Monday, September 3, 2007

Dari Rimba dengan Empati

Oleh Muhidin M Dahlan

Judul: Sokola Rimba, Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba
Penulis: Butet Manurung
Penerbit: Insist Press, 2007
Tebal: ix + 250 (termasuk indeks)


“Belanguunn, ibuk gurua tiba!! Mumpamono kabaron kawana gaek lapay?” (Astagaa... ibu guru datang!! Bagaimana kabarmu, hai gadis lapuk?)

Dia datang dari jauh seperti pertapa. Serupa bijak bestari muda. Dari rimba, dia sodorkan sebuntal inspirasi dan juga harapan. Dia datang tanpa muntahan kata-kata dalam perdebatan sebagaimana riuhnya genderang perang tiap tahun antara pemerintah dan orangtua murid yang anak-anaknya tak lulus Ujian Nasional. Atau para aktivis pendidikan yang menggertak pemerintah di jalanan untuk merealisasi anggaran 20 persen dari APBN untuk pendidikan.


Dia memang seorang aktivis. Tapi jangan bayangkan dia seperti sosok Chico Mendes yang menyusun basis revolusi di pedalaman. Atau seperti Vandana Shiva yang menyusun tesis yang ribet tentang konservasi alam. Mulanya, ketika memasuki rimba Jambi, dia masih memacak niat untuk memodernkan Orang Rimba lewat sebuah LSM yang memanggilnya. Tapi niat itu tertelikung dan runtuh bahwa Orang Rimba harus dikasihani dengan mental pesimis dan tak melihat mereka dalam posisi yang sederajat.

Setelah sekian lama berinteraksi, dia sadar bahwa orang-orang rimba itu hanya butuh sekelumit pengetahuan tentang baca, tulis, dan hitung untuk berinteraksi kepada orang lain di perkotaan agar mereka terhindar dari mangsa penipuan. Mereka tak perlu diceramahi bagaimana menjaga hutan. Mereka tak perlu diajarkan ilmu konservasi yang njlimet hanya untuk memahami kenapa hutan perlu bestari. Yang barangkali perlu adalah bagaimana memasok keunggulan diri Orang Rimba dan membantu menggali potensi kolektif itu serta hak-hak mereka di hadapan hukum kalau ada sengketa lahan.

Saur Marlina Manurung atau akrab panggil Butet adalah nama pertapa muda yang progresif itu. Mengantongi dua ijazah, Antropologi dan Bahasa, perempuan yang menghabiskan waktu kecilnya di Leuven, Belgia, ini memasuki rimba seorang diri dengan segenap keraguan. Langkah ragu Butet itu mengingatkan saya pada perjalanan yang sama yang dilakukan penyair dan pemenang nobel sastra 1971 asal Chile, Pablo Neruda, ketika memasuki jantung kesunyian Pegunungan Andes.

Dengan puitis, Neruda menggambarkan perjalanannya di antara bianglala rimba itu sembari membisikan sebaris mantera: “dengan kesabaran membara kita akan taklukkan kota agung yang bakal memberi cahya, keadilan, dan martabat bagi segenap umat manusia.”

Dengan lirih dan sederhana, Butet juga menuliskan “penyusupannya” di antara celah dedaunan belantara, akar bahar raksasa, selapisan tanah yang mengendap selama berabad-abad, dan pohon jangkung sialang (madu) yang disucikan. Lalu didapatkannya dirinya menggigil ketakutan di tengah dangau sendirian seperti tercampak di sebuah dunia yang gaib, rahasia, dan sekaligus menjadi ruang sengketa terbuka.

Catatan harian Butet yang berjudul Sokola Rimba ini bukan hanya catatan tentang etnografi rimba dan upaya dia mendirikan Sokola (baca: sekolah), tapi juga kitab kearifan hidup berdampingan dengan manusia-manusia di dalamnya. Buku ini adalah kunci dan Butet adalah patok dari semua proses itu. Boleh jadi sudah banyak yang melakukan serupa sebelum Butet. Tapi kehadiran Butet adalah momentum untuk melihat bagaimana pemberdayaan itu diukur.

Butet memulai segalanya dengan sangat perlahan. Awalnya Butet digeret oleh sebuah tenaga donor dengan pelbagai target. Laporan-laporan dan foto-foto kegiatannya adalah nyawa bagi mengalirnya dana dari pemberi donor. Dia tersiksa. Nuraninya berontak. Lalu dia memilih jalan sendiri.

Tapi jangan membayangkan Sokola Rimba butet adalah sepetak bangunan tembok dan beratap seng bantuan Inpres selazimnya. Sokola itu hanya dangau kecil tak berdinding agar jika tak dibutuhkan lagi bisa segera ditinggalkan. Ini adalah sekolah nomaden di mana sekolah-nya yang mendatangi murid dan bukan sebaliknya. Maka jika ditanya, di manakah alamat Sokola Rimba itu, maka Butet menjawab enteng: pada koordinat 01' 05' LS - 102' 30' BT. Pasalnya sentra Sokola itu tak pasti desa maupun kecamatannya.

Di sokola itulah Butet membagikan buku tulis bergaris, pensil, dan pena secukup yang dia punyai. Yang tidak kebagian disilahkan mengambil ranting dan menggarisi tanah. Saat tiba waktunya menggambar, seorang murid menangkap seekor kijang kecil. Binatang lucu itu ditidurkan di atas kertas dan mulailah sang murid menggambar ruas-ruas tubuh kijang tersebut.

Luas kawasan yang disisir Butet meliputi rimba Bukit Dua Belas dan Bukit Tiga Puluh. Dia sadar bahwa tenaganya tak sanggup merengkuh itu. Dia juga tak mungkin memanggil orang kota yang pasti akan menyulitkannya. Maka dibuatnya sistem melatih anak-anak yang sudah mahir untuk menjadi guru. Butet mengistilahkan tim kecilnya ini sebagai: kader-guru. Dengan 14 orang kader-guru angkatan pertama Sokola Rimba inilah Butet terus merangsek ke jantung rimba.

Sedapat mungkin materi pelajaran yang diajarkannya langsung bisa dirasakan manfaatnya. Bagi Butet, sekolah harus berkontribusi langsung bagi kehidupan dan mampu membuat Orang Rimba menyadari siapa dirinya, posisinya, dan memberitahu akan seperti apa dia kelak.

Persoalan besar yang dihadapi Orang Rimba, sebagaimana diinventarisasi Butet dengan lirih dan kerap meledak-ledak, adalah bahwa hutan yang kian sempit, sementara mereka sudah berada dalam kepungan pasar.

Pemerintah mengklaim bahwa Taman Nasional atau hutan yang dilindungi sudah banyak di Jambi, seperti TN Berbak, TN Kerinci Seblat, TN Bukit Tiga Puluh, dan TN Bukit Dua Belas. Namun tak pernah diberitahu masih berapa sisa tegakkan pohon yang garis tengahnya lebih dari satu meter seusai digebuk habis-habisan ribuan bulduzer perkebunan, sementara debit air menurun dan banyak tanaman obat-obatan tradisional yang raib.

Pada posisi yang memakzulkan Orang Rimba itu, Orang Terang datang menawarkan pilihan yang memaksa: keluar hutan dengan agama baru (Islam atau Kristen) dan hidup dengan hasil kelapa sawit. Padahal untuk memilih, mereka mesti dibebaskan membandingkan.

Dan kebebasan itu tak pernah mereka dapatkan lantaran stereotip yang menangkar dalam masyarakat, dan bahkan di kepala rekan-rekan Butet yang aktivis. Bahwa Orang Rimba tak maknyus mengenal teknologi termutakhir seperti email, motor, celana jeans, bahkan kalau perlu mereka memakai cawat terus supaya terlihat eksotis, alami, dan sebagainya yang khas pikiran para pelancong. Dengan stereotip itu sebetulnya kita telah menutup pintu kebebasan mereka untuk memilih yang mereka sukai, apakah memakai baju tradisional atau jeans. Bukankah kita tak berhak mengatakan mana yang lebih baik untuk mereka?

Untuk menanamkan kebebasan memilih itulah, Butet tetap bertahan. Mulanya dia sendiri habis-habisan menjaga asa agar tak meredup di jantung gelap rimba. Mengajarkan membaca, menulis, berhitung, menggambar, dan memberitahu hak-hak mereka adalah dasar ilmu buat kelak mereka memilih dan menentukan nasibnya sendiri. Beberapa orang memang turut bergabung dari usaha pendidikan Orang Rimba ini dan mendirikan lembaga bernama SOKOLA, namun Butet tetaplah magnet dan patok dari semua jerih kecil tapi dikerjakan dengan penuh sadar itu.

Butet adalah nurani pendidikan yang sudah sangsai dan boyak oleh cakar kapitalisme. Yang disodorkannya tiada lain adalah empati. Dengan berempati, orang-orang rimba itu merasa dihargai dan diperhatikan dengan tulus. Sebab pengalaman juga yang membisiki bahwa Orang Rimba sudah terlampau paranoia dengan setiap keasingan yang menyusup di antara dedauanan belantara kekuasaan mereka. Hanya dengan bibit empati yang disebar Butet dan kesabaran membara, sekat itu koyak dan ketulusan itu bersambut.

15 comments:

peranita said...

Salut banget ma cewek yang satu ini

media said...

sebuah perjalanan yang cukup panjang untuk mencapai semua itu, ka' butet kamu menjadi inspirasi bagi banyak orang, kami bangga akan kegigihanmu dalam memperjuangkan pendidikan bagi mereka yang tidak tersentuh oleh pendidikan, kami bangga kenal dirimu, setidaknya setitik ilmu yang engkau bagikan semoga menjadi pemicu kepada semua orang yang peduli akan pendidikan.... sukses ya ka' butet....
boyke walfredo

media said...

sebuah perjalanan yang cukup panjang untuk mencapai semua itu, ka' butet kamu menjadi inspirasi bagi banyak orang, kami bangga akan kegigihanmu dalam memperjuangkan pendidikan bagi mereka yang tidak tersentuh oleh pendidikan, kami bangga kenal dirimu, setidaknya setitik ilmu yang engkau bagikan semoga menjadi pemicu kepada semua orang yang peduli akan pendidikan.... sukses ya ka' butet....
boyke walfredo

Selamat datang di http://elabidisme.blogger.com. said...

SAYA TIDAK SALUT!
Dulu saya memang wah dengan orang ini, tapi lama mencari informasi tentang dia, juga mengenal beberapa rekan lamanya, itu berubah 180 derajat.
Kalau baca Sokola Rimba, sebuah pertanyaan kritis harusnya muncul: Bagaimana dengan rekan-rekan kerja Butet? Mengapa mereka seolah tak pernah disebut, saat Butet dapat beragam penghargaan? Begitu juga WARSI, tempat Butet bekerja selama di Jambi? Ingat: Butet bekerja di Warsi, sebuah LSM konservasi, yang salah satu programnya memberi pendidikan bagi anak2 suku anak dalam (SAD). Dan Warsi jauh sebelum Butet datang, sudah punya program pendidikan alternatif itu. TAPI MENGAPA HANYA BUTET YANG DAPAT PENGHARGAAN? Mengapa Warsi tak pernah disebut2? Padahal Warsi jauh lebih berjasa, bukan?
Ah, orang-orang Warsi tentu tak secerdik Butet yang punya dua gelar kesarjanaan itu!
Butet adalah buah gembar-gembor sebuah media nasional (Anda mungkin tahu, saya tak perlu sebut nama) dan jaringannya. Butet sangat lihai dan punya akses ke sana. Tapi Warsi dan teman-teman yang di lapangan lain?
Dan tahukah Anda, bagaimana Butet keluar dari Warsi? Dia dipecat.
Makanya, di Jambi, di kalangan orang2 Warsi, Sokola Rimba dianggap angin lalu. Ah, itu kumpulan pengalaman mereka yang dibajak oleh sindikasi media ternama. Hmm. mereka cuma bisa mengelus dada.
Betul kata orang, media bisa mengubah segalanya: menjadikan bahasa kacau, bisa. mengubah orang biasa jadi terkenal, sangat gampang. Orang yang punya jaringan dan akses ke sana, dengan motif apa pun, adalah pemenangnya.
Sayang tentu kalau sejarah terlalu banyak dipengaruhi media.

Salam,
Ab
dari Jambi

inditdijakarta said...

Saya kira ada yang perlu diluruskan disini. Kepada Ab dari Jambi, apakah anda bisa menjamin bahwa kalimat anda adalah kebenaran atau penyebaran fitnah melalui forum ini. Saya mengenal Butet dan Warsi dengan baik, dan saya bisa mengkonfrontir anda dengan keduanya. Silakan datang ke lokasi Sokola Rimba di Makekal Hulu dan anda bisa melihat fakta. Apakah perlu saya katakan bahwa murid-murid sokola rimba sudah berhasil melakukan advokasi untuk memperjuangkan tata kelola adat dan menolak tata kelola baku Taman Nasional Bukit Dua Belas. Sebagai keterangan, TNBD diperjuangkan oleh sebuah 'LSM konservasi ternama di Jambi', tapi terbukti melanggar hak Orang Rimba di dalamnya. Kalau anda cukup intelek dan kritis tentu bisa menghubungkan fakta ini dengan keluarnya butet, Warsi, ideologi dan bentuk Sokola Rimba yang baru setelah Butet tidak di Warsi lagi. Lalu tanyakan, apa yang sudah anda lakukan untuk orang lain selain bicara tanpa isi seperti ini?

sasdayati said...

Wah, ada yang lagi membela diri nih. Kebetulan juga saya senang dengan komunitas Orang Rimba. Butet memang sempat menjadi ikon Orang Rimba, betapa tidak dia pernah menjadi bintang iklan Kompas bersama Orang Rimba, kalau tidak salah sekitar tahun 2003. dan sejak itu, memang nama butet langsung meroket dan nampaknya butet juga pintar memblow up diri dan menjalin hubungan dengan media sehingga dia seolah menjadi dewi bagi Orang Rimba. Tapi ada yang terlupakan, katakanlah Butet memang memberikan sekolah di Makekal Ulu seperti yang disampaikan saudari Indit. Perlu diketahui bahwa itu hanya satu kelompok Orang Rimba. Ada banyak kelompok lain, yang tidak tersentuh sama Butet sama sekali. Contohnya di sungai makekal saja itu ada 7 kelompok Orang Rimba. Belum lagi kelompok Orang Rimba di Air Hitam, Kejasung, Terap. Banyak deh anggota rombong Orang Rimba ini. dan saya rasa tak perlulah membanggakan diri ketika hanya melakukan pendampingan untuk satu kelompok saja. Satu lagi, sejak 2004 mana tuh aktifitasnya Sokola di Jambi, apa buktinya.

inditdijakarta said...

Begini singkatnya, dari satu titik Makekal Hulu saja kader-kader Sokola Rimba bisa mengadvokasi seluruh komunitas Orang Rimba penghuni hutan Bukit 12 ketika berhadapan dengan aturan pengelolaan Taman Nasional yang terbukti melanggar HAM dan mengabaikan keberadaan Orang Rimba di sana. Bandingkan dengan sebuah LSM konservasi di Jambi yang mengaku mendampingi seluruh komunitas Orang Rimba selama sepuluh tahun lebih, tetapi merekomendasikan suatu aturan taman nasional yang tidak berpihak dan melanggar hak Orang Rimba. Bagaimana pendapat anda?

sasdayati said...

Ah yang mana tuh? Aturan mana yang dilanggar? Buktinya mana? Dari beberapa kali liputan saya ke Bukit Dua Belas, Orang Rimba aman-aman saja disana, mereka tetap beraktifitas seperti biasa, berburu, berladang bahkan ada yang jual tanah juga. Kabarnya lagi ada yang perjualan tanah itu difasilitasi sokola.

Kalau LSM berkegiatan di Bukit Dua Belas mana yang anda maksud? Setahu saya banyak LSM kok yang berkegiatan di sana, ada Koperham, Pusako Jambi, Walhi, Warsi, Kopsad, Walet dan lainnya. Yang mana anda mau tunjuk?

Pernah sih saya lihat Orang Rimba yang dibawa Butet/Sokola ke Jambi, bahkan ke Jakarta yang katanya sih demo menolah zonasi di taman nasional. Tapi ndak ada tuh pengaruhnya.

Satu lagi nih, minggu lalu saya sempat mengunjungi beberapa kelompok Orang Rimba di Terap dan Air Hitam, tak ada tu mereka merada diperjuangkan atau mengetahui kalau kegiatan anda di Makekal juga untuk mereka. Jadi bagaimana anda bisa mengklaim kalau dari makekal bisa mengadvokasi Orang Rimba secara keseluruhan.

Setahu saya, Orang Rimba cukup protektif dengan pihak luar. Jadi mustahil jika dari makekal akan bisa menyebar ke kelompok lain. Hanya fikiran bodoh saja yang bisa mengkaim demikian.

Apakah klaim ini justru tidak akan menunjukkan bahwa anda kerjanya dikit tapi omongnya aja yang besar, ya seperti cari sensasi aja, dengan mengatas namakan Orang Rimba.

inditdijakarta said...

terima kasih atas komentar anda. mungkin anda tidak tahu kalau Komnas HAM telah datang dan memberikan 12 poin pelanggaran HAM terhadap Orang Rimba yang disebabkan oleh RPTNBD. ini salah satu puncak keberhasilan advokasi yang dilakukan oleh Orang Rimba. Proses revisi RPTNBD dan advokasi masih berlanjut, untuk itu kami bersinergi dengan beberapa lembaga, di antaranya telah anda sebut. mungkin anda perlu memperdalam pengetahuan anda mengenai kasus ini sebelum anda bicara banyak di ruang publik.

sasdayati said...

Heran aja, kenapa anda kelihatannya sangat gusar dengan koment saya, santai aja lagi. Toh yang saya ungkap adalah fakta dan bisa dicek dilapangan. Apa tidak keliru menuduh saya tidak paham RPTNBD? atau anda yang belum paham? Memang ada kesalahan terhadap hak Orang Rimba pada pembagian Zonasi. Tetapi itu bukanlah kiamat bagi Orang Rimba, yang bagi anda berarti Orang Rimba harus keluar dari TNBD. Jelas itu tidak akan terjadi. Anda tentu paham (harusnya) bahwa RPTNBD belum bersifat implementatif. Ada banyak tahapan yang harus dilakukan, seperti penyelesaian tata batas Taman Nasional yang belum temu gelang, ini yang harus diselesaikan. Selanjutnya tata batas tiap zona dan disahkan oleh semua bupati dan Menteri Kehutanan. Hal ini yang dalam kampanye anda dikaburkan/ditutupi. Anda dan Sokola memang cerdik untuk mengangkat isu kecil tetapi dipilih yang bisa bikin heroik, seolah-olah Orang Rimba sudah tergusur. Ini sama persis dengan pengamatan saya terhadap Sokola, khususnya rekan anda Butet, yang sebenarnya hanya bikin propaganda tetapi tidak merubah apapun untuk kehidupan Orang Rimba.Kalau anda berpengetahuan luas tentu Anda sangat tahu kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kawasan hutan tidak jalan dilapangan. Satu lagi, Anda tentu juga sangat tahu kelompok kecil yang anda dampingi yang hanya 10 KK itu aman-aman saja jual lahan ke orang luar.jadi menurut saya yang harus anda lakukan adalah mengadvokasi kelompok yang anda dampingi sehingga tidak terus menjual lahan ke Orang Luar, biar nanti mereka tidak terusir dari Makekal tanah mereka sendiri, bukan cuma tebar pesona dan mencari sensasi. Kalau anda tidak mengadvokasinya, Orang Rimba Makekal akan terusir dari tanah mereka bukan karena RPTNBD tetapi karena kalian membiarkan mereka menjual tanahnya. Cobalah merenung, apakah anda benar-benar telah berbuat untuk Orang Rimba, atau hanya demi sensasi dengan selalu mengatas namakan Orang Rimba.

Muhammad said...

Ah.. saya tidak begitu simpati dengan apa yang ditulis sama butet dalam bukunya, selain tidak ilmiah, tak ada yang bisa diambil menurut saya, saya menilai bukunya hanya luapan emosional yang saya kira malah memperlihatkan kekerdilan butet dalam melihat orang sekitarnya, ya sah - sah saja butet buat buku, tapi kalo saya lebih tepat kalo itu outobiograpy dia sendiri. Saya fikir Butet orang pintar yang harusnya berfikir panjang sebelum memperlihatkan kelemahan dirinya sendiri dipublikasikan. Atau mendingan butet buat cerpen aja kali ya... he he...

Saya juga tak salut-salut amat sama cewek satu ini, karena kalo tak salah ada beberapa orang fasilitator pendidikan dari WARSI setelah Butet, saya tahu setelah baca kumpulan cerita dari anak rimba yang dipublikasikan WARSI. Tapi kok cuma butet ya, mungkin benar kata Aab bahwa butet pintar publikasi kali ya...

Andai memang benar - benar ada yang peduli pendidikan untuk Anak - anak Suku Anak Dalam ini, bukan hanya untuk dijual demi ketenaran orang atau pihak tertentu.....

Selamat Hari Anak Nasional walau terlambat.

Salam,

Nasri (Sarolangun-Jambi)

Walfi said...

Idenya Butet untuk memperjuangkan pendidikan bagi komunitas lain di beberapa propinsi lain kayaknya dia ambil dari program/kegiatan LSM WARSI di Jambi yang memang sudah memulai kegiatan ini terlebih dahulu sebelum Butet bergabung dengan LSM ini (Ini menurut info yang saya terima dari mantan seorang staff WARSI di Jambi). Jadi ketika dia mengembangkan ide untuk mengembangkan pendidikan bagi komunitas terpencil saya tidak heran... tapi karena publikasi memang sangat besar berpengaruh dalam membentuk opini orang, makanya nama Butet menjadi 'Legenda'. Lha ide sudah ada, trus Butet tinggal ganti tempat.... dan dipublikasikan dengan berbagai cara maka jadilah dia 'Hero'. Pantas atau tidaknya dia menerima predikat ini mungkin lebih baik ditanyakan pada Butet langsung (tanya hati nuraninya)

Karmila said...

Tahun lalu ada juga kegiatan di Medan membedah buku K butet ini, cuma sayang aku tak hadir karena tak dapat izin dari sekolah, waktu itu aku masih kls 3, sekarang aku udah kuliah di USU Antropolog. Dari yang aku dengar memang banyak yang mempertanyakan isi buku Kak Butet, tapi aku tak mau berkomentar bila aku belum baca bukunya. Di mana kira-kira aku bisa dapat bukunya? Ada yang bisa bantu?

Horas,

Mila di Medan

Muhidin M Dahlan said...

Karmil, pesan aja di Jogja bukunya. Bisa menghubungi Insist Press atau para pengelola situs I:BOEKOE ini. Mereka pasti punya kontaknya karena kawannya sendiri.

Muhidin M Dahlan said...

Dari keseluruhan komentar ini, sy kira memberi banyak masukan. Bagi sya pribadi, buku ini memang menarik. Dituturkan dengan lihai dan cekatan. Memberi pencerahan tentang dunia Orang Dalam. Selama ini, tulisan tentang Orang Dalam ditulis tak lebih seperti laporan untuk pemberi donor yang kering atau tesis akademis yang garing. Kalaupun ada suara tandingan, sy kira ini baik. Sebagai pengimbang. Tapi kalau bisa, supaya tak jadi gerutuan yang sia-sia, bisakah ditulis juga menjadi buku. Sehingga pembaca bisa menilai kedua aspek. Supaya juga tak ada dusta di antara orang2 Warsi sendiri.