekaligus petinggi Ika Daigaku ditahan hingga beberapa di antaranya meninggal dalam penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurir Proklamasi dan Konstitusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya selang dua pekan setelah PM Koisho 7 September 1944 menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia, pentolan-pentolan Prapatan 10 sudah membincangkan bakal bentuk negara, apakah dominion, kerajaan, republik, statenbond, bobdstaat, atau negara kesatuan. Dan mahasiswa ini memilih Negara Kesatuan yang mereka tahu berseberangan dengan pandangan Bung Hatta yang lebih condong pada statenbond.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika diadakan ceramah terbuka Bung Hatta ihwal bentuk Negara Indonesia di Deutsches Haus, Gambir Barat (Jl Merdeka Barat sekarang), salah seorang mahasiswa Prapatan 10 mendebatnya sengit dan sinis. Saking dongkolnya sampai-sampai Bung Hatta melontarkan ucapan: “Lebih baik saudara kembali dulu ke bangku sekolah, sudah itu baru debat saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Bung Hatta luluh juga ketika beberapa pentolan aktivis mendatangi kediamannya tengah malam ihwal sikap mayoritas mahasiswa dan pemuda yang menginginkan Negara Kesatuan. “Kalau tidak diambil bentuk negara kesatuan, nanti terulang lagi politik dan taktik devide et impera Belanda,” ujar aktivis Prapatan 10, M Kamal, yang ditunjuk pentolan Menteng 31, Chairul Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Prapatan kemudian tak hanya trampil dalam suntik-menyuntik, tapi juga piawai dalam berdiplomasi, membangun kesepahaman dengan pelbagai elemen pemuda lewat sidang-sidang kongres maupun rapat-rapat umum. Sebelum Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) dibentuk, elemen-elemen pemuda sudah melakukan Kongres Pemuda se-Jawa yang menyerukan persiapan diri bagi pelaksanaan Proklamasi. Bersama pemuda Menteng 31, eksponen Prapatan itu melakukan serangkaian rapat gelap dan mencetuskan Gerakan Angkatan Baru Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 7 Juni 1945 mahasiswa Ika Daigaku, Yakugaku (Akademi Farmasi), dan Kenkoku Gakuin (Akademi Pemerintahan) menggelar rapat seluruh pemuda pelajar Sekolah menengah Tinggi untuk kemerdekaan Indonesia. Dan atas prakarsa pentolan-pentolan Prapatan rapat itu mengeluarkan tuntutan, selain “Indonesia Merdeka Sekarang Juga”, juga “diadakan latihan militer sempurna bagi pemuda-pelajar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mahasiswa juru suntik itu pun memanggul bedil di Daidan I Jagamonyet yang dipimpin Daidancho MR Kasman Singodimedjo. Dan kelak banyak dari mahasiswa ini berpangkat mayor jenderal seperti Eri Soedewo yang juga sekaligus dokter ahli bedah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala para pemimpin ragu dalam memproklamasikan kemerdekaan setelah Jepang takluk, dengan caranya sendiri justru mahasiswa dan pemuda-pemuda ini mengambil inisiatif untuk “memaksa” dwitunggal Bung Karno dan Bung Hatta mengambil sikap secepat-cepatnya. Mereka menjadi kurir Proklamasi atau penghubung dengan berkendara Onthel menghubungi setiap pucuk pimpinan yang dicekau was-was oleh suasana tak menentu. Dengan wataknya yang meledak-ledak, eksperimentatif, dan tak banyak pertimbangan, mereka “menyekap” Bung Karno dan Bung Hatta ke luar kota. &lt;br /&gt;Barangkali mereka tak sadar sama sekali bahwa upaya-upaya “nekad” mereka itu telah membangkitkan gairah serupa di Asia dan Afrika dalam membebaskan diri dari belenggu penjajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini—dan juga buku-buku serupa—adalah album yang merekam bagaimana cara-cara yang dilakukan elemen-elemen di dalamnya tatkala Indonesia berada di tengah jembatan peralihan yang sangat genting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, usai ketegangan jelang Proklamasi dikumandangkan, jam 12.00 siang muncul kekhawatiran yang tak kalah seriusnya, yakni bakal meledaknya friksi dan perpecahan tatkala wakil-wakil PPKI dari Indonesia Timur seperti Dr Ratulangi (Sulawesi), Tadjoedin Noer (Kalimantan), Latuharhary (Maluku), I Ketut Pudja (Bali dan Nusa Tenggara) yang berkumpul di Hotel Des Indes merasa heran dan tak terima dengan beberapa frase dalam konstitusi seperti kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dan Presiden harus Muslim. Mahasiswa-mahasiswa ini juga yang rela menjadi kurir konstitusi yang memediasi perselisihan di luar perdebatan parlemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Hatta berhasil diyakinkan setelah utusan-utusan Indonesia Timur itu mengadakan pertemuan di asrama mahasiswa Prapatan 10. Pada akhirnya sebelum rapat dimulai 18 Agustus, Bung Hatta meminta Mr T Moh Hasan, utusan dari Sumatera, meyakinkan Ki Bagus Hadikusumo supaya “7 kata” dalam Preambule itu diganti. Ki Bagus ternyata bisa diyakinkan Mr Hasan hingga kemudian UUD disahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memang berpotensi membesar-besarkan peran mahasiswa yang mangkal di asrama Prapatan 10. Tapi sejarah juga seperti perspektif mata burung; tergantung dari posisi mana mata melihat. Maka sungguh sayang buku ini dinafikan lantaran menyumbang banyak, terutama sekali memperkenalkan kontur-kontur detail di seputar jelang dan sesudah kemerdekaan, atau paling tidak suasana revolusi sedasawarsa (1940-1945) dari sebuah profesi, yakni para juru suntik yang ternyata sangat mahir, jeli, dan cerdas berpolitik, juga kuat memanggul bedil di medan pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-2240808048046537782?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/2240808048046537782/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=2240808048046537782' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/2240808048046537782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/2240808048046537782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/07/nasionalisme-para-juru-suntik.html' title='Nasionalisme Para Juru Suntik'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RqVc6KQBkBI/AAAAAAAAAII/qZQwKZ21bxc/s72-c/prapatan+10.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-3825891727931853243</id><published>2007-05-07T16:43:00.000-07:00</published><updated>2007-08-12T20:34:25.976-07:00</updated><title type='text'>Sejarah Perbudakan (Indonesia) Berawal dari Skandal Buku</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;Judul : The Island of Lost Map: A True Story of Cartographic Crime&lt;br /&gt;Penulis : Miles Harvey&lt;br /&gt;Penerbit : Random House (405 halaman)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJAJAHAN adalah cerita paling kelam bagi negara-negara Afrika dan Asia. Termasuk Indonesia. Dan sejarah mencatat bahwa Nuswantara dibudaki oleh tiga negara yang datang silih berganti dalam sekian jarak waktu. Sehabis Portugis menyisir pesisir, Nuswantara (tak hanya pesisir, tapi sekaligus pedalamannya) disabet Belanda, lalu paling anyar adalah Jepang. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sejarah-besar (great history) alpa, bagaimana menjelaskan prosesi peralihan penjajahan yang begitu gigantis, sakit, dan sekaligus kompleks itu, selain karena Portugis kalah perang dengan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, salah satu dari 13 bagian buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Island of Lost Map: A True Story of Cartographic Crime&lt;/span&gt;, mengambil alih penjelasan itu. Alih-alih berkecap tentang great history, justru ia memperlihatkan bahwa peralihan perbudakan itu dimulai dari sebuah peristiwa kecil: skandal buku (cartographic crime). Buku yang dimaksud tak lain adalah segulungan peta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miles Harvey sebetulnya tak sengaja menemukan kesimpulan itu. Ia tertransformasikan tentang kekuatan sejati sebuah peta dan pembuka lahirnya buku ini justru saat menyeduh kopi di sebuah kafe. Di sana ia menemukan sebuah nama pedagang kembar asal Belanda, Cornelius dan Frederik Houtman, yang kelak kita tahu dua nama ini mengubah peta penjajahan di bumi Nuswantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun bukan pikiran utama, bagi Miles, artikel yang memuat nama itu merupakan "a constant reminder of the extraordinary power of maps."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pada zamannya, peta adalah barometer atau seismograf dinamika ekonomi, politik, dan kultural Eropa. Bahkan, kata Miles Harvey, peta serupa katekismus yang berhadapan langsung dengan kitab suci agama-agama besar. Bedanya, jika kitab suci agama membawa peruntungan transendental, peta sebaliknya membawa berkah pragmatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Portugis sadar betul dengan kehebatan peta. Karena itu untuk mengontrol Hindia, Portugis mengontrol sedemikian rupa peta. Tak tanggung-tanggung, Henry dan pengikutnya menjaga rapat rahasia navigasinya itu dengan tangan besi. Penguasaan itu dilakukan tak lain bertujuan untuk menstabilkan dan melindungi monopoli perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa akademisi percaya bahwa Portugis dengan cepat menemukan Australia pada abad ke-16 M berdasarkan keterangan dan kerja keras para perumus dan penulis peta. Seluruh keberadaan kawasan-kawasan perawan diketahui berdasarkan garis peta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak satu pun kapal asing dibolehkan berlayar ke Hindia," tulis sejarawan George Masselman. "Sanksinya adalah penyitaan kapal dan penguburan awak-awaknya selama-lamanya di dalam galeon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana pun peta tak boleh beredar. Lebih suci dari kitab suci mana pun. Ketika Pedro Alvares Cabral kembali dari Hindia pada 1501--akhir sebuah perjalanan saat dia menjadi, menurut beberapa sejarawan, orang pertama yang melihat Brasil--seorang agen Italia mengomplain, "Adalah tak mungkin mendapatkan selembar peta perjalanan, karena jauh-jauh hari sang Raja telah mengeluarkan dekrit kematian bagi siapa pun yang melakukan kenistaan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skandal buku (peta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runtuhnya pencaplokan Portugis di Nuswantara bermula sekali ketika Cornelis dan Frederik de Houtman pada 1592 mengadakan perjalanan kerja sama dagang ke Portugal dan sekaligus belajar apa yang mereka sebut dengan pengembangan terbaru rute pelayaran ke Hindia Timur. Saat itu Belanda tak memperhitungkan sama sekali tanah-tanah jauh di selatan dan tenggara. Mereka menganggap sepi keberadaan Hindia. Hubungannya erat dengan Portugal tak lain disebabkan oleh usaha bersama melawan invasi Katolik Spanyol yang merupakan pusat kekuatan raksasa di Eropa kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Lisbon, pada saat bersamaan, Houtman Bersaudara tergandrung-gandrung dengan kehebatan peta yang bisa mengubah wajah industri Portugis. Maka secara diam-diam keduanya berusaha mendapatkan rahasia detail peta rute navigasi dan pelayaran Portugis ke Hindia. Tapi sial, mereka tertangkap dengan dakwaan menyelundupkan peta ke Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibebaskan, Houtman bersaudara melakukan reproduksi peta selundupan asal Lisbon itu sekaligus menafsir gugus geografis dan donasi ekonominya. Bagi Houtman bersaudara, otlen bergaris-garis itu adalah harapan sekaligus masa depan industri Belanda yang kian lesu. Mereka yakin betul peta adalah jawaban atas kepanikan Eropa seluruhnya yang dilanda krisis bahan baku industri dan perang saudara. Bahkan peta menjadi tandem utama terjadinya Renaisans Eropa abad 15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, peta juga yang mengubah Houtman bersaudara dari sekadar pedagang yang mencoba membuat perusahaan besar menjadi kepala navigator dalam ekspedisi pertama ke Hindia Timur pada 1595.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengikuti jalur rintisan Portugis yang sudah dilalui orang-orang seperti Henry dan Afonso d’Albuquerque. Mereka memasuki perairan Asia melalui jalan selatan, yakni via Tanjung Harapan Baik dan pantai timur Afrika. Mereka terkagum-kagum betapa lewat jalur ini muatan dari Malaka, Maluku, dan Aceh yang diangkut Portugis melalui Tanjung Harapan ini ke Lisbon diperkirakan sekitar 40.000 dan 70.000 kuintal setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta dan hasrat para penakluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku Miles Harvey kita kemudian tahu bahwa peta adalah semacam tangan-tangan gurita laut yang menarik, mencengkeram kukuh, dan mengarahkan mulut ribuan kapal perang raksasa melintasi dan membelah perairan bumi terluas. Mencium daratan-daratan yang belum terjamah dan hanya bisa dibayangkan. Mengangkuti berton-ton rempahnya. Mengusir dewa-dewa Asia. Memasukkan iman baru. Memaksakan keyakinan dengan zirah kebenaran baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal-kapal yang dipola oleh garis-garis peta itu tak hanya membawa nakhoda, kompas, dan peralatan navigasi, tapi juga deretan angka, saudagar, dan tentu saja serdadu dan jesuit. Mereka tak hanya mengangkut sauh, tambang-tambang, bahan makanan, berlian, dan budak belian, tapi juga bubuk-bubuk mesiu pemusnah dan buku-buku suci, serta kalung-kalung salib yang bergelantungan di dada. Juga mandat. Sebentuk surat kuasa untuk menerabas samudra. Begitu banyak yang menggayut di kamar-kamar geladak. Begitu rumit. Dan lengkap. Dan inilah barangkali bedanya dengan Christopher Columbus awal-awalnya, atau Ibn Battuta yang berulang mendatangi daratan-daratan kosong hanya karena dorongan memperturutkan kesenangan berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gulungan peta yang berwarna jeruk bercampur merah marun dan kusam telah mengubah segalanya. Pembayangan Pierre d Aylly dari Prancis dan Toscanelly dari Italia--dengan bersandar yakin pada gambar-gambar di kertas papirus itu--telah membantah pendapat lama bahwa bumi ini luas dan tak terjangkau. Keduanya membayangkan bumi ini ternyata hanya segumpil kecil. Jarak dan deret ukurnya sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pendapat itu menjadi pegangan penakluk. Perahu-perahu dibakar dan dibuang begitu saja ke laut. Semuanya telah berubah menjadi kapal-kapal raksasa dengan ilmu pembuatan yang tak tertandingkan untuk mendepai jutaan mil samudra. Kebesaran Sriwijaya dan Majapahit tak ada apa-apanya melihat juntaian rumbai di tiang-tiang kapal yang berdiri kukuh menantang langit dan badai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kapal berarti juga martabat, kebesaran, puncak-puncak sebuah pencapaian hasrat yang tak pernah dikenal manusia-manusia di daratan yang disinggahi, dicucupi, dibudaki, dan ditipu. Dan itu bermula dari peta. Juga "skandal kecil" yang menyertainya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-3825891727931853243?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/3825891727931853243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=3825891727931853243' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/3825891727931853243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/3825891727931853243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/05/perubahan-sejarah-perbudakan-indonesia.html' title='Sejarah Perbudakan (Indonesia) Berawal dari Skandal Buku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-1456285629787789360</id><published>2007-04-26T19:07:00.000-07:00</published><updated>2007-04-26T19:26:39.237-07:00</updated><title type='text'>Mencari Hakikat Hidup dalam Petualangan Sehari Semalam</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Anton Kurnia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;Judul buku : Ulysses (terbit pertama kali pada 1922)&lt;br /&gt;Pengarang : James Joyce&lt;br /&gt;Tebal buku : 770 halaman (versi Random House)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James Joyce (1882-1941) tak pelak lagi adalah seorang novelis terkemuka dunia, bahkan bisa dibilang ia merupakan salah satu pelopor prosa modern.  &lt;span class="fullpost"&gt;Pengarang Irlandia ini menghasilkan berbagai karya penting, antara lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ulysses &lt;/span&gt;(1922) yang dinobatkan sebagai novel terbaik yang terbit di abad kedua puluh oleh majalah internasional &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Time &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Modern Library&lt;/span&gt;. Selain itu ia juga menulis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dubliners &lt;/span&gt;(1914, sebuah kumpulan cerpen unik tentang para penduduk kota Dublin) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Portrait of the Artist As A Young Man &lt;/span&gt;(1915, sebuah novel autobiografis).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjFeaYmBpqI/AAAAAAAAAB8/wd-fuMu-a0E/s1600-h/cilik+Ulysses.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjFeaYmBpqI/AAAAAAAAAB8/wd-fuMu-a0E/s400/cilik+Ulysses.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057927663885330082" /&gt;&lt;/a&gt;Joyce mengembangkan teknik menulis yang kemudian dikenal sebagai stream-of-consciousness dan mengilhami banyak pengarang dari generasi berikutnya. Pada 1902, saat ia menyelesaikan kuliahnya, Joyce sudah memikirkan dirinya akan merantau dan menjadi seorang penulis. Ia tahu betul bagaimana menulis tentang kehidupan kota Dublin dan sadar bahwa ia harus meninggalkan Irlandia. Menurutnya, hanya dari jauh ia bisa bersikap objektif terhadap kampung halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joyce pergi meninggalkan Irlandia untuk selamanya pada 1904. Nora Barnacle, seorang perempuan cerdas penuh gairah hidup, pergi bersamanya. Walaupun Nora tak tertarik pada sastra dan tak pernah membaca karya-karyanya, mereka hidup penuh cinta hingga akhir hayat Joyce. Mereka memiliki dua anak. Sebagian besar hidup keluarga itu dilalui dalam kemiskinan. Ini terutama karena Joyce adalah seorang peminum berat. Namun, ia juga seorang lelaki keras kepala yang bangga pada dirinya—ia yakin bahwa dirinya adalah seorang jenius. Walaupun Joyce mengasingkan diri dari Irlandia, ia selalu menulis tentang Dublin. Dalam cerita-ceritanya, ia menggunakan kota Dublin sebagai model skala kecil bagi dunia seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joyce mengalami hidup yang sulit. Bertahun-tahun ia memoles karya-karyanya. Bisa dibilang, ia nyaris tak mendapat keuntungan material apa pun dari tulisan-tulisannya hingga saat-saat terakhir hidupnya. Novel adikaryanya yang hingga kini terus dicetak ulang, Ulysses, membutuhkan waktu tujuh tahun untuk diselesaikan. Saat akhirnya diterbitkan, buku itu dicekal oleh lembaga sensor di berbagai negara dan disalahpahami banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Petualangan Dua Lelaki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulysses merupakan kisah keluyuran Leopold Bloom, seorang Yahudi warga Dublin, dan Stephen Dedalus (tokoh utama novel Joyce lainnya, Portrait of the Artist as A Young Man) yang mengelilingi kota itu pada suatu hari. Perjalanan Bloom dalam novel tebal ini merupakan cerminan pengembaraan Odyssey dalam kisah klasik Yunani karangan pujangga buta Homer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joyce menyisipkan solilokui erotik Molly Bloom, istri Leopold, di bagian akhir novel itu dalam teknik stream-of-consciousness yang kemudian menghebohkan khalayak pembaca sastra. Joyce menulis secara terbuka dalam menggambarkan adegan seks, fantasi seksual, dan fungsi-fungsi anggota tubuh, sehingga novel ini sempat berurusan dengan lembaga sensor. Bahkan, penulis terkemuka seperti Virginia Woolf sempat mengecam novel itu. Meskipun sempat dilarang beredar di Irlandia dan Amerika Serikat karena dianggap cabul, kini novel itu diakui secara luas sebagai salah satu karya sastra terpenting yang pernah diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Portrait of the Artist As A Young Man&lt;/span&gt; dikisahkan sisi batin tokoh Stephen Dedalus, sejak ingatan paling awalnya hingga saat ia memutuskan pergi dari rumah, dalam Ulysses dikisahkan satu hari dalam kehidupan Stephen Dedalus, sebuah hari biasa-biasa saja setelah kepulangannya kembali ke Dublin dari pengembaraannya di Paris. Sebagai sebuah hari yang biasa-biasa saja, hari itu menandai kekalahan sang penyair Stephen Dedalus dari ziarahnya di luar negeri. Ia telah menghadapi kenyataan hidup, mengalami banyak hal, dan menyadari kekalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Joyce ini mengambil kerangka dari epik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Odyssey &lt;/span&gt;karya Homer hingga ke judul bab dan analogi kisahnya. Narasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ulysses &lt;/span&gt;sebenarnya sederhana. Bagian yang berkaitan dengan kisah Telemachus (anak lelaki Odysseus) menceritakan beberapa jam yang dihabiskan Stephen Dedalus pada pagi hari 16 Juni 1904. Ia mengunjungi sekolah tempatnya mengajar, lalu pergi ke sebuah kantor redaksi koran. Di kantor inilah ia pertama kali melihat Leopold Bloom, seorang pencari iklan yang hari-hari awalnya telah diceritakan. Bloom kita lihat dalam seluruh detail kecil pagi harinya: menyiapkan sarapan istrinya, menghadiri pemakaman, mencoba mencari pemasang iklan, menengok sekilas kehidupan intelektual Dublin, dengan nama samaran Bunga melakukan hubungan cinta dengan gadis-gadis muda, hingga puncak kejadian pertama hari itu di mana ia bertengkar di sebuah tempat umum karena ia bersikeras mengatakan bahwa Yesus adalah seorang Yahudi sehingga membuat banyak orang tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini ia beralih ke puncak kejadian kedua, sebuah peristiwa erotis saat ia mengamati seorang gadis jelita di atas batu cadas dekat Sandymount—sebuah episode yang berkaitan dengan kisah Nausicaa dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Odyssey&lt;/span&gt;. Bloom melihat Stephen untuk kedua kalinya di sebuah rumah sakit. Di malam harinya Stephen dan Bloom kembali berjumpa di sebuah rumah bordil di Dublin. Bloom melindungi Stephen dari serangan seorang tentara yang mabuk, lalu membawa Stephen ke rumahnya hingga fajar menjelang. Setelah Stephen pergi, Bloom tidur, dan lamunan liar istrinya—Molly Bloom—dalam gaya stream-of-consciousness, kenangan tentang para kekasih Molly dan perzinahannya, menutup novel ini. Bloom menjadi Ulysses, istrinya menjadi Penelope (istri Ulysses yang bimbang dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Odyssey&lt;/span&gt;). Dalam hal ini Molly Bloom juga dalah Gea, sang dewi bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mempertanyakan Hakikat Hidup Manusia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pernah disinggung oleh penyair W. B. Yeats, dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ulysses&lt;/span&gt; kita melihat topeng ganda James Joyce sendiri—Bloom dan Stephen—dan pada gilirannya itu sesungguhnya adalah topeng sebuah generasi yang berpaling dari “keputusasaan yang disadari menuju kesia-siaan yang tak disadari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir novel, Stephen meninggalkan rumah Bloom, untuk menjadi gelandangan selama beberapa jam di malam itu. Kegelandangan ini sesungguhnya adalah kegelandangan Joyce sendiri, dan menohok kita sebagai tragedi yang riang dalam kebebasan dan kesunyian seorang Stephen Dedalus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ulysses &lt;/span&gt;kita sama sekali tak menemukan pesimisme yang muram. Tak ada “kejatuhan” dalam kemanusiaan, walaupun sejarah manusia adalah sejarah kekalahan. Dalam buku ini, cinta dan benci terasa sama-sama dilupakan dalam sebuah kenyataan yang menghanyutkan. Melalui kisah keluyuran dua lelaki dalam sehari semalam yang seakan-akan tiada ujung pangkalnya ini, kita dibawa jauh menjelajahi sisi batin kita yang paling dalam, sekaligus diajak mempertanyakan makna hidup manusia yang kerap berujung pada kesia-siaan tanpa makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James Joyce membuktikan kepiawaiannya dalam novel ini melalui inovasi-inovasi dalam metode dan pengembangan struktur yang ia gunakan dengan sebuah keterampilan nyaris sempurna. Tak bisa dimungkiri, teknik yang digunakannya memiliki dampak yang besar dan mempengaruhi para penulis generasi berikutnya. Itu pulalah yang membuat Ulysses abadi hingga kini dan dinyatakan sebagai novel terbaik dalam berbagai versi pengumpulan pendapat sejenis di ujung abad kedua puluh.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-1456285629787789360?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/1456285629787789360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=1456285629787789360' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/1456285629787789360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/1456285629787789360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/04/mencari-hakikat-hidup-dalam-petualangan.html' title='Mencari Hakikat Hidup dalam Petualangan Sehari Semalam'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjFeaYmBpqI/AAAAAAAAAB8/wd-fuMu-a0E/s72-c/cilik+Ulysses.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5769767326900638876.post-7474734766429581652</id><published>2007-04-18T18:45:00.000-07:00</published><updated>2007-04-26T01:18:15.879-07:00</updated><title type='text'>Nyanyian Mockingbird</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Satu novel, mungkin, dalam hidup Harper Lee&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Fahrisalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjBgFImBpiI/AAAAAAAAAA8/rTqp64f9-4M/s1600-h/harper+lee.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjBgFImBpiI/AAAAAAAAAA8/rTqp64f9-4M/s200/harper+lee.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057648022859654690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;To Kill A Mockingbird&lt;br /&gt;Penulis: Harper lee (1960)&lt;br /&gt;Diterjemahkan: Penerbit Qanita (2006)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Tebal: 566 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”….Membunuh mockingbid itu dosa.” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;—ucapan Miss Maudie kepada Jean Louise (Scout) Finch&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHUN 1960, sewaktu musim bahasa politik dan kebudayaan Indonesia lagi panas-panasnya dengan beragam jargon macam “Anti-Neokolim”, “Ganjang Malajsia”, maupun “Kembalikan Irian Barat”, nun di New York, kota terbesar dan terkaya di Amerika, ada muncul perempuan penulis anyar bernama Nelle Harper Lee.  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya satu karyanya, sebuah novel, Lee mampu mengereknya tinggi-tinggi, melebihi gedung-gedung pencakar langit yang padat menjulang di Manhattan. Saat itu dia berusia 34 tahun, sepuluh tahun sebelumnya hanya warga urban biasa-biasa saja di tengah lalu-lintas kehidupan New York yang pikuk, dan mendadak hidupnya penuh publisitas selepas karyanya, To Kill A Mockingbird, lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roy Newquist dalam Counterpoint (1964), sebuah buku wawancara yang memuat percakapannya dengan Harper Lee, mengatakan bahwa “Tak ada hari yang terlewat dan terlupakan menjelang puncak musim panas di tahun itu yang tak membahas Mockingbird”. Lee memeroleh pujian begitu tinggi, kata Newquist, baik untuk keunggulan buku itu sendiri maupun, dalam kalimatnya yang bersayap, “sambutan udara yang menyejukkan bersama hadirnya buku tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Roy Newquist ini dipastikan tanpa cela. Karya perdana Lee ini, terbit 11 Juli 1960 oleh penerbit Lippincott yang saat itu seharga $3.95, menjadi buku fiksi paling laku. Pada setahun pertama, Mockingbird mencatat rekor penjualan luar biasa dalam sejarah penerbitan. Ia terjual 2,5 juta kopi, cetak 14 kali, menjadi buku pilihan dari tiga klub buku masyarakat Amerika sekaligus: Reader's Digest Condensed Books, the Literary Guild, dan Book-of-the-Month Club. Ia juga jadi pilihan British Book Society dan terbit di Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Belanda, Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia dan Cekoslowakia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Mockingbird terjual 30 juta dan pada 1 Mei 1961 ia meraih Pulitzer Prize, sebuah penghargaan prestisius yang diakui secara luas dan internasional. Pada perayaan tahun kedua penerbitannya, Mockingbird masuk sebagai daftar buku terlaris selama 100 minggu dan terjual lebih dari 5 juta kopi di 13 wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penghujung tahun itu juga muncul esai Lee, “Christmas To Me”, yang dimuat di McCalls edisi Desember 1961—selain dua esai dia yang terbit pada tahun 1960an dan empat esai lainnya di tahun 1980an. “Christmas To Me” inilah yang menceritakan bagaimana Lee diberi hadiah Natal ‘yang-tak-terlupakan’ berupa satu tahun yang lowong untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esai tersebut, yang terdiri 1.282 kata, membuka pengalaman Lee mengenai awal perjalanan dia bisa berkonsentrasi secara penuh mengejar karir kepenulisannya. Suatu karir yang sudah lama ingin diraihnya, menjadi alasan pokok Lee saat meninggalkan studi hukum dari University of Alabama dari 1945 sampai 1949, lalu mengikuti kuliah musim panas di Oxford University, Wellington Square, Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik akhirnya agak mengetahui di balik proses penulisan Mockingbird. Publik tahu bahwa Lee hanya butuh enam bulan lagi untuk menamatkan studinya. Namun Lee, yang berasal dari Monroeville, Alabama—wilayah yang diapit Montgomery dan Mobile, Amerika bagian selatan—malah pilih pergi ke New York pada 1950, dan itu, kata Lee dalam pengakuannya, “to pursue a literary career.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi karier yang dia kejar ini bukannya berjalan lapang, melainkan mendarat terlebih dulu di Eastern Air Lines and British Overseas Airways. Di situ Lee bekerja selaku petugas di bagian pemesanan tiket. Lee menggunakan pintu kayu yang sudah tua sebagai alas menulis. Lee tinggal di Yorkville, seputaran wilayah Upper East Side, pulang-pergi dari tempat kerja ke tempat menginapnya dan ”mengejar kekurangan pelbagai kesan artistik yang lain dari ambisi kaum Selatan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Inilah gadis gemuk dan pendek dari Monroeville,” batin Lee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di sekitarnya mengatakan, “Kami tidak tahu terlalu banyak mengenainya. Dia hanya bilang sedang menulis buku dan cuma itu yang kami tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di New York, Lee mencecap perasaan Natal lebih dari sekadar peristiwa murung nan sayu. “Bukan karena ini jauh dari rumah,” tulis Lee, ”tapi suasana Natal di New York begitu mirip dengan yang ada di Alabama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sepotong ingatan Lee selaku seorang anak kecil terhadap anggota keluarga besarnya yang sudah lama meninggal. Kenangan lama ini berupa rumah kakeknya yang berderak ramai oleh saudara-saudara sepupu, suara sepatu berburu memecah hening, hembusan keras angin dingin, bau harum pohon camar yang sabar, dan kuah petiraman. Lee juga rindu akan kakak-kakak lelakinya, pada malam sebelum Natal, dan ayahnya, dengan suara bas yang mirip dengung tawon, menyanyikan “Joy to the World”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada esainya itu, ada keterangan, Lee menghabiskan liburan Natal bersama “teman-teman dekatnya” di Manhattan—tepatnya di East 50th townhouse. Temannya ini, sama seperti Lee, datang ke New York dari Selatan, lalu berjumpa dengan gadis cantik di timur dan menikahinya. Merekalah pasangan muda yang menjadi “teman dekat” Lee saat Natal tersebut. Lee merasa beruntung dan senang akan liburan Natal kali itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberuntungan Lee makin berlipat. Tiba saatnya Lee membuka amplop yang terselip di pohon Natal. Lee membukanya dan di situ tertulis: “You have one year off from your job to write whatever you please. Merry Christmas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee setengah tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka meyakinkan Lee bahwa itu bukan lelucon. Mereka punya tahun yang bagus. Mereka menyimpan sejumlah uang dan secara tulus menjamin Lee mengejar impiannya. Singkatnya, mereka ingin Lee menerima hadiah tersebut, agar Lee bisa memiliki kesempatan luas mendalami kemampuannya menulis, agar Lee bisa bebas dari pekerjaan rutin.&lt;br /&gt;”Ini pertaruhan yang fantastik,” bisik Lee, ”ini sepertinya beresiko tinggi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman Lee, yang laki-laki, mengamati kejadian ini dari kamarnya. Matanya bercahaya ketika menatap istri pasangan muda itu, dan mereka saling tukar pandang sekilas pada Lee dengan rasa puas yang tak tertahan. Lalu dia menatap Lee dan bilang begitu pelan, ”Tidak, sayang. Ini bukan sebuah resiko. Ini hal yang nyata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun kemudian, melalui Charles J. Shields dalam Mockingbird: a portrait of Harper Lee (2006), publik pun tahu pasangan muda yang dermawan tersebut. Dia Michael Brown dan istrinya, Joy Williams Brown. Lalu “teman Lee, yang laki-laki,” itu tak lain adalah Truman Capote, teman kecil Lee yang tumbuh remaja di Alabama. Michael Brown bekerja dengan Capote saat menggarap adaptasi drama musikal dari kisah Capote “House of Flowers”. Brown adalah penulis lirik. Capote adalah penulis ciamik, yang bersinar benderang di angkasa New York dan dunia jurnalisme tatkala menelurkan buku non-fiksi bergaya sastrawi, In Cold Blood (1966).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu Natal di tahun 1956. Lima tahun sebelum Mockingbird lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU siang yang panas, Juni 1957. Harper Lee berjalan malu-malu memasuki pintu kantor penerbit Lippincott di bilangan Fifth Avenue. Rambutnya hitam, matanya hitam. Dia akan menemui staf editor kantor penerbitan tersebut. Semuanya laki-laki kecuali Tay Hohoff. Mereka orang-orang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Lee, ini menakutkan. Ini kontak pertama Lee dengan Lippincott soal naskahnya yang sudah mereka terima sebelumnya. Ini petaruhan terbesar untuk karirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah membacanya, berdiskusi dengan sesama editor, dan mereka menyukainya. Namun ada hal yang harus dibenahi. Manuskrip tersebut lebih sebagai antologi cerita pendek ketimbang sebuah novel yang sesungguhnya. Meskipun mereka juga sepakat manuskrip tersebut benar-benar hidup. Semua tokoh yang ditulis Lee berjalan begitu solid; kita bisa melihatnya, kita bisa mendengarnya, kita bisa merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tay Hohoff, yang kemudian menjadi editor Mockingbird, dalam “We Get a New Author”, pengantarnya untuk kemunculan buku tersebut dan Harper Lee secara khusus, menceritakan, “Tak ada staf di bagian editor di Lippincott yang melepas naskah Lee dari tangan mereka.” Para editor akhirnya memanggil Lee untuk bertemu dan berbincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan ini, Hohoff bercerita bahwa kami berbincang, berbincang dan terus berbincang. ”Kami berkata pada Lee mengenai apa yang mesti ditambahkan dari naskah tersebut, lebih sebagai gagasan, dan bagaimana Lee kemudian sanggup menyempurnakannya.” Kami cepat kagum atas hasil percakapan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harper Lee, tulis Hohoff, bilang dengan suara Alabama-nya yang pelan, ”Yes sir, yes ma'am.” Dia akan mencobanya, kata Lee. Dan itulah semua yang dia katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee ke luar dari pintu kantor Lippincott membawa karir kepengarangannya yang harus diperjuangkan. Dia mesti mengubah manuskrip awal tersebut menjadi sebuah novel. Ini pergulatannya yang melelahkan. Sampai akhirnya Lee merasa tetap atas hasil karya terbarunya ini dan butuh 2,5 tahun untuk menyelesaikannya, tepat di musim panas 1959.&lt;br /&gt;Ada banyak informasi baru dalam buku biografi Lee yang ditulis Shields di seputar kelahiran Mockingbird dan kehidupan Lee sendiri. Pada saat pekerjaan Lee itu tuntas, teman-teman Lee memerdebatkan mengenai judulnya. Saat itu ada Michael Brown. Ada juga agen Brown, pasangan Maurice Crain dan Annie Laurie Williams.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula mereka mengusulkan “Go Set a Watchman”. Lalu Maurice Crain’s menyarankan “Atticus”. Sebelum kemudian mereka sepakat pada judul “To Kill a Mockingbird”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agen Crain pada akhirnya menyerahkan naskah novel tersebut pada Lippincott. Lee menanti-nanti cemas respon penerbit. Pada saat bersamaan Lee ditelepon Truman Capote untuk membantu liputannya tentang peristiwa pembunuhan sebuah keluarga petani di Holcomb, Kansas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Capote berusia 35 tahun. Capote kelahiran 1924. Usia 24 tahun Capote sudah memublikasikan novel perdananya, Other Voices, Other Rooms. Dia juga memenangkan ‘O. Henry Award’ pada 1946 atas beberapa ceritanya yang dimuat di beragam majalah bermutu.&lt;br /&gt;Capote lahir di New Orleans. Ibunya, Lillie Mae Faulk, seorang pelayan yang cantik. Capote lahir dari keluarga yang tidak bahagia. Orangtuanya cerai sewaktu Capote masih berumur empat tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capote tumbuh remaja di Monroeville, Alabama. Dia menetap beberapa tahun di sana bersama saudaranya. Di sanalah juga persinggungan hidup Lee dan Capote bermula. Kontak persahabatan yang tetap terjalin hingga mereka di New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan keduanya sebagai sahabat karib ini unik. Lee menjadi inspirasi fiksi Capote, setidaknya, dalam dua novelnya, sebagai Idabel Tompkins dalam Other Voices, Other Rooms dan sebagai Ann (Jumbo) Finchburg dalam The Thanksgiving Visitor (1967). Adapun Lee juga melakukan hal sama pada Capote, sebagai Charles Baker (Dill) Harris dalam Mockingbird.&lt;br /&gt;Capote menggambarkan Idabel Tompkins sebagai gadis cilik yang tomboi. Dalam lembaran novelnya, ada ucapan dari Idabel bahwa “Aku sangat ingin menjadi seorang pria”. Sementara Lee menggambarkan Dill Haris sebagai “makhluk ajaib” dalam Mockingbird. Lee menulis: ”Dia mengenakan celana pendek linen biru yang dikancingkan pada kemejanya, rambutnya seputih salju dan menempel ke kepala seperti bulubebek; dia setahun lebih tua namun aku menjulang di sisinya. Selagi dia menceritakan kisah tua itu, mata birunya mencerah dan meredup; tawanya mendadak dan riang; dia punya kebiasaan menarik jambul di tengah keningnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah gambaran fiksi tersebut secara absolut menjelaskan secuil kenyataan mereka sesungguhnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah foto hitam-putih, ada gambar yang memerlihatkan Lee sendirian, hanya terlihat setengah badan, memakai kaos, rambutnya terpotong pendek, julur-julur rumput yang seakan membingkai wajahnya. Rambut pendek Lee ini terbawa terus sampai dia tua, setidaknya jika itu merujuk ke mesin pencari ‘Google’. Lee dengan rambut pendeknya ini seakan tak berubah, menetap bersama foto-fotonya—tentu, hanya warnanya saja yang sekarang menjadi lebih putih.&lt;br /&gt;Untuk Capote, ada satu fotonya yang sedang duduk bersila di atas papan berlatar pepohonan. Dia terbalut celana linen, kemeja lengan panjang dilipat, garis setrika yang terlihat jelas, bibirnya mengembang di atas dagu yang agak lonjong, sepasang bola mata yang redup tapi teduh, rambut tipis yang bersinar dan—seperti gambaran Dill dalam Mockingbird—‘menempel ke kepala macam bulubebek’. Foto Capote ini diambil di New Orleans pada 1947. Fotografernya Henri Cartier-Bresson, si juru potret handal yang pernah ke Indonesia, pernah memotret Presiden Sukarno dengan gaya yang begitu enigmatik sekaligus dramatik dengan latar sebuah lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRUMAN Capote pindah ke New York dari Alabama setelah ibunya menikah lagi. Dia sekolah di Trinity School dan St. John's Academy. Usia 17 tahun dia sudah tak lagi bersekolah. Dia bekerja di The New Yorker, majalah mingguan yang berdiri 21 Februari 1925. Brendan Gill dalam Here at The New Yorker (1975) menggambarkan Capote orang yang eksentrik dalam berpakaian. Gill menyebut Capote “bayangan yang sekilas mirip Oscar Wilde dari Nevada dalam balutan beludru dan bunga bakungnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capote seorang homoseksual. Novel perdananya menuai kontroversi lantaran mengangkat isu hubungan sesama jenis namun juga meraup sukses. Karya lain Capote di antaranya The Grass Harp (1951), The Muses Have Heard (1956) dan Breakfast at Tiffany’s (1958). Audrey Hepburn, bintang tenar Hollywood masa itu, memerankan Holly Golightly, tokoh utama perempuan muda yang datang ke New York mencari kebahagiaan dalam Tiffany’s versi layar lebar (1961).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 14 November 1959 ada peristiwa pembunuhan di Holcomb, wilayah pedesaan di Kansas bagian selatan. Korbannya sebuah keluarga petani. Semuanya tewas: Herbert Clutter dan istrinya, Bonnie, serta kedua anak mereka, Nancy dan Kenyon, usia 16 dan 15 tahun. Si pembunuhnya Perry Edward Smith, 31 tahun, dan Richard Hickock, 28 tahun. Peristiwa pembunuhan ini bikin gempar seisi dusun. Holcomb saat itu merupakan pedesaan yang sepi. Pembunuhan ini membangunkan semua warga Holcomb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tersebut dimuat di The New York Times. Artikelnya pendek, lebih sebagai berita sekilas, jauh dari kesan bombastis, jauh dari tampilan judul-judul peristiwa kriminal yang biasa kita lihat, bagi Anda yang tinggal di Jakarta, di koran kuning macam Lampu Merah atau Pos Kota dalam contoh yang lain. Intinya, hari itu New York Times menurunkan berita kecil pembunuhan, ada yang mati—(semua orang akan mati, bukan?)—hidup terus berjalan, dan peristiwa tersebut adalah satu contoh kecil dari sejumlah kematian di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capote membaca berita tersebut. Bagi Capote, inilah saatnya mengabadikan peristiwa pembunuhan itu. Dia ingin, seperti ucapannya, membikin sebuah karya baru, dalam bentuk novel-nonfiksi, memakai gaya sastra namun berdasarkan kejadian sesungguhnya dengan meliput kejadian tersebut. Inilah kelahiran In Cold Blood yang legendaris itu. Sebuah karya monumental. Sebuah genre baru dalam jurnalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita membaca karya Capote satu ini seolah-olah fiksi tapi tanpa unsur fiksi setetes pun. Ada kedalaman, konflik, kaya detail, narasi dibangun adegan per adegan, alur yang cepat dan yang pelan. Ibaratnya, sebuah roll film tengah dihamparkan di depan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New Yorker mendanai proyek liputan Capote ini. Saat itu William Shawn adalah redaktur pelaksana New Yorker. Dia menggantikan posisi yang sebelumnya dipegang Harold W. Ross. Ross adalah orang yang pertama membidani kelahiran New Yorker. Dia meninggal 5 Desember 1951. Shawn menggantikan posisi Ross pada 21 Januari 1952.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capote salah seorang kontributor New Yorker yang paling kreatif dalam sejarah panjang riwayat majalah tersebut. Capote kemudian menghubungi Harper Lee untuk membantu liputan tersebut. Di sinilah awal bagaimana Harper Lee menjadi asisten Capote untuk kelahiran In Cold Blood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang September-Oktober 1965, kisah In Cold Blood dimuat secara berkala di New Yoker. Pada Januari 1966 muncul bentuk bukunya dengan judul: In Cold Blood: A True Account of a Multiple Murder and Its Consequences.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, Harper Lee sudah dikenal luas saat buku In Cold Blood terbit. Juni tahun itu Lee salah satu dari dua orang yang dipilih Presiden Lyndon B. Jhonson sebagai anggota National Council of Arts. Seniman satunya yang termasuk dari 28 anggota dewan tersebut adalah Richard Diebenkorn Jr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun itu juga, 28 November, ada pesta yang digelar Capote bertajuk ‘Black and White Ball’ di Plaza Hotel, New York City. Pesta ini sebagai tanda penghormatan untuk Katharine Graham selepas resmi diangkat sebagai pemimpin perusahaan The Washington Post pada 20 September 1963. Graham menggantikan suaminya, Philip Leslie Graham, yang tewas menembak diri lantaran depresi dan sakit jiwa di vila mereka di Glen Welby, 3 Agustus 1963.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Katharine Graham membeli Post seharga $825.000 pada 13 Juni 1933. The Washington Post didirikan tahun 1877. Katharine Graham tutup usia pada 14 Juli 2001, dalam umur 84 tahun, di Boise Hospital lantaran pendarahan di kepala setelah terjatuh di Sun Valley, Idaho, saat menghadiri pertemuan para pimpinan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta bikinan Capote itu dihadiri kalangan jetset New York. Dari penulis top macam Norman Mailler beserta istrinya hingga penyanyi plus aktor Frank Sinatra dan pasangannya Mia Farrow. Ada juga si seniman pop Andy Warhol. Pesta ini terbatas untuk 480 undangan. Harpe Lee termasuk salah satu yang diundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dunia gemerlap Capote. Dunia si dandy Capote di luar novel-novelnya. Restoran-restoran mewah. Anggur kelas satu. Malam-malam yang penuh selebritas. Pesta ‘Black and White Ball’ itu bertahun-tahun selanjutnya tetap dikenang oleh kalangan pekerja hiburan. Menjadi inspirasi yang terus-menerus digali para perancang mode. Ia juga dicatat dalam bentuk buku bertajuk “Party of the Century: The Fabulous Story of Truman Capote and His Black-and White Ball” (2006). Buku ini karya Deborah Davis. Ada 300 ilustrasi yang menggambarkan suasana pesta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 26 Agustus 1984, ajal menjemput Capote. Dia mengidap komplikasi jantung, radang urat darah dan ketergantungan obat yang berlebihan. Dia didampingi kekasihnya, Jack Dunphy, sewaktu meninggal. Karir penulisan Capote yang cemerlang dikalahkan obat-obatan dan alkohol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun In Cold Blood adalah karya yang panjang usianya dibanding umur si penulisnya. Ada perdebatan, kabar angin, pandangan baru, di samping kesuksesan yang mengikutinya. Ada juga tanggapan dari Harper Lee. Kita menemukan ini pada biografi Lee karya Shields.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shields mengulas fakta yang berkembang, suatu desas-desus, bahwa Lee marah ketika Capote membagi persembahan In Cold Blood pada Jack Dunphy, setelah kontribusinya yang cukup besar atas lahirnya buku tersebut. Lee pasangan kerja yang amat membantu Capote. Lee tak sekadar memerlancar jalan Capote mengetahui detail atmosfer suasana persidangan kasus pembunuhan itu, yang digelar di Pengadilan Finney County, Garden City, Kansas, dari 22 sampai 29 Maret 1960. Bagaimanapun Lee paham betul seluk-beluk peradilan meski dia tak sampai menamatkan studi hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capote memberi pujian pada Lee yang “amat membantu” dalam “menjalin hubungan dengan para istri dan orang-orang yang saya temui untuk liputan In Cold Blood”. Seratus lima puluh halaman catatan yang dikerjakan Lee dari Kansas diperlihatkan pada Capote. Lee mengatur wawancara liputan ini dan Capote sendiri meneliti langsung rumah korban keluarga petani tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee berani menawarkan agar Capote mengambil sudut pandang yang lebih gelap terhadap keluarga Clutter, sebelum Capote memulai terjun sendiri ke lokasi liputan. Lee meyakinkan Capote bahwa keluarga Clutter orang-orang yang sulit; Bonnie, ibu keluarga ini, “salah seorang wanita yang paling menyedihkan”, gugup, obat-obatan generik telah merusaknya, sudah tak memiliki perasaan lagi dengan suaminya saat di tempat tidur. Sementara kedua anak mereka, terutama Nancy Clutter, gadis remaja yang perfeksionis tapi juga memiliki kepribadian kaku dan tamak serta kesan yang tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Capote, dalam penulisannya, lebih mengupas kehidupan dua pelaku pembunuhan tersebut. Membedah semacam misteri psikologis kedua pembunuh itu. Di sisi berlawanan, Capote tak banyak menjelaskan keluarga Clutter, lebih sebagai keluarga petani yang ideal dan sejahtera. Intinya, Capote menempatkan posisi In Cold Blood sebagai kisah pergelutan antara baik dan jahat, menjadikan peristiwa pembunuhan ini sebagai masalah yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, Truman Capote, serta persahabatannya dengan Harper Lee, adalah mesin waktu yang terus-menerus hidup dan dihidupkan kembali. Yang paling dekat peristiwanya ketika kita melihat Capote pada seorang Philip Seymour Hoffman dalam film “Capote” (2005). Film ini memiliki pandangan baru, sebagaimana buku Shields mengenai biografi Lee, memberi keterangan singkat yang sangat diperlukan seputar Capote dan In Cold Blood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Capote ini disutradarai Bennett Miller. Ia berdasarkan Capote: A Biography (1988) karya Gerald Clarke dan buku wawancara George Plimpton Have You Heard? (2006). Film ini meraih Piala Oscar 2006 untuk Seymour Hoffman sebagai Aktor Terbaik. Pada film ini aktris Catherine Keener memerankan Harper Lee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2006 muncul juga film Infamous, dengan unsur dramatisasi yang serupa, di mana Sandra Bullock sebagai Lee dan Toby Jones sebagai Capote. Sebelum ini, Lee muncul pula pada sosok Tracey Hoyt dalam film televisi Scandalous Me: The Jacqueline Susann Story (1998).&lt;br /&gt;Tentu saja, film Capote yang paling berhasil menyedot perhatian hingga saat ini dan menyuguhkan karakter paling hidup sosok Harper Lee dan Capote. Kita melihat bagaimana mereka saling mendiskusikan liputan pembunuhan itu. Bagaimana Lee tampil di balik suksesnya karya Capote yang mencengangkan itu. Bagaimana Capote membacakan bagian naskah In Cold Blood di atas panggung, di depan tatapan para pendengar, dan lampu sorot memerlihatkan mimik Capote.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bennett Miller, pada suatu wawancaranya sewaktu peluncuran Capote dalam bentuk keping DVD, mengatakan bahwa “Harper Lee adalah hati nurani film ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA banyak nama hewan, jenis burung, tanaman, beragam makanan dan minuman, tempat-tempat, boneka, jenis permainan dan olahraga. Tentu saja nama orang-orang, antara lain, Atticus Finch, Scout Finch, Jem Finch, Paman Jack Finch, Dill Harris, Calpurnia, Boo Radley, Tom Robinson, Nyonya Caroline Fisher, Bibi Alexandra, Sherif Heck Tate, Nyonya Maudie Atkinson, Nyonya Dubose, Hakim Taylor, Mayella Ewell, Bob Ewell, Stephanie Crawford, Tuan Gilmer, Tuan Radley, Walter Cunningham dan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebutkan itu bisa kamu jumpai di sebuah dunia bernama “To Kill A Mockingbird”. Semuanya menyatu dengan utuh. Cerdas. Memikat. Brilian. Kamu bisa mendengar suara-suara mereka, merasakan kecemasannya, menikmati setiap barisan-barisan kalimat yang ditiupkan Harper Lee, sang kreatornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mockingbird berlatar tahun 1930an. Suatu kurun waktu di mana isu rasialisme masih kencang dan mengakar amat dalam di wilayah-wilayah Amerika Serikat, terutama di pedesaan-pedesaan. Ini salah satu masa tergelap sejarah Negeri Paman Sam. Klu Klux Klan, organisasi penyebar kebencian dan anti-kulit hitam, pada masa itu memiliki hampir 5 juta pengikut.&lt;br /&gt;Lokasi cerita di sebuah daerah bernama Maycomb, Alabama. Pergerakan narasinya dikendalikan dari bibir Scout Finch, gadis tomboi yang memulia kisah ini pada umur 6 tahun, sebagai sudut pandang pertama, dan secara tak langsung mengingatkan pada Lee. Atticus Finch, ayah Scout dan Jem, mengambil model ayah si pengarangnya: Amasa Coleman Lee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.C. Lee dalam kehidupan nyata seorang pengacara. Dia anggota ‘State Legislature’ dari 1926 sampai 1938. Dia juga ikut menyunting The Monroe Journal, koran mingguan Monroeville, dari 1929 sampai 1947. Dalam Mockingbird, Atticus seorang pengacara. Atticus menjadi pembela Tom Robinson, warga kulit hitam yang didakwa melakukan pemukulan dan pemerkosaan pada Mayella Ewell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, Mockingbird sama sekali bukanlah karya autobiografis Lee.&lt;br /&gt;Mereka bergerak sendiri, membentuk kejadian-kejadian di luar peristiwa nyata, membangun sebuah kehidupan sendiri. Ibu Lee masih hidup hingga 2 Juni 1951. Sementara dalam Mockingbird, keluarga Finch kehilangan sosok ibu, meninggal saat Scout masih berumur dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee mengambil sudut ingatan masa mudanya yang terbaik, dan ini adalah kenangan Lee pada tanah kelahirannya— sejarah kaum Selatan Amerika yang menarik. Pada akhirnya, Lee menyuguhkan dua tokoh fiksi abadi yang tak terlupakan, terutama, bagi generasi remaja Amerika, yakni figur Atticus dan Scout Finch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kisah bergerak pada kasus Tom Robinson, pembaca disuguhkan petualangan Scout dan Jem bersama Dill akan Radley Place. Tempat ini sebuah rumah yang—sepanjang ingatan sejarah Maycomb—tertutup dan para penghuninya, keluarga Radley, jarang ikut secara sosial dengan kehidupan sekitar. Ia terletak di tikungan jalan, tiga rumah di sebelah selatan dari rumah keluarga Finch, namun menimbulkan misteri bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jem, kakak Scout, berumur sepuluh tahun. Dill setahun di atas usia Scout. Usia segini adalah usia senang-senangnya bermain. Bagi mereka, menyentuh Radley Place merupakan cara yang seru dalam mengisi liburan musim panas. Ini murni gagasan Dill, keponakan Nyonya Rachel Haverford—tetangga rumah keluarga Finch, yang datang di tengah kehidupan mereka dan ”akan terus melewatkan setiap musim panas di Maycomb.” Dill memberi ide kanak-kanaknya pada mereka untuk memaksa Boo Radley ke luar dari tempat misterius tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boo anak keluarga Radley. Dia tak pernah terlihat selama Jem dan Scout lahir. Dia seakan dikurung oleh ayahnya. Mereka hanya mengenal Boo dari cerita tetangga-tetangga. Ceritanya menakutkan. Mereka membayangkan Boo pastilah orang yang menyeramkan.&lt;br /&gt;Nantinya, Boo Radley ke luar, memang. Tapi tak seperti yang mereka harapakan. Boo ke luar dalam usaha-usaha menolong Jem dan Scout. Segala keusilan mereka dibalas kebaikan Boo yang tak diduga-duga. Segala yang tampak main-main menerbitkan kebijaksanaan-kebijaksanaan mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkataan Atticus: “Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya—kalau kau sudah memasuki kulitnya dan berjalan-jalan di dalamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu ucapan Atticus pada Scout mengenai sosok guru Stephanie Crawford. Berikutnya, ia juga ditujukan untuk semua mendung persoalan yang menggelayuti bermacam peristiwa yang mengisi lembar demi lembar halaman Mockingbird; terhadap orang-orang yang menghukum mati tanpa pemeriksaan keadilan terlebih dulu; terhadap Bob Ewell yang hendak membunuh Atticus dan Jem. Atau, dalam bahasa kita, pada orang yang mau main hakim sendiri, mau benar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atticus—serta Calpurnia, pembantu kulit hitam keluarga Finch—adalah penuntun moral dalam cerita novel ini. Keduanya memersatu fisik dan emosional Jem dan Scout ke jalur yang benar. Atticus menjadi figur ayah-pengacara-pengasuh bagi kedua anaknya. “Orang yang sama di dalam rumah dan di jalan umum,” demikian ucapan Nyonya Maudie kepada Scout mengenai Atticus. Calpurnia adalah bayangan Atticus di ruang dapur. Dia tak cuma melayani urusan makanan tapi juga mengajarkan kebajikan-kebajikan sederhana bagi kedua anak majikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditutup peristiwa kebakaran rumah Nyonya Maudie di musim dingin, atau di “malam terdingin sepanjangan ingatan Atticus”, kisah bergerak pada kasus Tom Robinson. Atticus mengatakan pada Scout bahwa “setiap pengacara sepanjang hidupnya akan mendapatkan satu kasus yang memengaruhinya secara pribadi”. Kasus Tom ini “sepertinya kasusku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atticus tak yakin menang. Namun dia kemudian bilang, “Hanya karena kita telah tertindas selama seratus tahun sebelum kita mulai melawan bukanlah alasan bagi kita untuk tidak berusaha menang.” Dia juga mengatakan bahwa “Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah hati nurani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tom, pada akhirnya, didakwa bersalah dalam persidangan yang dipadati pengunjung—di mana Jem dan Scout turut menyaksikan ini di Balkon Kulit Hitam yang seperti “beranda lantai dua” dan mereka “bisa melihat semuanya”. Keputusan tersebut setelah mendengar kesaksian Sherif Heck Tate, keluarga Ewell, dan tentunya terdakwa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci judul novel ini di akhir cerita. Pembaca akan tahu kenapa Lee memberi judul novelnya ini “To Kill A Mockingbird”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Nyonya Maudie, kata ‘mockingbird’ terkait suatu perilaku ‘dosa’. Katanya pada Scout, “Kau boleh menembak burung bluejay sebanyak yang kau mau, tetapi ingat, membunuh mockingbird itu dosa.” Dia memberikan alasan bahwa ”Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ‘mockingbird’ hadir tatkala anjing pemburu bernama Tim Johnson berada di jalanan dengan sikapnya yang aneh. Pintu-pintu rumah ditutup. Jalanan Sepi. Burung mockingbird tak bernyanyi. Situasi senyap seperti itu diingatkan kembali oleh Scout tatkala para pengunjung sidang menunggu putusan juri akan nasib Tom Robinson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujungnya, rencana pembunuhan Bob Ewell terhadap Jem di jalan. Jem terluka dan pingsan tapi Ewell mati seketika saat penyerangan terjadi. Sherif Tate meyakinkan Atticus bahwa Ewell jatuh menimpa pisaunya sendiri. Atticus tak memercayai ini. Namun Heck Tate menegaskan itulah kenyataannya. Ini dibenarkan Scout saat Atticus berseloroh. Atticus terkejut dan Scout menjawab “Itu sama saja dengan menembak mockingbird”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik itulah kita dapat memahami judul novel ini. Harper Lee membawa si burung ‘mockingbird’ bernyanyi di awal-awal ceritanya. Lalu dia menaruhnya di setengah bagian cerita ini dan berhenti di ujung kisah. Inilah sudut pandang yang menarik dan unik sekaligus mengejutkan untuk si cerdas Harper Lee. Dengan kata lain, kita tak mungkin bisa memahaminya dengan utuh dan lengkap jika kita tak menyelesaikan akhir cerita Mockingbird.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya Truman Capote dan In Cold Blood, Harper Lee dan Mockingbird mengilhami para sineas Hollywood membikin versi layar lebar. Pada 1962 film Mockingbird dirilis. Setahun kemudian, dalam ajang Academy Awards, film ini mendulang tiga Piala Oscar dari delapan nominasi. Gregory Peck, yang memerankan Atticus, meraih aktor terbaik; Horton Foote untuk penulis naskah terbaik; satunya untuk tata dekorasi terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee dan Peck, selanjutnya, bersahabat baik. Pada Januari 1962, Peck mengunjungi Monroeville, bertemu dengan ayah Lee. Dia berkata, “Tuan A. C. Lee seorang lelaki yang sangat baik—dan saya amat bangga telah mengenalnya.” Harper Lee menyebut hal sama tentang diri Peck. Ketika Peck meninggal pada 12 Juni 2003, Lee berkomentar, ”Atticus Finch memberi Peck peluang untuk memerankan dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Epilog: Gosip dan Misteri &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Novel ini hadir di tengah-tengah kita 46 tahun kemudian. Ini rentang waktu yang sangat cukup bagi kita untuk melihat Harper Lee sebagai pengarang yang monumental. Mockingbird terus-menerus cetak ulang. Terbit dalam berbagai versi. Dari edisi untuk sekolahan hingga versinya yang populer maupun rekaman audionya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tetap sebagai buku fiksi paling laris sampai sekarang dan terjamin tempatnya dalam kanon kesusasteraan Amerika. Ia juga, setidaknya, sudah diterjemahkan ke dalam 28 bahasa. Pada 1999, Mockingbird terpilih sebagai ‘Best Novel of the Century’ yang diadakan oleh Library Journal. Hak penerbitannya sendiri kini dipegang penerbit HarperCollins selepas membelinya dari tangan Lippincot pada 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, di balik kesuksesan selalu ada saja sejenis gosip tak sedap. Harper Lee bersama Mockingbird tak lepas dari angin gosip ini. Membawa-bawa nama sahabat karibnya, Truman Capote.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip tersebut mengabarkan Capote-lah yang menulis Mockingbird. Capote sendiri menanggapinya tanpa komentar tapi dibiarkan berkembang di sisi lain. Namun ada ucapan dari Capote soal perbedaan gaya menulis antara dirinya dengan Harper Lee. Ini menyangkut seorang lelaki yang tinggal di seberang jalan pada masa kecil mereka di Alabama, sering meninggalkan sesuatu di ceruk pohon di depan rumahnya, di mana Lee memberi nama fiksi lelaki ini sebagai Boo Radley dalam Mockingbird.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Willian Nance dalam The Worlds of Truman Capote (1970) mengutip ucapan Capote bahwa semua yang Lee tulis mengenai hal itu amatlah benar. ”Tetapi,” kata Capote, ”kau bisa lihat sendiri, aku menceritakan peristiwa yang sama tersebut ke dalam impian Gothik (dalam versi asli novelnya, Other Voices, Other Rooms), jauh beda dengan yang Lee lakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantahan terhadap kabar miring itu juga diperkuat dari surat Capote kepada bibinya, 9 Juli 1959. Di surat itu Capote menulis bahwa dia membaca manuskrip novel Mockingbird tapi sama sekali tak menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip ini, publik menyebutnya sebagai ‘teori yang tetap berlanjut’, mula-mula lebih karena Capote adalah pengarang mencolok di sisi Lee dengan karya-karyanya yang memukau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, gosip tersebut makin berkembang lantaran misteri tebal yang menyelimuti karir kepengarangan Lee. Hingga kini, Lee tak pernah memublikasikan novel keduanya maupun buku nonfiksi selain Mockingbird.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku biografi Lee, Shields mengutip ucapan Alice Finch Lee, kakak perempuan Harper Lee, pada suatu hari di tahun 1970, ”baru saja ketika Nelle menyelesaikan sebuah novel, seorang pencuri masuk ke apartemennya (di New York) dan mengambil manuskrip novel tersebut.” Ada juga kabar lain, di luar keterangan Shields, sepanjang pertengahan 1980an, sempat Harper Lee mulai menulis buku nonfiksi tentang serial pembunuhan di Alabama namun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee mengesampingkannya gara-gara tak puas akan hasil akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee juga mengatakan, di tahun ketika Mockingbird baru saja terbit, dirinya menghabiskan hampir enam sampai duabelas jam dalam sehari di meja menulisnya. Pada kesempatan lain, sewaktu siaran pers untuk publikasi film “To Kill A Mockingbird”, yang dimuat di Rogue edisi Desember 1963, Lee hanya menjawab “I'm scared”saat ditanya reporter akan perasaannya tentang novel keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wawancaranya dengan Roy Newquist, Lee mengakui novel berikutnya berjalan amat lambat, bahkan jauh lebih lambat. Namun Lee memastikan dia amat suka menulis. “Kadang-kadang,” katanya, ”saya takut terlalu menyukainya, karena saat saya duduk untuk menulis saya tidak mau beranjak kemana-mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Editor dan agennya juga kerap menanyakan hal sama. Namun, akhirnya, mereka pun berhenti menanyai Lee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, publik juga sukar meminta keterangan dari Harper Lee karena dia menolak wawancara sejak 1964. Novelnya memetik pelbagai penghargaan tapi Lee melewatinya tanpa menghadiri acara pengukuhan. Pada 1990 Lee salah satu dari lima orang yang menerima doktor kehormatan dari University of Alabama, bekas kampusnya yang tak sampai tamat, tapi Lee tak turut menyampaikan ucapan penghargaan ini. Hal sama juga dia lakukan saat menerima doktor kehormatan bidang humaniora dari Spring Hill College, Mobile Alabama, pada 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan pertamanya menghadiri penghargaan baru dimulai pada Maret 2005. Ini artinya selang 45 tahun sejak Mockingbird terbit kali perdana. Lee pergi ke Philadelphia, melalui Amtrak, untuk menerima ‘ATTY Award’ dari Spector Gadon &amp; Rosen Foundation. Lee menerima penghormatan tersebut “untuk gambaran postif para pengacara dalam kesusasteraan”. Atas prakarsa Janda Gregory Peck, Veronique Passani, Lee ke Los Angeles dari Monroeville melalui kereta di tahun yang sama untuk menerima Los Angeles Public Library Literary Award. Lee juga menerima gelar kehormatan dari University of Notre Dame, 21 Mei 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Harper Lee, seperti yang dia katakan sendiri, To Kill A Mockingbird merupakan “a love story and pure.” Cinta seorang Lee terhadap wilayah Selatan, cinta seorang ayah pada anaknya; cinta Lee pada ayahnya. Atau, dalam penilaian Shields, Mockingbird ”seperti Catch-22, One Flew Over the Cuckoo's Nest, Portnoy's Complaint, On the Road, The Bell Jar, Soul on Ice, dan The Feminine Mystique—buku-buku yang menangkap impian generasi pasca-Perang Dunia II—sebuah bentuk novel yang mengubah ‘sebuah sistem’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, buku yang termasuk “mengubah sebuah sistem” tersebut merupakan narasi anak kecil berusia 6 tahun. Flannery O'Connor, salah satu pengarang yang dikagumi Lee, berkomentar soal itu. Penghujung 1960, saat Mockingbird mencetak sukses besar, dia mengatakan “Semua orang membelinya dan mereka tak tahu sebenarnya sedang membaca buku anak-anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga, barangkali, pada 1988 Mockingbird dibaca hampir 74 persen pelajar Amerika. Hasil ini berdasarkan data statistik dari National Council of Teachers of English. Claudia Durst Johnson, sarjana “yang memublikasikan hasil tersebut secara luas”, mengatakan pada Shields, “Novel Lee memengaruhi kehidupan mereka setelah Kitab Suci.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shields mewawancari Claudia untuk keperluan melengkapi Mockingbird: a portrait of Harper Lee. Namun karya Shields ini, setebal 337 halaman, belum juga dapat memecahkan misteri terbesar dalam diri Lee. Kenapa Lee tak kunjung melahirkan novel keduanya? Kenapa begitu lama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee menolak para penulis biografi, termasuk Shields, yang memintanya bekerjasama, karena daya tahan tubuh Lee sudah makin menurun. Bekas pengajar sekolah menengah dan penulis beragam buku nonfiksi bagi kalangan remaja ini mengaku begitu frustasi akan karyanya ini. Padahal Shields sudah menghabiskan empat tahun untuk merampungkan bukunya, pergi ke Alabama, New York, dan Kansas; mewawancari sekitar 600 orang, dan menjalin komunikasi singkat dengan teman-teman, para kolega, serta teman sekelas Lee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca pengakuan penulis biografinya, saya tak tahu bagaiman Lee memandang dirinya dan posisinya sebagai individu dan pengarang. Lee tetap menyimpan misteri rasa penasaran peminatnya; misteri ketertutupannya; kesunyiannya terhadap karirnya yang langsung melejit.&lt;br /&gt;Kini, Harper Lee menghabiskan masa tuanya di Monroeville dan sesekali ke New York City. Dia kembali ke tanah masa kanak-kanaknya, ke dalam diri Scout Finch. Pada 28 April nanti Lee akan berusia 81 tahun. Kakaknya, Alice, yang selama ini menjaganya, sudah berumur 94 tahun.&lt;br /&gt;Bersama dua anggota saudara lainnya, Louise Lee Conner dan Edwin Coleman Lee, keluarga Lee sudah menjadi tua namun berusia panjang. Sebagaimana umur ayah mereka sampai 81 tahun, meninggal pada 15 April 1962, dua bulan setelah Peck berkunjung, dan masih bisa menyaksikan anak bungsunya sukses secara karir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semua yang dia katakan, pada akhirnya, Lee ingin menjadi “Jane Austin dari Alabama bagian selatan.” Tentu saja, Jane jenis ini sangat sukar bernyanyi. Dia membiarkan Mockingbird-nya bernyanyi sendirian sepanjang waktu. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5769767326900638876-7474734766429581652?l=resensiresensi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiresensi.blogspot.com/feeds/7474734766429581652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5769767326900638876&amp;postID=7474734766429581652' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/7474734766429581652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5769767326900638876/posts/default/7474734766429581652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiresensi.blogspot.com/2007/04/nyanyian-mockingbird.html' title='Nyanyian Mockingbird'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjBgFImBpiI/AAAAAAAAAA8/rTqp64f9-4M/s72-c/harper+lee.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
